Film "Ghost in the Cell" karya Joko Anwar, rilis 16 April 2026, mengangkat kritik sosial dengan latar penjara, elemen horor supranatural, dan sorotan kebebasan pers. [426] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Sutradara Joko Anwar bersiap merilis film barunya berjudul Ghost in the Cell dengan tema cerita kritik sosial.
Film ini dibuat bersama rumah produksi Come And See Pictures, di mana penayangannya dijadwalkan pada 16 April 2026.
Joko Anwar kemudian menjelaskan bahwa dalam film barunya ini memiliki latar tempat penjara. Di mana pemilihan latar tersebut berfungsi sebagai metafora bagi kondisi sosial masyarakat.
"Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya," ujar Joko dikutip dari Antaranews, Selasa (24/2).
Ia menambahkan bahwa dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi sangat kuat di dalam sel penjara.
Fakta Menarik Film Ghost in the Cell
Punya elemen horror supranatural
Menariknya, dalam film ini akan mengeksplorasi elemen horor supranatural untuk menghadirkan sesuatu yang tidak terelakkan dalam tontonan yang menghibur.
"Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi, ketika film selesai akan ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia," katanya.
Hal menarik lain yang terpancar dalam film terbaru Joko Anwar ini adalah sarana hiburan, namun juga merefleksikan kehidupan masyarakat.
Soroti dinamika di Indonesia
Produser Tia Hasibuan menyampaikan bahwa cerita film "Ghost in the Cell" merefleksikan dinamika yang terjadi di Indonesia.
"Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka," katanya.
Proses syuting sangat cepat
Tia pun mengungkapkan bahwa proses syuting selama 22 hari berlangsung secara efektif hingga "hanya menghabiskan setengah hari" merujuk pada produktivitas tinggi di mana tim mampu menyelesaikan target harian dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada standar syuting harian pada umumnya.
Kenapa bisa cepat, mungkin yang pertama itu karena skenarionya. Skenario kita tuh ada 97 halaman... tapi jumlah scene (adegan)-nya itu cuma sedikit, cuma 40 scene," kata Tia.
Ia juga menyoroti penggunaan teknik penyutradaraan dari Joko Anwar di film itu.
"Bang Joko banyak menggunakan "long one shot", satu scene bisa 10 sampai 15 halaman, dikerjain dalam satu shot, muter-muter tuh kamera," kata Tia.
Raih penghargaan dari pemerintah Prancis
Film ini pun, pada akhir tahun lalu, menerima tanda kehormatan sekaligus penghargaan kebudayaan Chevalier del'Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis.
Senggol soal kebebasan pers
Salah satu lain yang menarik dalam film ini juga satirnya terhadap isu kebebasan pers yang ada di Indonesia.
Aktor muda Endy Arfian yang berperan sebagai Dimas menyatakan bahwa karakternya merupakan cerminan jurnalisme saat ini.
"Dimas ini adalah gambaran nyata tentang risiko para jurnalis di Indonesia yang sampai saat ini masih dirasakan... bagaimana kebebasan pers itu masih dipertanyakan, ada intimidasi, ada kriminalisasi," jelas Endy.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56