Industri asuransi umum dan reasuransi mengalami kontraksi premi 4,32% YoY pada April 2026. Strategi pemulihan fokus pada inovasi produk dan digitalisasi. [1,152] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pendapatan premi industri asuransi umum dan reasuransi mengalami kontraksi pada empat bulan pertama 2026. Kontraksi ini menjadi yang pertama setelah tren kenaikan yang berlangsung secara konsisten sejak April 2025 hingga Maret 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi industri asuransi umum dan reasuransi turun sebesar 4,32% (year on year/YoY) menjadi Rp53,43 triliun pada April 2026. Adapun, pada Maret 2026 pertumbuhan premi sudah mengalami perlambatan menjadi sebesar 1,77% YoY.
Menilik data OJK, premi industri asuransi umum dan reasuransi sempat terkontraksi cukup dalam 17,40% YoY pada Januari 2025. Namun, keadaan berbalik positif pada April 2025 dengan pertumbuhan 5,79% YoY menjadi Rp55,84 triliun. Tren positif ini berlanjut hingga Maret 2026 dengan pertumbuhan 1,77% YoY. Setelah itu, pada April 2026 premi turun 4,32% YoY menjadi Rp53,43 triliun.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melihat kontraksi itu dipengaruhi beberapa faktor seperti perlambatan aktivitas ekonomi pada beberapa sektor, penundaan atau pergeseran wakturenewalpolis korporasi besar, tekanan daya beli pada segmen ritel.
“Pelemahan pada sektor pembiayaan yang berdampak pada asuransi kendaraan dan asuransi kredit, serta pengetatan underwriting di beberapa lini usaha yang memiliki rasio klaim tinggi,” kata Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepadaBisnis, dikutip pada Rabu (17/6/2026).
Budi menegaskan bahwa pada asuransi umum, pergerakan premi sangat dipengaruhi oleh siklus bisnis. Lini usaha besar seperti properti, kendaraan bermotor, kredit,marine,engineering, dan proyek infrastruktur memiliki pola pencatatan yang tidak selalu merata setiap bulan.
Sebab itu, dia menilai kontraksi pada April 2026 belum tentu mencerminkan tren setahun penuh. Namun, industri tetap perlu mencermati dinamika pasar, kualitas pertumbuhan premi, dan kecukupan tarif terhadap risiko yang ditanggung.
“Untuk membalikkan keadaan menjadi tumbuh lagi, industri perlu mendorong pertumbuhan yang sehat, bukan sekadar mengejar volume premi. Penguatan dapat dilakukan melalui inovasi produk, perluasan distribusi, digitalisasi proses bisnis, peningkatan literasi dan inklusi asuransi, serta pengembangan produk yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha,” bebernya.
Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama ini menilai produk yang berpotensi mendorong pertumbuhan premi antara lain asuransi properti, kendaraan bermotor,marine cargo,engineering,liability, asuransi kesehatan dengan pengelolaan klaim yang lebih disiplin.
Kemudian, asuransi perjalanan, asuransi mikro,embedded insurance,cyber insurance, asuransi pertanian atauparametric insurance, serta produk yang mendukung transisi energi dan proyek efisiensi energi. Dia mengingatkan, pertumbuhan premi harus tetap diimbangi dengan prinsipunderwritingyangprudent.
“Industri perlu memastikan tarif premi mencerminkan profil risiko, biaya klaim, biaya reasuransi, serta kecukupan cadangan. Dengan begitu, pertumbuhan yang dihasilkan tidak hanya besar secara angka premi, tetapi juga berkelanjutan dan sehat bagi perusahaan maupun pemegang polis,” tegasnya.
Tantangan Industri Asuransi Umum & Reasuransi
Budi melanjutkan, tantangan yang perlu diwaspadai industri adalah tekanan daya beli, volatilitas nilai tukar, kenaikan biaya klaim terutama pada lini kesehatan dan properti, risiko bencana alam, kondisi pasar reasuransi global, serta kebutuhan menjaga kecukupan tarif premi.
Kendati begitu, dia menilaioutlookindustri hingga semester I/2026 tetap memiliki ruang untuk membaik, meskipun pertumbuhannya kemungkinan masih akan moderat dan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, konsumsi masyarakat, penjualan kendaraan, aktivitas perdagangan, proyek infrastruktur, serta permintaan perlindungan dari sektor korporasi.
“Kami tetap optimistis industri asuransi umum dan reasuransi memiliki fundamental yang cukup kuat, terutama karena permodalan masih berada di atas ketentuan minimum,” sebut Budi.
Senada, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) memandang prospek industri asuransi umum dan reasuransi hingga semester II/2026 masih cukup positif, meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan, antara lain dinamika ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, serta perlambatan aktivitas bisnis pada beberapa sektor usaha
“Untuk itu, Asuransi Jasindo akan terus mengedepankan prinsipunderwritingyangprudent, memperkuat manajemen risiko, serta mengoptimalkan peluang pertumbuhan pada segmen-segmen yang memiliki prospek positif, baik di sektor korporasi maupun ritel,” ucap Sekretaris Jasindo, Brellian Gema Widayana kepadaBisnis, Rabu (17/6/2026).
Jasindo, kata Brellian, melihat kontraksi industri sebesar 4,32% YoY pada April 2026 dipengaruhi oleh dinamika perekonomian yang memengaruhi aktivitas bisnis di sejumlah sektor. Kondisi tersebut turut berdampak pada kebutuhan proteksi pada beberapa lini usaha.
“Di sisi lain, industri saat ini juga semakin mengedepankan kualitas pertumbuhan melalui penerapanunderwritingyang lebihprudentdan selektif untuk menjaga profitabilitas, kualitas portofolio, serta keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Meski demikian, lanjutnya, fundamental industri asuransi umum dan reasuransi secara umum masih cukup baik. Hal ini tercermin dari kinerja industri yang tetap menunjukkan ketahanan melalui pengelolaan risiko yang lebih disiplin, kualitasunderwritingyang semakin terjaga, serta perbaikan hasil investasi.
Jurus Dongkrak Pendapatan Premi
Lebih lanjut, Brellian mengungkapkan sederet caranya agar premi bisa tetap terjaga dan bahkan tumbuh. Jasindo terus berfokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas portofolio bisnis
“Karena itu, fokus perusahaan tidak semata-mata pada peningkatan volume premi, tetapi juga pada penciptaan bisnis yang lebih berkualitas dan memberikan nilai tambah secara berkelanjutan,” ucapnya.
Adapun, upaya itu dilakukan melalui penguatan sinergi bisnis dengan mitra-mitra strategis, pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta peningkatan kualitas layanan kepada nasabah. Selain itu, terus memperkuat diversifikasi portofolio bisnis untuk menjaga ketahanan kinerja di tengah dinamika pasar.
Sementara itu, PT Asuransi Asei Indonesia mengungkapkan enam cara untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tantangan ekonomi.Pertama,memperkuat bisnis inti pada asuransi keuangan seperti asuransi kredit,suretybond, dan asuransi perdagangan yang menjadi kompetensi utama perusahaan.
Kedua, memperluas penetrasi sektor ekspor, khususnya pada komoditas dan industri yang masih memiliki prospek positif di pasar internasional.Ketiga, meningkatkan kualitasunderwritingagar pertumbuhan premi tetap diimbangi dengan kualitas risiko yang sehat.
“Keempat, memperkuat kerja sama dengan perbankan, lembaga pembiayaan, dan institusi pemerintah guna menciptakan sumber bisnis yang berkelanjutan,” sebut Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe kepadaBisnis, Rabu (17/6/2026).
Kelima, memanfaatkan digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas akses pasar dankeenam, melakukan diversifikasi portofolio agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor ekonomi tertentu.
“Dengan strategi tersebut, perusahaan tetap optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat hingga akhir tahun, meskipun kondisi ekonomi dan industri masih menghadapi berbagai tantangan,” ujar Dody.
Lebih lanjut, Dody berujar bahwa tekanan terhadap perolehan premi dirasakan oleh sebagian besar pelaku industri, termasuk Asuransi Asei. Namun, dampaknya berbeda pada setiap perusahaan tergantung komposisi portofolio bisnisnya.
Bagi Asei, perlambatan aktivitas ekspor impor dan investasi berpotensi memengaruhi pertumbuhan premi, mengingat perseroan memiliki fokus bisnis pada asuransi keuangan seperti asuransi kredit, penjaminan, dan asuransi terkait perdagangan.
“Lini yang paling sensitif umumnya adalah asuransi kredit perdagangan dan kredit modal kerja, asuransi marine cargo asuransi properti danengineeringyang berkaitan dengan proyek investasi, dan beberapa lini korporasi yang bergantung pada aktivitas perdagangan dan manufaktur,” ungkapnya.
Pengamat asuransi Wahyudin Rahman mengatakan pertumbuhan premi dapat didorong melalui penguatan sektor yang masih berkembang seperti asuransi kesehatan, properti,engineering,marine cargo,cyber insurance, serta perlindungan risiko terkait transisi energi dan ESG
“Selain itu, perluasan penetrasi ke segmen UMKM dan optimalisasi distribusi digital juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan premi,” sebutnya kepadaBisnis, Rabu (10/6/2026).
Wahyudin menilai hingga Semester I/2026, premi industri diperkirakan masih menghadapi tekanan. Tantangan utama yang perlu diwaspadai adalah perlambatan ekonomi global, volatilitas nilai tukar, iklim investasi dan meningkatnya frekuensi bencana alam serta terbatasnya kapasitas reasuransi untuk risiko-risiko tertentu
“Namun secara fundamental, prospek industri masih cukup positif didukung kebutuhan perlindungan yang terus meningkat,” pungkasnya.
Daya beli masyarakat yang lesu mempengaruhi kontraksi premi asuransi jiwa Ciputra Life, meski laba naik. Fokus pada inovasi produk dan layanan. [390] url asal
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per September 2025 premi asuransi jiwa senilai Rp132,85 triliun. Nilai tersebut terkontraksi sebesar 2,06% (year on year/YoY).
“Kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat masih menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kinerja industri asuransi jiwa sampai dengan September 2025,” kata Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso kepadaBisnis, dikutip pada Selasa (18/11/2025).
Hengky menegaskan meskipun ekonomi Indonesia secara makro tetap tumbuh pada kisaran 5%, tetapi berbagai ketidakpastian dan masih tingginya suku bunga perbankan menyebabkan kelesuan daya beli dan pertumbuhan kredit.
Sebab itu, untuk menghadapi tantangan yang ada dia menyebut bahwa Ciputra Life akan fokus dalam melakukan inovasi produk, pengembangan kerja sama dengan mitra-mitra bisnis baik baru maupun eksisting, dan terus meningkatkan layanan kepada pemegang polis.
“Kami optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi dan daya beli pada kuartal terakhir tahun 2025 akan lebih baik, sehingga kami sangat optimistis dapat meraih pendapatan premi yang lebih tinggi pada kuartal terakhir tahun ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya,” ucapnya.
Adapun, Ciputra Life mencatatkan pendapatan premi Rp365 miliar hingga September 2025. Nilai ini setara dengan 83% dari pendapatan premi di periode yang sama tahun lalu. Artinya, premi kuartal III/2025 ini terkontraksi 16,63%.
Meski demikian, Hengky menegaskan laba komprehensif perusahaan pada September 2025 berhasil naik signifikan menjadi Rp77,8 miliar dari Rp37,7 miliar.
“Pendapatan premi Ciputra Life hampir 80% berasal dari kontribusi produk asuransi jiwa kredit [yang merupakan premi asuransi kumpulan], baik untuk melindungi nasabah yang mengambil kredit KPR maupun kredit kendaraan bermotor,” ucapnya.
Lebih jauh, dari sisi produk asuransi jiwa, Ciputra Life melihat adanya pergeseran preferensi para pemegang polis dari produkunit-linkedatau produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) ke produk asuransi tradisional, seperti asuransi kesehatan ataupun jiwa.
“Hal ini tentunya cukup positif, karena esensi utama dari produk asuransi seharusnya terletak pada sisi perlindungan, baik perlindungan jiwa, kesehatan, maupun kecelakaan, bukan pada sisi investasinya,” sebutnya.
Sebagai informasi, kontraksi premi asuransi jiwa tidak hanya terjadi pada September 2025 karena dua bulan sebelumnya pendapatan premi terus terkontraksi.
Per Agustus 2025, premi asuransi jiwa juga turun sebesar 1,21% (YoY). Pada periode ini preminya senilai Rp117,51 triliun. Sementara itu, pada Juli 2025 premi asuransi jiwa turun 0,84% (YoY) menjadi Rp103,42 triliun.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56