Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) telah merilis laporan kinerja laba bersih 2025. Lantas bagaimana rekomendasi sahamnya?
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, laba bersih BNI secara konsolidasi mencapai Rp20,11 triliun pada Desember 2025, menyusut 7,19% (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, kinerja BNI sepanjang 2025 bersifat campuran. Dari sisi bisnis inti, BNI mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang kuat, sehingga menunjukkan fungsi intermediasi berjalan agresif dan struktur pendanaan semakin solid.
Namun, Ekky mencatat penurunan laba bersih menandakan adanya tekanan pada profitabilitas. Tekanan tersebut terutama berasal dari meningkatnya biaya dana, tergerusnya margin, serta kebutuhan pembentukan cadangan atau credit cost di segmen tertentu.
“Secara garis besar, operasionalnya kuat, tetapi bagian ‘bottom line’ masih tertekan,” kata Ekky kepada Bisnis, Selasa (3/2/2026).
Memasuki 2026, Ekky memperkirakan BNI akan mengalihkan fokus ke pertumbuhan yang lebih sehat dan stabil. Menurutnya, target pertumbuhan kredit sebesar 8%—10% tergolong realistis karena lebih konservatif dibandingkan 2025.
Sementara itu, lanjut dia, target net interest income (NII) di kisaran 3,5%—3,8% serta credit cost 1,0%—1,2% mencerminkan upaya manajemen menjaga margin dan kualitas aset.
Dari sisi saham, prospek BBNI pada 2026 akan mengikuti kepercayaan pasar terhadap pemulihan laba. Ekky menilai, jika tren pencadangan membaik dan margin lebih stabil, ruang penguatan saham dinilai semakin terbuka.
Kendati begitu, Ekky mengingatkan investor untuk tetap mencermati sejumlah risiko, seperti volatilitas nilai tukar rupiah, potensi kenaikan biaya dana, serta dinamika kualitas aset.
“Jadi, BBNI menarik dicermati sebagai cerita pemulihan bertahap, bukan kenaikan yang lurus tanpa koreksi,” pungkasnya.
***
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.