Bisnis.com, JAKARTA — Canva memperkenalkan AI Canva 2.0, inovasi terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna untuk mengembangkan ide sekaligus mengeksekusinya dalam satu ekosistem yang terpusat.
Platform asal Sydney ini mengevolusi layanan desain berbasis browser menjadi platform berbasis agen percakapan. AI Canva 2.0 menghadirkan lapisan arsitektur baru yang mendefinisikan ulang seluruh proses kreatif.
Platform ini menghadirkan peningkatan fitur serta kemampuan penyuntingan berbasis perintah. Pengguna dapat membuat atau menyesuaikan karya hanya dengan menjelaskan kebutuhan mereka kepada asisten AI Canva menggunakan bahasa sehari-hari.
"Cukup jelaskan ide, tujuan, atau struktur kasar, dan AI Canva akan menghasilkan desain yang sepenuhnya dapat diedit dengan struktur, merek, dan tata letak sejak awal," tulis manajemen Canva dalam siaran resminya, Jumat (17/4/2026).
Fitur unggulan lainnya adalah Orkestrasi Agen yang memungkinkan AI bekerja sama dengan pengguna. Sistem ini memahami maksud pengguna untuk kemudian memilih dan mengoordinasikan seluruh rangkaian alat Canva guna menghasilkan output yang utuh.
Melalui fitur tersebut, pengguna dapat memberikan perintah kompleks seperti pembuatan rencana kampanye multiplatform. AI Canva akan memproses instruksi tersebut menjadi hasil kerja yang siap untuk dioptimalkan atau langsung dipublikasikan.
Sistem ini juga dilengkapi dengan Kecerdasan Berbasis Objek yang memungkinkan penyuntingan akurat. Pengguna dapat mengubah elemen spesifik seperti gambar atau font tanpa harus memulai proses desain ulang dari awal.
Selain itu, terdapat fitur Memori Lestari yang berfungsi mempelajari preferensi kerja pengguna secara berkelanjutan. Teknologi ini memastikan konsistensi gaya dan identitas merek tetap terjaga secara otomatis pada setiap proyek baru.
"Alat ini akan mempertahankan konteksnya seiring berubahnya ide Anda, membantu bertukar pikiran, dan melakukan iterasi di setiap langkah proses," kata perusahaan.
Canva memperkenalkan fitur Konektor yang menghubungkan berbagai aplikasi produktivitas. Integrasi dengan Slack, Gmail, Google Drive, hingga Zoom memungkinkan AI mengolah transkrip atau email menjadi konten desain.
Inovasi teknologi ini didukung oleh Frontier AI Lab milik Canva melalui divisi Original Research and Exploration (CORE). Riset tersebut menghasilkan model proprietary seperti Proteus, Lucid Origin, dan I2V yang diklaim jauh lebih efisien.
Data internal menunjukkan model baru ini bekerja hingga 7 kali lebih cepat dibandingkan teknologi sebelumnya. Selain itu, biaya operasional model ini tercatat hingga 30 kali lebih hemat dibandingkan alternatif teknologi serupa di pasar.
Canva juga memperluas ekosistemnya melalui kolaborasi strategis dengan Anthropic untuk mengintegrasikan Design Engine ke dalam asisten Claude. Pengguna kini dapat membawa aset dari Claude maupun ChatGPT langsung ke editor Canva.
Khusus untuk pasar Indonesia, Canva menghadirkan fitur Canva Offline yang memungkinkan pengguna tetap berkarya tanpa koneksi internet. Fitur ini dirancang untuk menjawab tantangan aksesibilitas bagi pelaku UMKM dan pelajar di wilayah dengan koneksi terbatas.
Berdasarkan riset Andreessen Horowitz, Canva kini menempati posisi sebagai platform AI ketiga yang paling banyak digunakan secara global. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pengeluaran pelanggan tercepat untuk produk berbasis kecerdasan artifisial di industri perangkat lunak.
Saat ini, AI Canva 2.0 mulai tersedia dalam versi research preview bagi satu juta pengguna pertama. Perusahaan akan memperluas akses tersebut secara bertahap kepada pengguna global dalam beberapa pekan mendatang.