Bisnis.com, MAKKAH — Jemaah haji Indonesia gelombang kedua yang mulai tiba di Madinah menghadapi fase rawan kelelahan setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Penyakit ISPA menjadi salah satu keluhan paling banyak ditemukan di fase ini.
Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Enny Nuryanti, menjelaskan bahwa karakteristik jemaah gelombang kedua berbeda dari gelombang pertama.
Selain menghadapi kelelahan fisik pascapuncak haji, sebagian jemaah haji gelombang kedua masih menjalani aktivitas tambahan seperti umrah sunnah maupun ziarah, sehingga rentan mengalami kelelahan.
"Jemaah gelombang kedua ini berada pada puncak kelelahan. Setelah Armuzna, sebagian masih melakukan aktivitas ibadah tambahan sehingga kondisi fisiknya semakin menurun," ujar Enny kepada tim Media Center Haji, Minggu (8/6/2026).
KKHI Madinah mencatat bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan pada fase ini di kalangan jemaah haji Indonesia yang berada di Kota Nabi.
Menurut Enny, sebagian jemaah dan petugas masih membawa dampak kelelahan serta gangguan kesehatan yang muncul sejak fase Armuzna.
"Sementara ini penyakit terbanyak masih ISPA. Banyak jemaah maupun petugas yang masih membawa gangguan kesehatan pascaarmuzna," katanya.
Selain kasus ISPA, KKHI Madinah juga menerima sejumlah pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pada Minggu (8/6/2026), KKHI menerima dua pasien rujukan dengan diagnosis gangguan jantung dan pneumonia.
"Ada dua pasien rujukan yang masuk, masing-masing dengan keluhan serangan jantung dan pneumonia," kata Enny.
Menurut Enny, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Banyak jemaah mulai mengalami tekanan psikologis karena sudah merindukan keluarga di Tanah Air, sementara mereka masih harus menjalani masa tinggal di Madinah sebelum kepulangan.
"Kondisi psikologis juga menjadi perhatian. Banyak jemaah sudah mulai kangen keluarga, tetapi masih harus menyelesaikan rangkaian perjalanan di Madinah," ujarnya.
Jemaah Diimbau Batasi Aktivitas
Menghadapi kondisi tersebut, KKHI Madinah mengimbau jemaah haji Indonesia untuk lebih bijak mengatur aktivitas selama berada di Madinah. Enny menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah wajib haji telah selesai dilaksanakan sehingga jemaah tidak perlu memaksakan diri melakukan aktivitas fisik berlebihan.
Dia meminta jemaah haji lanjut usia (lansia) maupun yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) untuk menyesuaikan kegiatan dengan kemampuan fisik masing-masing.
"Kalau memang memiliki komorbid atau termasuk lansia, jangan memaksakan diri untuk menjalani aktivitas yang berat, termasuk ziarah yang jauh atau ibadah tambahan yang membutuhkan tenaga besar," katanya.
Selain membatasi aktivitas, jemaah juga diminta menjaga asupan cairan mengingat suhu udara di Madinah masih cukup tinggi.
KKHI menyarankan jemaah minum air secara bertahap sekitar 200 mililiter setiap kali minum agar kebutuhan cairan tubuh tetap terjaga. Jemaah juga diminta mengonsumsi makanan yang telah disediakan petugas serta memastikan waktu istirahat tercukupi antara enam hingga delapan jam setiap hari.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi saat ini menjalankan strategi 3M untuk menghadapi fase akhir penyelenggaraan ibadah haji. Strategi pertama adalah memulihkan kondisi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan setelah Armuzna.
Kedua, memastikan seluruh jemaah berada dalam kondisi layak terbang atau fit to fly menjelang pemulangan ke Indonesia. Ketiga, menjaga proses pemulihan kesehatan jemaah agar dapat kembali ke Tanah Air dalam kondisi aman dan sehat.
"Kami fokus memulihkan jemaah yang mengalami gangguan kesehatan pascaarmuzna, memastikan mereka fit to fly saat kepulangan, dan menjaga proses pemulihan hingga kembali ke Indonesia," katanya.
Dia juga mengingatkan jemaah agar memperhatikan penggunaan alas kaki saat beribadah di Masjid Nabawi. Berbeda dengan Masjidil Haram, jemaah dianjurkan membawa sandal ke dalam area penyimpanan yang tersedia sehingga dapat langsung digunakan kembali saat keluar masjid.
Menurut Enny, langkah-langkah sederhana tersebut penting untuk menjaga stamina jemaah pada fase akhir perjalanan haji, terutama ketika kondisi fisik sudah mengalami penurunan setelah menjalani puncak ibadah di Armuzna.