#30 tag 24jam
Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Bangun Ulang Menjadi Megah
Kisah sahabat nabi Utsman bin Affan merobohkan Masjid Nabawi menaik untuk diketahui. Mengapa dirobohkan dan apa yang dilakukan salah satu khalifah Khulafaur Rasyidin... | Halaman Lengkap [1,036] url asal
#masjid #masjid-nabawi #utsman-bin-affan #khalifah-utsman-bin-affan #keutamaan-masjid-nabawi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/06/26 19:01
v/219722/
Kisah sahabat nabi Utsman bin Affanmerobohkan Masjid Nabawi menaik untuk diketahui. Mengapa dirobohkan dan apa yang dilakukan salah satu khalifah Khulafaur Rasyidin ini?Masjid Nabawi adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Masjid di kota Madinah ini adalah pusat pemerintahan bagi Baginda Nabi SAw. Di tempat inilah, Rasulullah SAW duduk di situ dalam mengatur segala persoalan umum, begitu juga di masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab . Kalau diperlukan musyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, maka diserukan azan bahwa salat sudah siap.
Sesudah orang banyak berkumpul di Masjid, Nabi SAW mengajak mereka bermusyawarah. Musyawarah demikian itu juga yang kemudian dilakukan oleh kedua orang penggantinya. "Juga Utsman meneruskan cara ini," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Akan tetapi, kata Haekal, Utsman belum puas dengan bangunan Masjid itu sebagai pusat pemerintahan, yang juga demikian pada masa Nabi dan kedua Khalifah itu. Malah ia berpendapat akan melengkapi Masjid itu dengan lambang kewibawaan, sehingga dipandang pantas sebagai tempat yang akan mengeluarkan segala ketentuan kepada para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik (Damaskus), Fustat, Kufah dan Basrah.
Masjid Nabawi pada mulanya dibangun sangat sederhana. Dinding dari bata jemur, langit-langit dari pelepah daun kurma dan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Selama enam tahun keadaan Masjid berturut-turut tetap seperti itu. Tak ada yang diubah sementara Islam sudah berkembang dan kota Madinah sudah bertambah makmur dan Allah sudah melimpahkan rezeki kepada penduduknya.
Sesudah Muslimin membebaskan Khaibar dan kota Madinah khusus hanya untuk kaum Muslimin jumlah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah kepada Islam sudah bertambah banyak. Maka mau tak mau bangunan Masjid itu harus diperluas. Nabi sudah menambah luas Masjid seratus meter persegi atau lebih, tanpa mengubah bangunannya yang dari bata jemur, pelepah daun kurma dan batang pohon kurma itu.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar tak ada perubahan kecuali ada dituturkan bahwa kedua dinding Masjid yang sudah rapuh dibangun kembali.
Selama masa Umar bin Khattab, karena jumlah Muslimin di Madinah terus bertambah dan Masjid harus diperluas lagi, maka Umar menambah luasnya, tetapi bangunan Masjid tidak mengalami perubahan. Ia membangun dindingnya seperti yang dibangun oleh Rasulullah dan dasarnya dari batu dengan bata jemur di bagian atasnya, tiang-tiangnya dibuat dari kayu dan langit-langitnya dari pelepah daun kurma.
Pintu Masjid dijadikan enam buah, dan di samping ada tempat yang diberi nama al-Batha'; jika ada orang mau mengucapkan kata-kata atau mau berbicara dengan suara keras, harus keluar ke tempat itu, sehingga tidak menodainya seperti dalam urusan perdagangan atau hal-hal yang tidak semestinya.
Dirobohkan Utsman bin Affan
Sesudah kekhalifahan beralih ke tangan Utsman, maka yang pertama disampaikannya kepada umum ialah rencana perluasan Masjid. Keluhan masyarakat adalah Masjid itu terasa sudah terlalu sempit untuk salat Jumat, setelah penduduk Madinah bertambah dalam jumlah besar, sejalan dengan bertambahnya wilayah-wilayah yang dibebaskan. Utsman bermusyawarah dengan beberapa pemuka dan mereka sepakat untuk merobohkan Masjid itu, lalu membangun kembali dan memperluasnya.Utsman menambah perluasan Masjid itu besar-besaran, namun tidak hanya menambah perluasannya seperti yang dilakukan oleh Umar, melainkan ia mengadakan pembaruan dalam bangunan itu sesuai dengan kecenderungan aspirasinya.
Langkah ini telah menimbulkan keberatan sekelompok jemaah Muslimin ketika itu, yang menginginkan pembangunan Masjid seperti yang dibangun oleh Rasulullah. Tetapi Utsman tidak peduli apa yang mereka katakan.
Ia tidak lagi membaharui Masjid dengan bata jemur, tiang-tiangnya tidak lagi menggunakan kayu dan langit-langitnya juga bukan lagi dari pelepah daun kurma, tetapi seluruh dindingnya dibuat dari batu yang diukir dan tiang-tiangnya dari batu yang dipahat dan mengisinya dengan batang besi, dicor dengan timah serta bagian luarnya diukir dan langit-langitnya dibuat dari kayu bermutu tinggi.
Dengan demikian bangunan Masjid itu dibangun kembali dari dasarnya, beberapa macam hiasan dan ornamen dihilangkan. Dengan demikian tindakannya itu oleh beberapa sahabat Rasulullah dianggap aneh. Mereka mengecamnya, karena telah menyalahi kelaziman Rasulullah dan kedua penggantinya, Abu Bakar dan Umar.
Utsman telah melengkapi Masjid Nabi itu dengan lambang kewibawaan, sebab kini sudah menjadi pusat pemerintahan. Semua perintah dikeluarkan dari sana untuk para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik, di Fustat, Kufah dan Basrah.
Beda dengan Masjidilharam
Haekal mengatakan ketikaUtsman mengadakan perluasan Masjidilharam di Makkah, yang demikian itu tidak dilakukannya. Kakbah sebagai Baitullah, yang ada berdiri di sekitarnya hanyalah sebuah beranda sempit tempat orang salat di sana. Selama masa Nabi dan selama masa Abu Bakar keadaannya tetap seperti itu.Sesudah Islam berkembang dan banyak orang yang menunaikan ibadah haji dan salat di sekeliling Kakbah di masa Umar bin Khattab, ruangan itu sudah terasa sempit sekali. Kemudian orang memasuki Masjid dari pintu-pintu rumah yang ada di sekitarnya.
Ketika itulah rumah-rumah di sekitar Kakbah itu dibeli oleh Umar kemudian dirobohkan dan digabungkan ke daerah suci Masjidilharam dan dipagari dengan tembok rendah.
Di masa Utsman orang datang menunaikan ibadah haji makin banyak lagi, maka Utsman pun mengikuti jejak Umar, membeli rumah-rumah di sekitarnya dan ditambahkan ke lingkungan Kakbah lalu dipagar dengan tembok rendah setinggi orang berdiri, seperti yang dilakukan Umar sebelumnya.
Jadi, kata Haekal, Utsman tidak memperlakukan Masjid di Makkah itu seperti Masjid di Medinah, sebab Masjid yang di Makkah semata-mata hanya untuk ibadah dan salat, sedang Masjid di Madinah sebagai pusat pemerintahan yang sekaligus juga untuk keperluan salat.
Tindakan Utsman membangun kembali Masjid, bukanlah hendak mendorong orang hanyut dalam kehidupan duniawi atau karena ia ingin memperlihatkan kekuasaan. Khalifah tua ini orang yang sangat bertakwa, sangat pemalu dan dengan iman yang sungguh-sungguh.
Pernah ia berkata: "Sekiranya hati kita ini suci, kita tak akan henti-hentinya membaca firman Allah. Saya tidak ingin pada suatu hari saya tidak melihat Mushaf Qur'an."
Ketika kaum pemberontak menyerbu Utsman di rumahnya, mereka menjumpainya ia sedang membaca Qur'an, dan ketika ia meninggal Mushafnya sudah sobek-sobek karena terlalu sering ia merenunginya. Pada hari ketika ia terbunuh itu istrinya Na'ilah berkata kepada mereka yang sedang mengepung rumahnya: "Kalian membunuh dia atau membiarkannya, ia bangun salat di waktu malam satu rakaat dengan merangkum Qur'an."
Kalau Utsman bangun malam untuk keperluan salat ia tidak membanguni siapa pun untuk membantunya berwudu, kecuali ada orang yang sedang terjaga. Sering dikatakan kepadanya: "Mengapa tidak membangunkan pembantu-pembantu itu?" Dia menjawab: "Tidak, dalam malam begini biarlah mereka beristirahat."
Raja Yazdigird Terasing : Runtuhnya Kekuasaan Persia di Tangan Khalifah Utsman bin Affan
Kisah tentang runtuhnya mahkota Raja Persia Yazdigird ini menarik untuk disimak. Bagaimana sebenarnya rangkaian kisah tersebut? Simak dalam ulasan berikut ini.... | Halaman Lengkap [1,140] url asal
#penaklukan-persia #kaisar-persia-yazdigird #persia #khalifah-utsman-bin-affan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/04/26 16:21
v/180263/
Kisah tentang runtuhnya mahkota Raja Persia Yazdigirdini menarik untuk disimak. Bagaimana sebenarnya rangkaian kisah tersebut? Simak dalam ulasan berikut ini.Yazdigird adalah kaisar Persia yang bertahan sampai di era Khalifah Utsman bin Affan. Tatkala pasukan Islam menguasai Persia , ia sedang dalam pelarian dari satu daerah ke daerah lain sampai akhirnya terbunuh di rumah seorang penggali tanah di pesisir Sungai Mirgab.
Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengisahkan tatkala pasukan Muslimin sedang mengibarkan bendera kemenangannya di mana-mana di kawasan Persia,Yazdigird bersembunyi dalam pelarian.
Sumber-sumber mengenai terbunuhnya Yazdigird masih simpang-siur. Kesimpangsiuran ini karena adanya perbedaan tanggal penaklukan daerah-daerah di Persia.
Menurut Haekal, seluruh Persia sudah ditaklukkan di masa Khalifah Umar bin Khattab , dan sesudah itu pernah bergolak dan mengadakan beberapa kali pemberontakan, yang oleh Yazdigird, pemberontakan ini dimanfaatkan dan ia keluar dari tempat perlindungannya di tempat Khaqan Turki.
"Sulit sekali dapat dipastikan tahun berapa ia kembali pada masa Utsman itu. Akan tetapi tak lama sesudah ia kembali ia berusaha memerangi pasukan Arab. Ia menghimpun semua pasukannya untuk melawan musuhnya itu. Namun semua pasukannya tak memberi arti apa-apa buat dia. Ia lari lagi dari Kerman ke Sijistan kemudian ke Khurasan. Di pesisir Sungai Mirgab inilah ia menemui ajalnya," tutur Haekal.
Menurutnya, sumber-sumber itu sepakat bahwa terbunuhnya Yazdigird bukan ketika ia lari dari pengejaran pasukan Muslimin, tetapi ia terbunuh karena berselisih dengan raja-raja dan pembesar-pembesar Persia sendiri.
Sejarawan Balazuri menuturkan bahwa suatu hari Yazdigird sedang duduk-duduk di Kerman, tiba-tiba datang seorang pembesar kota itu dan berkata kepadanya dengan sikap angkuh. Dimintanya ia segera angkat kaki seraya mengatakan: "Anda tak berhak menjadi penduduk daerah kota ini, apalagi mau sebagai raja. Kalau Anda orang baik-baik Anda tidak akan mengalami nasib seperti ini!"
Ketika ia meneruskan perjalanan ke Sijistan ia disambut oleh raja negeri itu dengan penghormatan dan segala kebesaran.
Sesudah berlalu beberapa hari, ketika ia menanyainya mengenai pajak, sikapnya tiba-tiba berubah. Melihat yang demikian Yazdigird pergi ke Khurasan.
Ketika berada di Merv ia diterima oleh Mahuwe, marzaban (penguasa) kota itu, dengan segala kebesaran dan penghormatan. Kemudian Naizak Turkhan datang dan membawanya dengan penuh penghormatan. Dimintanya ia tinggal bersama Naizak selama satu bulan. Ketika kemudian ia pergi dan Naizak menulis surat kepadanya meminta tangan putrinya, Yazdigird merasa tersinggung dan ia berkata:
"Tulislah kepadanya, bahwa Anda hanyalah seorang budak dari budak-budakku, bagaimana Anda berani melamar kepada saya!"
Ia memerintahkan supaya mengusut Mahuwe, marzaban Merv itu dan menanyainya tentang hartanya. Mahuwe menulis surat kepada Naizak menghasutnya dengan mengatakan: "Orang itu, yang datang terusir sebagai pelarian itu, dan Anda sudah bermurah hati kepadanya supaya ia dapat kembali kepada kerajaannya, menulis surat begitu rupa kepada Anda."
Setelah itu mereka bekerja sama dengan rencana hendak membunuhnya. Kemudian Naizak mendatangi orang-orang Turki sampai ia tiba di Janabiz. Bersama-sama dengan pihak Turki itu ia memeranginya. Ia mengalami pukulan berat sehingga banyak anak buahnya yang terbunuh, dan markasnya pun dirampas. Ketika ia pergi ke kota Merv tetapi tidak dibukai pintu ia turun dari kendaraannya dan berjalan kaki sampai ke rumah penggiling tepung di Mirgab itu."
Hari-hari Terakhir Yazdigird
Selanjutnya Balazuri menceritakan terjadinya pembunuhan di rumah penggilingan tepung itu.Sedangkan Tabari mengutip cerita Naizak dan Yazdigird itu lain lagi. Begitu juga cerita-cerita lain yang dikutipnya, yang semuanya berakhir dengan kematian Yazdigird di rumah penggilingan itu. Ikhtisar cerita yang dibawa oleh Tabari tentang Naizak ialah bahwa Yazdigird lari dari pertempuran di Nahawand ke Asfahan, dan boleh jadi penguasanya ketika itu bernama Mityar, yang oleh penduduk Asfahan sangat dihormati, sebab dia sudah berhasil memerangi orang Arab.
Pada suatu hari ketika Mityar bermaksud menemui Yazdigird, oleh pengawalnya ia dicegah. Merasa dihina pengawal itu diterkamnya sehingga ia mengalami luka-luka dan berlumuran darah. Ketika pengawal itu masuk menemui Yazdigird ia merasa ngeri melihat yang demikian.
Setelah mengetahui apa yang telah menimpanya ia merasa sudah tak ada tempat lagi baginya di Asfahan. Dari sana ia pergi ke Sijistan, yang kemudian dilanjutkan terus ke Merv disertai seribu orang perwira. Ketika itu Mahuwe adalah penguasa Merv.
Karena maksud tertentu Yazdigird ingin mengalihkan perhatian para penguasa itu kepada kemenakannya, Sinjan. Tetapi Mahuwe sudah berusaha hendak menjerumuskannya.
Ia menulis surat kepada Naizak Turkhan supaya mereka seia sekata dalam usaha mereka membunuh Yazdigird dan mengadakan perdamaian dengan pihak Arab. Naizak menulis surat kepada Yazdigird bahwa ia akan datang memberikan pertolongan.
Para pembantu Yazdigird itu tertipu, mereka datang menemui Naizak tanpa membawa senjata dan pasukan, karena sudah yakin dan percaya kepadanya.
Sesudah Naizak berada di tengah-tengah pasukannya, ia melamar putrinya untuk bersama-sama dengan dia memerangi musuhnya. Yazdigird marah besar dan memaki Naizak. Maka Naizak pun mengayunkan alat pemukulnya dan Yazdigird terus melarikan diri sampai ke rumah penggiling di Mirgab itu dan di tempat itulah ia dibunuh.
Dalam sumber lain yang dikutip oleh Tabari dari Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Yazdigird lari dari Kerman dan Merv. Kepada penguasa kota itu ia meminta uang tetapi ditolak. Karena penduduk Merv khawatir Yazdigird dengan pasukannya akan menyerbu maka dalam menghadapinya itu mereka meminta bantuan Turki, yang kemudian datang menjemputnya dan dimintanya ia bermalam. Sesudah teman-temannya banyak yang dibunuh Yazdigird lari ke rumah penggilingan di Mirgab tempat dia dibunuh itu.
Haekal mengatakan sumber-sumber sekitar terbunuhnya Yazdigird memang sangat bersimpang-siur, sama dengan pelariannya yang juga serba simpang-siur.
Yazdigird tidak meninggalkan anak keturunan yang mungkin dapat menyatukan orang kepadanya, atau mengumumkan bahwa dia adalah ahli waris yang sah untuk menduduki takhta. Raja yang sejak dinobatkan sudah 24 tahun menduduki takhta hingga terbunuhnya itu, hanya 4 tahun pertama menikmati kedudukan sebagai raja.
Setelah itu selama 20 tahun yang sangat meletihkan ia selalu menjadi pelarian dari pasukan Arab yang memburunya terus-menerus dari satu daerah ke daerah lain. Mereka memaksanya meninggalkan negerinya. Ia berusaha meminta bantuan Turki atau Cina. Tetapi Turki kemudian mengusirnya karena khawatir akan diserbu oleh pihak Arab di sarangnya sendiri.
Jadi kalau sudah memang demikian dengan kematiannya yang begitu tragis, sudah selayaknya dengan terbunuhnya itu kewibawaan raja pun akan jatuh di mata setiap orang Persia.
Setiap pembesar daerah merasa senang ketika Muslimin tinggal bersama mereka, dan kekuasaan akan tetap di tangan mereka seperti pada masa raja-raja Kisra dulu. Hanya masalah-masalah kedaulatan secara umum saja yang pimpinannya masih di tangan orang Arab.
Para sejarawan itu menyebutkan bahwa sebelum meninggalnya Yazdigird pernah berhubungan dengan seorang perempuan bernama Biru dan sesudah kematiannya ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Makhdaj dan hidup sampai berusia lanjut, dan bahwa Makhdaj ini mempunyai beberapa anak di Khurasan, di antara mereka ada dua orang gadis, yang salah seorang di antaranya oleh Hajjaj bin Yusuf dikirimkan kepada Walid bin Abdul-Malik.
Anaknya, Yazid bin Abdul-Malik adalah keturunan dari salah seorang dari mereka itu. Jadi wajar saja, bahwa Makhdaj ini, atau keturunannya, tak dapat menjadi pembela Persia yang akan dapat menyatukan orang kepadanya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56