Bisnis.com,JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan alasan keterlambatan groundbreaking proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Adapun Proyek Titan itu emuala dijadwalkan melakukan groundbreaking pada Oktober 2025.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika menuturkan, hingga saat ini kesepakatan antara Huayou dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam belum menemukan titik temu.
Menurutnya, Huayou dan Antam masih berunding terkait kelanjutan Proyek Titan. Dalam proyek ini, Antam akan berperan sebagai pemasok bahan baku baterai EV berbasis nikel atau nikel mangan kobalt (NMC).
"Ada beberapa kerja sama antara Antam dengan Huayou masih belum inilah, sampai sekarang masih dalam kajian, enggak secepat seperti yang kita bayangkan," tutur Erani di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (21/1/2026).
Kendati, pria yang juga menjabat Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional itu menyebut, pengemabngan Proyek Titan hingga sat ini masih berlanjut.
Namun, dia mengamini Antam dan Huayou memerlukan waktu yang lebih panjang untuk merampungkan kesepakatan kerja sama. Erani pun mengaku belum mengetahui secara persis kesepakatan apa yang masih belum menemui titik temu antara kedua perusahaan itu.
"Saya masih belum tahu pasti ya di titik mana belum selesai atau finalisasinya kerja sama di antara mereka itu," ucapnya.
Hingga saat ini, kata Erani, Kementerian ESDM pun belum menetapkan target baru untuk jadwal groundbreaking Proyek Titan. Namun, dia menegaskan agar proyek itu segara dieksekusi.
"Mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Karena kan sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan," tutur Erani.
Asal tahu saja, Huayou sebelumnya menggantikan posisi LG Energy Solution Ltd. yang hengkang dari proyek tersebut. LG sebelumnya berkomitmen untuk berinvestasi senilai US$9,8 miliar atau setara Rp160,8 triliun (asumsi kurs Rp16.413 per US$) pada Proyek Titan dan Omega.
Adapun, Proyek Titan mencakup investasi pada proyek pertambangan nikel, smelter HPAL, pabrik prekursor/katoda, sementara Proyek Omega mencakup manufaktur sel baterai.
Kementerian ESDM mengungkapkan Proyek Titan itu bakal berlokasi di Maluku Utara dan ditargetkan rampung pada akhir 2027.