Bisnis.com, JAKARTA — PTIndosatTbk. (ISAT) dinilai memiliki modal yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2026 setelah mampu membukukan hasil positif sepanjang 2025.
Hal itu diungkapkan Chris Muckensturm, industry analyst dariBloomberg Intelligence, dalam laporan terbarunya. Prospek positif itu, jelasnya, didukung oleh rerata pendapatan per pelanggan atauaverage revenue per user(ARPU) yang meningkat dan kontrakcloudAI.
Dia memperkirakan, margin EBITDA perseroan akan tetap relatif stabil pada 2026 dengan potensi peningkatan bergantung pada perubahan komposisi pendapatan.
“Indosat tampaknya berada di posisi yang tepat untuk melampaui pertumbuhan laba yang ditargetkan, karena ARPU seluler yang lebih tinggi dan prospek kontrakcloudAI yang sehat mendukung pemulihan pendapatan dan EBITDA tahun ini,” jelas Muckensturm dalam laporannya, Selasa (10/2/2026).
Kehadiran PTXLSmart Telecom SejahteraTbk., yang merupakan hasil merger antara PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN), memang diakui akan menghadirkan tantangan yang dapat mengikis keunggulan jaringan Indosat.
Hal itu pun, ungkap Muckensturm, membuat lelang spektrum yang akan datang menjadi faktor penting bagi kinerja ISAT. Hasil lelang, bersama dengan peningkatan permintaan GPU-as-a-service, akan meningkatkan belanja modal perseroan di atas target Rp13 triliun.
Namun, Muckensturm menegaskan bahwa hal itu sebagian besar akan diimbangi oleh pertumbuhan arus kas yang kuat.
Muckensturm menambahkan bahwa satu katalis lainnya adalah kehadiran anak usaha ISAT yakni FiberCo yang diperkirakan dapat segera melantai di bursa.
Dalam catatanBisnis, FiberCo merupakan perusahaan patungan antaraIndosat,NorthstarGroup bersamaArsari Group, perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo. Perusahaan patungan yang mengelola jaringan serat optik lebih dari 86.000 kilometer itu dibentuk dengan nilai investasi Rp14,6 triliun.
“Potensi pencatatan saham unit FiberCo yang baru dibentuk akan menjadi katalis peningkatan peringkat meskipun menghadapi tantangan pasar,” pungkas Muckensturm.
Dalam laporanBisnissebelumnya, ISAT mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ataulaba bersih2025 senilai Rp5,51 triliun atau bertumbuh 12,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp4,91 triliun.
Pertumbuhan laba bersihISATterutama disebabkan kenaikan pendapatan, penurunan beban karyawan, pemasaran, beban lain-lain neto dan kenaikan penghasilan (beban) operasional lain-lain neto. Hal itu diimbangi oleh kenaikan beban penyelenggaraan jasa, umum, administrasi, penyusutan dan amortisasi.
Manajemen Indosat menyampaikan EBITDA perseroan naik 0,8% YoY menjadi Rp26,59 triliun dengan margin EBITDA sebesar 47,1%.
“Laba bersih tumbuh 12,2% YoY menegaskan fundamental yang solid serta komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” tulisnya dalam info memo, Senin (9/2/2026).
Peningkatanlaba bersihISAT sepanjang tahun lalu sejalan dengan pendapatan yang tumbuh positif, meskipun tipis. Pendapatan Indosat sepanjang 2025 tercatat naik 1,1% YoY dari Rp55,88 triliun menjadi Rp56,51 triliun.
Pendapatan itu bersumber dari segmen selular Rp47,35 triliun, multimedia, komunikasi data, internet (MIDI) Rp8,34 triliun, dan telekomunikasi tetap Rp817,6 miliar.
Berdasarkan catatan ISAT, pendapatan selular meningkat tipis sebesar 0,7% YoY. Hal itu terutama disebabkan kenaikan jasa nilai tambah.
Sementara itu, pendapatan MIDI meningkat sebesar 4,5% YoY didorong oleh kenaikan layanan IT yang diimbangi oleh penurunan pendapatan konektivitas tetap dan internet tetap.
---------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.