Bisnis.com, JAKARTA — Premi asuransi umum dan reasuransi pada kuartal I/2026 masih tumbuh, tetapi lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan pada periode itu premi tumbuh 1,77% (year on year/YoY) menjadi Rp41,24 triliun.
Perlambatan itu terlihat dari tren pertumbuhan premi sejak awal tahun. Pada Januari 2026, premi tercatat tumbuh 17,92% YoY menjadi Rp18,42 triliun, lalu melambat pada Februari 2026 dengan pertumbuhan 7,41% YoY menjadi Rp29,98 triliun.
Merespons hal itu, PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) melihat perlambatan pertumbuhan terutama dipengaruhi oleh kondisi pasar yang masih cukup selektif, baik dari sisiunderwritingmaupunappetiterisiko.
“Selain itu, terdapat penyesuaian kapasitas dan pricing pada beberapa lini bisnis tertentu, khususnya yang memiliki volatilitas klaim tinggi,” ucap Presiden Direktur Tugure, Teguh Budiman kepadaBisnis, dikutip pada Selasa (12/5/2026).
Di sisi lain, lanjutnya, beberapa sektor usaha riil juga masih melakukan efisiensi dan penyesuaian aktivitas bisnis pada awal tahun. Dengan demikian, hal itu berdampak terhadap pertumbuhan premi baru.
“Meski demikian, secara umum industri masih menunjukkan resiliensi karena premi tetap tumbuh positif secara tahunan,” tegasnya.
Dikatakan Teguh, secara umum Tugure masih mencatatkan tren premi yang cukup terjaga pada awal 2026. Kontributor utama portofolio masih berasal dari lini bisnis properti,engineering,marine cargo, serta beberapa bisnistreatyreasuransi yang selama ini menjadicore businessperusahaan.
Selain itu, ujarnya, perusahaan juga terus mendorong penguatan portofolio yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui selektivitasunderwritingdan pengelolaan risiko yang lebih disiplin.
Untuk terus bisa mendongkrak premi hingga semester I/2026, Tugure akan fokus pada penguatan bisnis inti, optimalisasi hubungan dengan mitra strategis, serta memperluas penetrasi pada segmen-segmen yang masih memiliki potensi pertumbuhan.
Kemudian, perusahaan juga terus mendorong pengembangan produk dan layanan berbasis kebutuhan pasar, memperkuat kualitasunderwriting, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi dan analitik data, guna mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data.
“Di saat yang sama, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola risiko yang baik agar pertumbuhan premi dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ucap Teguh.
Kendati demikian, Teguh tidak menampik masih ada tantangan yang perlu dihadapi saat ini, di antaranya intensitas persaingan pasar yang ketat serta meningkatnya prinsip kehati-hatian dalam akuisisi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pasalnya, kondisi makroekonomi ini secara tidak langsung turut memengaruhi aktivitas bisnis dan investasi.
“Selain itu, industri juga menghadapi tantangan terkait peningkatan ekspektasi terhadap kualitas layanan, kebutuhan digitalisasi, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas portofolio agar tetap sehat dalam jangka panjang,” tutupnya.