Bisnis.com, JAKARTA - Jaringan minimarket kenamaan Tanah Air, Alfamart tahun ini mencetak sejarah baru dengan berhasil membuka gerai perdananya di Bangladesh, melanjutkan kesuksesan ekspansinya ke luar negeri setelah Filipina.
Sekadar info, ritel modern di bawah bendera emiten PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) itu bekerja sama dengan Mitsubishi Corporation dan peritel lokal Kazi Farms Group untuk membuka gerai Alfamart di Dhaka pada 27 Januari 2026.
Berdasarkan pemberitaan Bisnis sebelumnya, AMRT berencana membuka hingga 100 gerai di kawasan Dhaka dan kota besar seperti Chattogram.
Capaian tersebut akan melanjutkan pengalaman sukses Alfamart sebelumnya di kancah ritel negara berkembang lain, yakni membuka hingga 2.400 gerai di Filipina.
Alfamart di Filipina merupakan hasil kerja sama dengan SM Retail Inc, bagian dari salah satu konglomerasi jumbo di negeri Mutiara Laut dari Timur, SM Group besutan Henry Sy yang berfokus pada sektor ritel, perbankan, dan properti.
Sebagai pengingat kembali sejarah minimarket yang identik dengan warna merah dan kuning itu, berikut merupakan sejarah singkat Alfamart dan pendiriannya, Djoko Susanto:
Berdasarkan keterangan Direktur Corporate Affairs AMRT Solihin baru-baru ini, total gerai Alfamart mencapai 21.120 unit, didukung sekitar 170.000 karyawan.
Alfamart berawal dari toko spesialisasi komoditas rokok besutan Djoko Susanto, terutama pengembangannya dalam mengurus kios keluarga di Pasar Arjuna.
Usaha dalam bisnis kelontong berjalan baik, hingga sukses membuka 560 gerai yang tersebar di berbagai pasar tradisional. Dari sanalah bisnisnya mulai bertumbuh dengan cepat serta membuat pengusaha grosir hingga pengecer menjadi pelanggan tetapnya.
Keberhasilannya menjual rokok membuatnya diperhatikan oleh banyak distributor besar, termasuk Putera Sampoerna, bos besar perusahaan rokok PT HM Sampoerna.
Namun, tantangan tetap ada, terutama pada tahun 1976, peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Arjuna sempat membuat usaha Djoko terpuruk.
Djoko segera bangkit dan mulai berjualan kembali. Memanfaatkan jejaringnya yang telah terbangun selama puluhan tahun, akhir 1980-an, Djoko menjalin kemitraan bisnis dengan keluarga Sampoerna, mengembangkan cikal-bakal Alfamart, yakni jaringan distribusi ritel yang dinamai Alfa Toko Gudang Rabat.
Lantas, tahun 1994, nama merek dagang ini berganti menjadi Alfa Minimart. Nama Alfamart baru keluar selepas aksi akuisisi 141 gerai Alfa Minimart pada 2002.
Hal tersebut seiring rencana Putera Sampoerna fokus di sektor rokok pada 2005, lantas menjual semua perusahaan dan anak perusahaannya kepada Phillip Morris.
Sejak saat itulah Djoko Susanto melalui PT Sigmantara Alfindo membeli Alfamart hingga menguasai kepemilikan saham mayoritas, mengiringi ritel modern ini melantai di bursa (IPO) pada 2009.
Terkini, AMRT dipegang oleh putra-putrinya, Feny Djoko Susanto sebagai Presiden Komisaris, dan Budiyanto Djoko Susanto selaku Komisaris.
Sementara itu, generasi kedua lain yang turut terlibat menopang gurita bisnis Alfamart sekeluarga, antara lain Harryanto Susanto selaku Direktur AMRT.
Adapun, Hanto Djoko Susanto dipercaya menjadi Presiden Direkrut Alfaland, dengan portofolio properti komersial sekaliber The Plaza Millennium Medan, dan deretan hotel Omega Hotel Management dengan jenama Signata dan Cordela.