Bisnis.com, MATARAM – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat secara kumulatif sejak H-10 hingga H-3, total penumpang mencapai 457.611 orang atau tumbuh 7,2% dibandingkan periode mudik Lebaran 2025.
Total kendaraan 146.447 unit atau tumbuh 8,8%. Selama 24 jam periode 18 Maret 2026, tercatat total penumpang mencapai 74.213 orang atau naik 65,2% dibandingkan tahun lalu.
Kendaraan roda dua tercatat 14.659 unit atau tumbuh 44,5%, roda empat 7.260 unit, tumbuh 87,7%, bus 585 unit, tumbuh 51,2%, dan truk 1.051 unit, tumbuh 139,4%. Total kendaraan mencapai 23.555 unit atau meningkat 58,8%.
Lonjakan arus kendaraan yang melampaui 40% menjelang penutupan lintasan saat Hari Raya Nyepi turut memberikan tekanan signifikan terhadap kapasitas layanan. Dinamika lalu lintas di luar kawasan pelabuhan juga berkontribusi terhadap panjang antrean pada periode sebelumnya.
Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Yossianis Marciano, menjelaskan bahwa angka ini menegaskan bahwa lonjakan mobilitas tetap dapat diimbangi dengan penguatan kapasitas layanan yang adaptif.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan arus kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk kini telah kembali stabil dan terkendali, menyusul keberhasilan penguraian antrean hingga nol kilometer sebelum penghentian operasional penyeberangan dalam rangka Hari Raya Nyepi.
Momentum penting terjadi pada Rabu (18/3), di mana antrean kendaraan berhasil ditekan hingga 0 km tepat sebelum penghentian sementara operasional penyeberangan. Per pukul 22.20 WITA, tidak lagi ditemukan antrean kendaraan di area tollgate pelabuhan.
Menurutnya, capaian ini merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor yang bergerak cepat dan terkoordinasi. “Terima kasih atas kesabaran masyarakat, serta sinergi seluruh pihak yang memungkinkan antrean dapat terurai hingga nol kilometer sebelum penutupan Nyepi. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang solid mampu menghadirkan solusi nyata dalam waktu cepat,” jelas Yossianis, dikutip dari keterangan pers, Kamis (19/3/2026).
ASDP juga menyadari bahwa kepadatan sebelumnya sempat menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, respons cepat di lapangan menjadi kunci dalam memulihkan kondisi secara bertahap hingga kini kembali stabil.
Sejumlah langkah strategis dijalankan secara simultan, mulai dari optimalisasi operasional hingga pola sangat padat dengan pengoperasian sekitar 35 kapal, penerapan sistem Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) dengan durasi layanan yang dipercepat, penambahan kapal perbantuan, hingga rekayasa lalu lintas dan pemanfaatan buffer zone secara maksimal. Sinergi erat antara ASDP, Kementerian Perhubungan, Kepolisian, dan pemerintah daerah menjadi fondasi utama keberhasilan ini.
Selama hari raya Nyepi, operasional penyeberangan dihentikan sementara di sejumlah lintasan utama, yakni di Pelabuhan Ketapang mulai 18 Maret pukul 17.00 WIB hingga 20 Maret pukul 06.00 WIB, di Pelabuhan Gilimanuk pada 19 Maret pukul 05.00 WITA hingga 20 Maret pukul 06.00 WITA, di Pelabuhan Lembar pada 18 Maret pukul 21.00 WITA hingga 20 Maret pukul 01.30 WITA, serta di Pelabuhan Padangbai pada 19 Maret pukul 04.00 WITA hingga 20 Maret pukul 11.30 WITA.