Bisnis.com, MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026 berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Bahkan realisasi pasokan saat ini masih berada jauh di atas proyeksi kebutuhan masyarakat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel Sriyanti Haruni mengatakan bahwa neraca komoditas hewan ternak di wilayahnya mencatatkan surplus yang cukup lebar, baik untuk komoditas sapi, kerbau, maupun kambing.
Komoditas sapi tercatat ada sebanyak 81.875 ekor dengan proyeksi kebutuhan masyarakat berada di angka 57.879 ekor. Kemudian kambing dengan ketersediaan disiapkan hingga 51.639 ekor, jauh melampaui estimasi kebutuhan yang hanya sebesar 4.188 ekor.
Sementara komoditas kerbau, pasokan yang tersedia mencapai 5.354 ekor, berbanding terbalik dengan kebutuhan yang diproyeksikan hanya 41 ekor.
Tingginya angka ketersediaan ini tidak hanya menjamin pasokan untuk pasar domestik Sulsel, tetapi juga memberikan ruang cadangan (buffer stock) yang kuat guna mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang hari-H.
Optimisme ini diperkuat oleh basis produksi yang mandiri. Sebagian besar hewan kurban yang beredar dipasok oleh peternak lokal. Bahkan, ketahanan pangan sektor peternakan yang kokoh membuat Sulsel mampu melakukan ekspansi pasar ke luar pulau.
"Ketersediaan hewan kurban kita menjelang Iduladha didominasi oleh ternak lokal. Malah kita itu mengirim ke daerah tetangga seperti Kalimantan," ungkap Sriyanti Haruni di Makassar, Rabu (20/5/2026).
Sementara itu dari sisi penyerapan pasar, Kota Makassar tercatat sebagai wilayah dengan volume kebutuhan hewan kurban tertinggi di Sulsel, disusul oleh Kabupaten Gowa di posisi kedua, dan Kabupaten Bone di posisi ketiga.
Tingginya permintaan di Makassar dipicu oleh konsentrasi jumlah penduduk yang lebih padat dibanding daerah lain. Untuk memenuhi kebutuhan emiten konsumen di Makassar, pasokan didatangkan dari sejumlah daerah sentra produksi, seperti Kabupaten Sinjai, Gowa, dan Bone.
"Khusus untuk Gowa, mereka cenderung memenuhi kebutuhan dari wilayah sendiri. Sementara itu, Bone merupakan daerah dengan populasi ternak terbesar di Sulsel. Jadi selain untuk memenuhi kebutuhan mandiri, Bone juga memegang peran strategis dalam menyuplai daerah-daerah lain," pungkas Sriyanti.