Digital Realty Bersama memproyeksikan kebutuhan data center AI di Indonesia meningkat dua kali lipat tahun ini, mencapai 1.000 MW, meski masih tertinggal dari negara tetangga. [634] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Digital Realty Bersama, perusahaan patungan (joint venture) penyedia solusi infrastruktur data center, kolokasi, dan interkoneksi, memperkirakan pertumbuhan data center yang siap dukung kecerdasan buatan (AI) meningkat hingga dua kali lipat pada tahun ini.
Saat ini kapasitas data center AI yang telah terpakai diprediksi sekitar 500 megawatt (MW). Artinya, akan ada peningkatan lagi menjadi 1.000 MW.
Director Business & Commercial Digital Realty Bersama Andha Yudha Permana, mengatakan perkembangan ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Johor Bahru, Malaysia, yang lebih dulu mengalami booming AI dengan kapasitas mencapai lebih dari 1.000 MW.
Yudha menjelaskan sebagian besar data center yang mengadopsi AI di Indonesia justru berada di luar Jakarta, seperti di Cibitung, Karawang, dan kawasan lainnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lahan dan struktur bangunan di dalam kota yang tidak mendukung kebutuhan infrastruktur AI.
“Untuk menjalankan AI workload dibutuhkan ruang yang besar. Satu rack GPU beratnya bisa mencapai sekitar 2 ton, sehingga jika ditumpuk ke atas akan terlalu berat,” jelas Yudha dalam acara media gathering eksklusif di fasilitas data center CGK11, Rabu (22/4/2026).
Dia juga menambahkan, kapasitas 500 MW tersebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat pada akhir tahun ini seiring dengan meningkatnya permintaan.
Sementara itu, data center yang berada di dalam kota seperti Jakarta akan lebih difokuskan untuk melayani pelanggan enterprise, seperti sektor perbankan dan layanan keuangan yang membutuhkan latensi rendah.
“Kenapa harus di dalam kota? Karena membutuhkan latensi yang rendah,” ujarnya.
Latensi rendah menjadi krusial agar aplikasi dapat berjalan dengan cepat. Lokasi data center yang dekat dengan pengguna akan meningkatkan kualitas pengalaman pengguna, terutama untuk layanan yang bersifat real time.
Secara umum, prospek bisnis data center di Indonesia kini mulai bergeser ke workload besar, khususnya kebutuhan di atas 20 kilowatt yang hampir pasti digunakan untuk AI. Selain itu, sekitar 60% pengguna baik individu maupun perusahaan telah mulai mengadopsi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Chief Financial Officer Digital Realty Bersama Krishna Worotikan, menyebutkan tantangan utama terletak pada ketersediaan daya listrik dan kesiapan infrastruktur untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan.
Kebutuhan daya untuk AI jauh lebih besar dibandingkan komputasi tradisional. Selain konsumsi listrik yang tinggi, data center AI juga memerlukan sistem pendinginan yang lebih canggih, seperti liquid cooling.
“AI compute power itu bisa sampai sepuluh kali lipat dibandingkan komputasi tradisional,” ujar Krishna.
Di negara yang lebih maju, AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, tetapi juga telah dimanfaatkan dalam proses kreatif hingga pengambilan keputusan.
Sementara di Indonesia, adopsi AI masih berada pada tahap awal dengan tingkat kepercayaan yang belum sepenuhnya tinggi. Oleh karena itu, edukasi pasar menjadi penting agar pemanfaatan AI dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas.
Tingkat Utilisasi dan Rencana Ekspansi
Dari sisi operasional, fasilitas data center Digital Realty Bersama di CGK11 memiliki kapasitas total 5 MW dengan tingkat utilisasi saat ini sekitar 60%. Melihat tingginya permintaan, perusahaan berencana melakukan ekspansi dengan menambah kapasitas sekitar 27 MW di area yang telah disiapkan.
Terkait kesiapan AI, infrastruktur yang ada pada dasarnya sudah mampu mendukung kebutuhan tersebut termasuk penggunaan GPU, meskipun masih memerlukan beberapa penyesuaian.
Data center ini mulai dibangun pada 2023 dan rampung pada Oktober 2024, di mana pada saat itu fokus teknologi masih pada layanan public cloud dan hyperscaler. Adopsi AI khususnya layanan GPU, saat itu masih berada pada tahap awal.
Ke depan, fasilitas ini akan ditingkatkan menjadi AI ready dengan waktu penyesuaian sekitar empat bulan. Perubahan utama terletak pada sistem pendinginan, di mana kebutuhan daya AI berkisar antara 20 hingga 100 kilowatt per rack.
Karena itu, sistem pendinginan tidak lagi menggunakan AC konvensional, melainkan liquid cooling yang mampu mendinginkan hingga ke tingkat chip dengan cairan yang mengalir langsung di dalam rack.
Dalam aspek keberlanjutan, Digital Realty Bersama juga telah bekerja sama dengan PLN dan memperoleh Renewable Energy Certificate (REC). Sertifikat ini menjamin sumber listrik yang digunakan berasal dari energi ramah lingkungan. (Nur Amalina)
IDPRO memproyeksikan kebutuhan data center Indonesia tumbuh 45% pada 2026, didorong adopsi AI dan otomatisasi industri, dengan peningkatan kapasitas listrik hingga 400 MW. [474] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) memperkirakan kebutuhan kapasitas pusat data (data center) di Indonesia pada 2026 akan tumbuh sekitar 35%–45% dibandingkan 2025.
Proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif, otomatisasi industri, serta kebutuhan pengolahan data secara real-time.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan, secara lebih spesifik, kebutuhan kapasitas listrik (power demand) industri pusat data diprediksi meningkat hingga 300–400 megawatt (MW) dalam 1–2 tahun ke depan.
“Ini didorong oleh permintaan hyperscale dan edge data center yang mendukung aplikasi AI,” kata Hendra saat dihubungi Bisnis, Rabu (31/12/2025).
Data resmi PT PLN (Persero) mengindikasikan bahwa pada 2030 kapasitas industri pusat data di Indonesia akan mencapai 2,3 gigawatt (GW). Namun, Hendra menilai proyeksi tersebut belum sepenuhnya memasukkan faktor penggunaan AI, khususnya server berbasis GPU yang membutuhkan daya per rak (power per rack) sangat besar, bahkan dapat mencapai 135 kilowatt (kW) untuk GPU GB200.
Hendra menyebut IDPRO melihat adopsi dan pemanfaatan AI berlangsung secara masif di berbagai sektor, baik swasta maupun publik, yang pada akhirnya akan mendorong lonjakan kebutuhan kapasitas dan kapabilitas pusat data di Indonesia.
AI membutuhkan infrastruktur dengan kinerja komputasi tinggi (high performance computing/HPC), latensi rendah, serta kapasitas penyimpanan data berskala besar, terutama untuk keperluan pelatihan (training) model.
Secara umum, lanjut Hendra, infrastruktur pusat data nasional terus berkembang dan menunjukkan kesiapan untuk menopang beban kerja AI, terutama dengan masuknya investor dan operator global, serta ekspansi pemain lokal.
“Beberapa anggota IDPRO juga sedang membangun AI ready data center,” kata Hendra.
Meski demikian, Hendra menilai tantangan masih cukup besar, terutama terkait peningkatan kapasitas daya, sistem pendinginan, dan konektivitas berlatensi rendah yang dibutuhkan oleh beban kerja AI.
Menurutnya, sejumlah penyedia layanan pusat data sudah mulai mengadopsi server GPU dan arsitektur khusus untuk AI workload, meskipun implementasinya masih dilakukan secara bertahap.
Hendra mengatakan kapasitas dan keandalan pusat data di Indonesia saat ini relatif memadai untuk mendukung tahap awal adopsi AI, tetapi belum sepenuhnya ideal untuk skala masif. Sebagai perbandingan, proyek pusat data AI berskala besar seperti Stargate di selatan Houston membutuhkan daya dan sistem pendinginan yang jauh lebih tinggi dibandingkan beban kerja konvensional.
Di sisi lain, sejumlah pusat data di Indonesia telah mengantongi sertifikasi Tier III dan Tier IV dengan tingkat uptime tinggi serta redundansi daya yang memadai. Namun, ketersediaan energi bersih dan berkelanjutan (renewable energy) masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025, porsi energi terbarukan ditargetkan meningkat hingga 76%, yang dinilai menjadi angin segar bagi industri pusat data di Indonesia. Hendra mengatakan pemerintah melalui berbagai inisiatif energi hijau, bersama penyedia pusat data, juga mulai menjajaki skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (solar farm) dan hidro.
“Namun implementasinya butuh dukungan regulasi yang lebih progresif. Pertamina Geothermal juga sudah commit untuk menyuplai green energy ke industri DC di tanah air,” katanya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56