Bisnis.com, JAKARTA— Persatuan Insinyur Indonesia (PII) memberikan rekomendasi tiga solusi sebagai langkah-langkah pengurangan risiko bencana banjir dan tanah longsor, menyusul bencana banjir bandang di Sibolga, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Ketua Bidang Kebencanaan dan Perubahan Iklim (BKPI) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wayan Sengara menyatakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) banjir memerlukan suatu kajian risiko yang bersifat holistik.
“Hasil kajian risiko yang bisa sifatnya site-specific kawasan dituangkan dalam langkah-langkah dan strategi-strategi yang melibatkan kombinasi restorasi ekosistem, langkah-langkah rekayasa, dan perubahan kebijakan,” kata Prof. I Wayan Sengara, dalam keterangan resmi, Senin (1/12/2025).
Menurut I Wayan Sengara.yang juga guru besar Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, banjir dan banjir bandang dalam beberapa hari terakhir di beberapa wilayah di Sumatra antara lain karena kondisi lereng dengan tingkat kerentanan yang tinggi. Hal itu berkontribusi pada kelongsoran lereng pada saat kondisi curah hujan tinggi.
“Kelongsoran dan erosi di dataran tinggi lalu menyebabkan terjadinya aliran tanah dan material di permukaan (debris-flow) yang selanjutnya sampai ke dataran rendah menjadi banjir bandang (flash flood) dan luapan sungai, sehingga berdampak pada kawasan permukiman,” ujarnya.
Wayan Sengara menjelaskan peningkatan kerentanan lereng dapat terjadi akibat perubahan dari kondisi alamiah lereng dengan meningkatnya kadar air dalam tanah bahkan sampai tingkat jenuh, yang akhirnya menurunkan kekuatan geser (shear-strength) tanah pada lereng.
Perubahan atau pengurangan vegetasi (pepohonan) pada lereng meningkatkan aliran air dalam tanah saat hujan, yang selanjutnya menyebabkan longsor lereng dan erosi tanah permukaan lereng.
Stabilitas lereng menurun dengan berkurangnya atau hilangnya akar vegetasi yang secara alamiah memberikan perkuatan pada lereng serta juga mempertahankan kadar air dalam tanah.
Berkurangnya vegetasi juga menyebabkan berkurangnya infiltrasi air tanah dan akhirnya meningkatkan aliran air permukaan (surface run-off), yang akhirnya juga menyebabkan meningkatnya erosi kawasan hulu.
“Berkurangnya vegetasi berkontribusi utama dalam meningkatkan kerentanan lereng alami. Tingginya curah hujan, yang dapat juga merupakan dampak dari perubahan iklim, dapat menambah debit aliran air dari kondisi normal alamiah sebelumnya selama ini. Perubahan keseimbangan ekosistem kawasan di hulu akhirnya berdampak pada keseimbangan hidrologis di dataran rendah,” kata I Wayan Sengara.
Dalam kaitan itu PII merekomendasikan tiga solusi mengurangi risiko bencana banjir. Pertama, solusi berbasis alam. Kedua, langkah-langkah rekayasa dan struktural dan ketiga, solusi kebijakan, tata kelola, dan keterlibatan masyarakat.
“Solusi berbasis alam dapat berupa reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan penyerapan air, dan memperlambat aliran air permukaan. Selain itu melestarikan dan memulihkan hutan dan vegetasi alami di sepanjang tepian sungai dan lereng bukit untuk mengurangi erosi dan membantu mengelola aliran air, bertindak sebagai penyangga alami terhadap banjir dan tanah longsor,” katanya.
Untuk wilayah perkotaan, diperlukan juga penghijauan, infrastruktur hijau dengan penanaman strategis dan atap hijau membantu mengelola air hujan dengan menahan curah hujan dan mengupayakan air meresap ke tanah, untuk mengurangi aliran air permukaan ke sistem drainase.
Solusi kedua berupa langkah-langkah rekayasa dan struktural, adalah penambahan pembangunan infrastruktur fisik berupa stabilisasi lereng seperti dinding penahan tanah di kawasan permukiman untuk memberikan perlindungan tambahan.
Selain itu, penambahan sistem drainase yang lebih baik dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti banjir kanal dan tanggul dinding penahan banjir .
I Wayan Sengara menambahkan, rekomendasi ketiga adalah solusi kebijakan, tata kelola, dan keterlibatan masyarakat yang meliputi penataan ulang kawasan berbasis bahaya banjir (floods hazard-based spatial planning).
“Perencanaan didasarkan pada zonasi tata guna lahan hasil kajian risiko yang telah mempertimbangkan hazard, kerentanan, dan tingkat risiko yang ada. Strategi umumnya adalah berupa pembatasan dan pencegahan pembangunan di dataran risiko tinggi longsor dan banjir,” katanya.
Selain itu, yang juga sangat penting adalah sistem pemantauan dan peringatan dini yang berbasis rekayasa dan berbasis masyarakat untuk penyelamatan jiwa manusia dengan penyusunan mekanisme evakuasi dan respons yang tepat waktu
Sementara itu Anggota BKPI- PII yang juga Ahli Kegunungapian Surono memberikan rekomendasi untuk mengurangi potensi longsor di kawasan permukiman di lereng. Pertama, terasering pada lereng sedang hingga curam, sehingga meminimalkan tambahan beban bangunan pada lereng.
Kedua, meminimalkan pembangunan pemukiman di atas, pada, dan di bawah lereng sedang hingga terjal. Ketiga, tidak membangun pemukiman di bantaran sungai. Keempat, menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam pada lahan dengan lereng sedang hingga terjal.
Surono yang baru saja terpilih menjadi Anggota Dewan Energi Nasional ini juga memberikan saran pengurangan risiko bencana longsor.
“Guna menghindari terlanda bencana longsor, masyarakat bisa mengenali tanda-tanda secara dini, antara lain bila tampak tanaman yang biasanya secara seragam tegak, namun terjadi perubahan, miring atau condong ke arah tertentu. Tiang listrik yang biasanya tegak, teramati berubah miring atau condong ke arah tertentu,” katanya.
Demikian pula bila teramati adanya retakan tanah, memanjang, segera ditutup dengan tanah dan dipadatkan agar air hujan tidak masuk ke dalam tanah. Begitu pun bila retakan telah ditutup tanah, namun muncul retakan baru dan bertambah panjang, segera melapor ke aparat setempat dan lakukan pengungsian.
Untuk mengenali tanda-tanda yang dapat digunakan sebagai peringatan dini akan terjadinya banjir bandang secara dini disarankan antara lain, masyarakat bermukim di lembah, atau di bawah bukit atau pegunungan, bila teramati atau tampak adanya hujan di atas perbukitan, amati sungai yang berhulu di perbukitan atau gunung yang dimaksud.
Bila teramati air yang mengalir biasanya jernih tetapi tiba-tiba keruh, hindari kawasan bantaran sungai tersebut. Masyarakat agar segera mengungsi jika debit aliran air semakin besar dan semakin keruh.
Selanjutnya untuk menghindari banjir bandang dari sungai dengan kemiringan aliran sedang hingga terjal, pada saat debit aliran sungai kecil, lakukan pemeriksaan sungai.
Bila terdapat bendung alam, seperti kayu yang melintang terdapat banyak tumpukan sampah alami seperti daun dan ranting, atau bendung alam dari batuan atau lumpur, segera lakukan pembedahan bendung alam tersebut.