Bisnis,com, JAKARTA — Komunitas Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) AI memberikan dua catatan kritis mengenai pengembangan artificial intelligence nasional dengan menempatkan teknologi tersebut murni sebagai alat bantu yang tetap membutuhkan peran utama manusia.
Kagama AI juga mendesak agar Indonesia memiliki posisi tawar yang tegas dalam ekosistem global.
Ketua Kagama AI Ajar Edi menjelaskan adopsi teknologi cerdas ini diyakini mampu membuka banyak peluang ekonomi baru yang luar biasa bagi Indonesia hingga tahun 2030. Kendati demikian, masa depan digital tersebut sangat ditentukan oleh keputusan strategis yang diambil oleh pemerintah, akademisi, dan sektor swasta saat ini.
Secanggih apa pun teknologi yang berkembang, kendali penuh harus tetap berada di tangan manusia agar tidak menimbulkan ketimpangan.
“Pertama, AI adalah mesin inovasi, tetapi sekali lagi manusialah yang tetap menjadi aktor utamanya,” ujarnya dalam pembukaan acara Indonesia Ethical AI Summit di Jakarta, Rabu (18/6/2026).
Ajar mengingatkan upaya mengejar inovasi dan akselerasi kreativitas tanpa disertai tata kelola yang pruden atau berhati-hati akan menghasilkan dampak yang semu.
Industri dinilai berisiko terjebak pada pencapaian angka statistik yang tampak impresif, namun justru rapuh secara kondisi sosial di lapangan. Oleh karena itu, faktor manusia dan etika harus menjadi pilar utama dalam setiap implementasi teknologi di dalam negeri.
Catatan kritis kedua yang menjadi sorotan utama Kagama AI adalah urgensi dalam menentukan posisi dan kedaulatan Indonesia di dalam peta rantai pasok global.
Indonesia dinilai memiliki modalitas yang sangat kuat, mulai dari pasar digital yang masif hingga kelimpahan sumber daya alam strategis seperti nikel, logam tanah jarang, dan pasokan energi yang melimpah untuk mendukung infrastruktur komputasi.
Modal besar tersebut harus dioptimalkan melalui strategi hilirisasi teknologi yang nyata, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai target pasar. Kagama AI mendorong kepemilikan infrastruktur fisik di dalam negeri, pencetakan talenta digital yang kompeten, serta yang paling krusial adalah pengembangan model kecerdasan buatan lokal berbasis data domestik.
Langkah ini penting guna mencegah eksploitasi data berskala besar oleh raksasa teknologi asing yang menguasai infrastruktur di luar yurisdiksi Indonesia.
“Mereka juga harus punya komitmen membangun pusat AI di Indonesia, sehingga kita akan bersama-sama bisa bangun model AI lokal yang khas Indonesia, yang bisa mempreserve local cultures, local languages, bahkan beragam value-value yang ada di Indonesia,” kata Ajar.
Melalui pengembangan model lokal yang khas tersebut, pemanfaatan teknologi diharapkan mampu memberikan dampak positif yang inklusif tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Kagama AI berharap langkah strategis ini dapat memandu arah navigasi pengembangan inovasi di Indonesia agar tetap berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan dan tata kelola yang kuat demi kebermanfaatan sosial maupun ekonomi secara berkelanjutan.