Bisnis.com, BANDA ACEH — Ketegangan antara Donald Trump dan Emmanuel Macron kembali memanas seiring ancaman tarif dagang dan perbedaan sikap tajam terkait isu Greenland serta arah hubungan transatlantik.
Perseteruan ini mencuat setelah Trump secara terbuka mengancam sekutu Eropa dengan tarif tinggi dan menyerang Macron melalui media sosial. Respons keras dari Prancis dan negara Eropa lainnya menandai memburuknya hubungan politik dan ekonomi lintas Atlantik.
“Ancaman tarif tidak diterima dan tidak memiliki tempat dalam konteks ini,” tegas Macron dalam unggahan di X, seraya menekankan komitmen Prancis terhadap kedaulatan negara, termasuk Greenland dan Ukraina, Rabu (21/1/2026).
Isu Greenland menjadi pemicu utama eskalasi konflik. Trump secara sepihak mengenakan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa yang mengirim personel militer ke wilayah tersebut. Ancaman kenaikan menjadi 25% pada Juni 2026.
Dalam pernyataan resminya yang diunggah akun Gedung Putih, Trump menyebut kehadiran militer Eropa di Greenland sebagai tindakan berbahaya bagi keamanan dunia. Trump juga kembali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan nasional.
Langkah Trump menuai penolakan luas di Eropa. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark dan masa depannya ditentukan oleh Denmark serta penduduk setempat. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memperingatkan bahwa kebijakan tarif tersebut berpotensi merusak hubungan transatlantik.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump menyerang Macron secara personal. Menurut laporan Bloomberg, Selasa (20/01/2026), Trump mengecam Macron karena menolak undangan untuk mendukung inisiatif perdamaian barunya dan mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis.
“Tidak ada yang mau dia [Macron] karena dia akan segera meninggalkan jabatannya,” ujar Trump kepada wartawan, seraya menyatakan bahwa tarif tinggi akan memaksa Prancis mengikuti keinginannya.
Trump juga mempublikasikan pesan pribadi dari Macron yang mempertanyakan sikap AS terhadap Greenland. Dalam pesan itu, Macron menyatakan tidak memahami langkah Trump dan mengusulkan pertemuan multilateral yang melibatkan Ukraina, Suriah, Denmark, dan Rusia.
Di tengah konflik ini, Trump mendorong pembentukan “Board of Peace”. Sebuah forum yang awalnya dirancang untuk rekonstruksi Gaza namun berkembang menjadi alat diplomasi global versinya sendiri. Trump disebut ingin menjadi ketua perdana dengan kewenangan penuh atas keanggotaan, termasuk kontribusi dana besar dari negara peserta.
Macron menolak bergabung dengan forum tersebut. Dia menilai mandat badan itu melampaui isu Gaza dan berpotensi melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sikap serupa diambil oleh sejumlah negara Eropa lain serta Kanada.
Fox News, Selasa (20/01/2026), melaporkan bahwa Trump membenarkan keputusannya mempublikasikan pesan pribadi Macron dan Sekjen NATO Mark Rutte sebagai bentuk transparansi dan tekanan politik. Langkah ini justru memicu kekhawatiran di Eropa tentang runtuhnya kepercayaan antar sekutu.
Perselisihan Trump dan Macron kini mencerminkan krisis yang lebih luas dalam hubungan AS–Eropa. Ketegangan soal Greenland, tarif dagang, dan arah diplomasi global menempatkan masa depan kerja sama transatlantik dalam posisi yang semakin rapuh.