Bisnis.com, JAKARTA — Entitas anak PT Buma Internasional Grup Tbk. (DOID) memperpanjang kontrak jasa pertambangan dengan PT Adaro Indonesia (Adaro) hingga 2030. Kontrak ini pun menjamin keberlanjutan operasional perseroan di Tambang Tutupan Selatan, Kalimantan Selatan.
Kontrak baru yang diteken PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) dengan Adaro tersebut akan berlaku mulai 1 April 2026 hingga 31 Desember 2030.
Berdasarkan rincian kontrak, BUMA diproyeksikan bakal menghasilkan pengupasan lapisan tanah penutup sekitar 239 juta bank cubic meter (bcm). Selain volume pengupasan tanah, kontrak tersebut juga menetapkan target produksi batu bara sebesar 44 juta ton sampai dengan akhir 2030.
Jika dirinci secara tahunan, rata-rata volume pengupasan mencapai 50,5 juta bcm dengan rata-rata produksi batu bara sebesar 9,3 juta ton per tahun.
Direktur Utama BUMA Ronald Sutardja mengungkapkan perpanjangan kontrak merupakan pencapaian sekaligus memperkuat kemitraan jangka panjang antara BUMA dan Adaro yang secara historis terjalin selama lebih dari dua dekade.
“Perpanjangan kontrak ini mencerminkan konsistensi kinerja operasional BUMA, serta kapabilitas kami dalam mengelola operasi pertambangan yang kompleks secara teknis dengan standar keselamatan dan keandalan yang tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2025).
Kontrak ini juga diklaim memperkokoh basis pendapatan berdasarkan kontrak grup serta meningkatkan visibilitas kinerja keuangan jangka panjang DOID.
Di sisi lain, BUMA menekankan bahwa aktivitas operasionalnya akan terus dibarengi dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah Tabalong. Fokus utama tanggung jawab sosial perusahaan mencakup sektor pendidikan, kesehatan, serta perlindungan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Terkait dengan kinerja, DOID tercatat membukukan peningkatan rugi bersih sepanjang kuartal III/2025 menjadi US$72,66 juta atau setara Rp1,21 triliun.
Melansir laporan keuangan perseroan, DOID membukukan pendapatan senilai US$1,13 miliar pada Januari–September 2025. Torehan ini turun 16,20% year on year (YoY) dari posisi US$1,34 miliar pada periode yang sama.
Susutnya pendapatan DOID sejalan dengan lemahnya kinerja sejumlah segmen usaha perseroan. Pada segmen penambangan batu bara dan jasa pertambangan, DOID meraih pendapatan sebesar US$1,13 miliar atau turun 16,20% YoY
DOID turut membukukan beban pokok pendapatan yang mengecil menjadi US$1,10 miliar per September 2025, dari posisi US$1,21 miliar.
Meskipun mampu menekan beban pokok pendapatan, DOID tidak kuasa menahan laba bruto yang terkoreksi hingga 79,19% YoY menjadi US$27,22 juta per September 2025, dari posisi US$130,87 juta.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.