Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga hewan kurban mulai terjadi di sejumlah daerah menjelang Iduladha 2026 meski pemerintah memastikan stok nasional dalam kondisi surplus.
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat potensi ketersediaan hewan kurban nasional tahun ini mencapai 3,24 juta ekor, sementara kebutuhan diperkirakan sekitar 2,35 juta ekor. Dengan kondisi tersebut, terdapat surplus sekitar 891.320 ekor.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda menegaskan kondisi pasokan hewan kurban nasional berada dalam kondisi aman.
“Secara nasional kondisi ketersediaan hewan kurban aman, cukup, dan terkendali,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Harga Mahal
Meski stok melimpah, harga hewan kurban di lapangan mulai bergerak naik, terutama sapi jenis tertentu. Pedagang hewan kurban di kawasan Karet, Jakarta Pusat, Oki, mengatakan kenaikan terutama terjadi pada sapi jenis Limousine akibat meningkatnya ongkos distribusi dan transportasi.
Menurut dia, kenaikan harga sapi mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per ekor. Sementara sapi lokal seperti sapi Bali dan sapi Madura harganya relatif stabil.
“Kenaikannya karena akomodasi, kenaikan bensin, sewa truk. Akhirnya naik semua,” ujarnya saat ditemui Bisnis, Selasa (19/5/2026).
Dia mengatakan distribusi ternak dari daerah sentra produksi seperti Wonosobo menuju Jakarta kini membutuhkan biaya lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan tarif transportasi membuat harga jual di tingkat konsumen ikut terdorong.
Situasi serupa terjadi pada kambing dan domba. Meski kenaikannya tidak sebesar sapi, ongkos logistik tetap menjadi faktor utama pembentuk harga.
Di sisi lain, permintaan hewan kurban disebut belum menunjukkan lonjakan signifikan dan diperkirakan baru meningkat mendekati hari raya Iduladha.
Masalah Distribusi
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai kenaikan harga hewan kurban saat ini memang lebih dipengaruhi persoalan distribusi ketimbang pasokan.
Menurut dia, kebutuhan hewan kurban nasional tahun ini diperkirakan sekitar 2,1 juta hingga 2,3 juta ekor, sedangkan stok berada di atas 3 juta ekor. Namun harga sapi tetap naik sekitar 5% hingga 15% akibat lonjakan permintaan musiman menjelang Iduladha.
“Faktor terbesar pembentuk harga saat ini adalah rantai perdagangan yang panjang dan biaya distribusi tinggi,” katanya saat dihubungi Bisnis.
Rizal menyebut selisih harga dari tingkat peternak hingga konsumen bahkan bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp7 juta per ekor sapi. Margin besar tersebut dinilai lebih banyak dinikmati rantai perdagangan dibanding peternak rakyat.
Selain logistik, tekanan biaya juga datang dari mahalnya harga pakan ternak. Pelemahan rupiah membuat sejumlah bahan baku pakan impor menjadi lebih mahal sehingga meningkatkan biaya pemeliharaan ternak.
Kondisi tersebut memperlihatkan kenaikan harga hewan kurban tidak sepenuhnya mencerminkan keuntungan yang diterima peternak. Sebagian besar tekanan justru berasal dari biaya distribusi dan rantai tata niaga yang panjang.
Rizal juga melihat pasar kurban tahun ini mulai mengalami perubahan perilaku konsumen. Kelas menengah dinilai lebih selektif dalam membeli hewan kurban akibat tekanan biaya hidup.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pasar kurban menjadi lebih tersegmentasi. Permintaan mulai bergeser ke hewan dengan harga lebih terjangkau dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah menilai dampak kenaikan harga hewan kurban dan pelemahan rupiah terhadap harga hewan kurban relatif terbatas karena mayoritas ternak berasal dari produksi lokal.
Agung mengatakan hewan kurban di Indonesia sebagian besar lahir dan dipelihara di dalam negeri, terutama di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Perlu ditegaskan bahwa hewan kurban ini mayoritas hewan ternak yang lahir dan dipelihara di Indonesia. Jadi kaitannya dengan kurs tidak terlalu besar,” ujarnya.
Meski demikian, dia mengakui pelemahan rupiah tetap memberi tekanan tidak langsung melalui kenaikan harga bahan bakar dan ongkos distribusi.
Menjelang Iduladha, distribusi ternak dari daerah surplus menuju wilayah dengan permintaan tinggi seperti Jakarta menjadi penentu utama pembentukan harga di pasar.
Momentum kurban juga menjadi periode penting bagi peternak karena ternak telah dipelihara selama satu hingga dua tahun. Karena itu, musim Iduladha diharapkan menjadi masa panen bagi pelaku usaha peternakan rakyat.
Namun di tengah surplus stok nasional, kenaikan harga yang tetap terjadi menunjukkan persoalan tata niaga ternak masih menjadi tantangan utama. Selama distribusi dan rantai perdagangan belum efisien, harga hewan kurban berpotensi tetap tinggi meski pasokan melimpah.