Bisnis.com, JAKARTA – Mitra distribusi sukuk ritel seri SR024 optimistis surat berharga syariah negara untuk kalangan ritel tersebut dapat terserap sepenuhnya. Adapun, sisa kuota nasional saat ini tersisa Rp2,75 triliun.
Head of PR & Corporate Communication Bibit William, menerangkan realisasi penjualan sejauh ini masih sesuai ekspektasi perusahaan. Salah satu dasar kepercayaan diri itu berasal dari imbal hasil yang ditawarkan SR024 lebih tinggi ketimbang 3 seri SBN Ritel terakhir.
Belum lagi dibandingkan bunga deposito bank umum, SR024 dinilai memiliki daya tawar yang lebih menarik. Hal ini bahkan berada pada fakta bahwa produk SBN Ritel dijamin oleh negara, sehingga menurunkan risikonya.
”Sejauh ini penjualannya sesuai ekspektasi kami di awal, khususnya yang tenor tiga tahun. Kuota nasional tersisa sekitar 15%. Dengan sisa waktu satu minggu lagi, kami optimistis akan terserap oleh masyarakat, para investor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Guna memaksimalkan penjualan, William menjelaskan bahwa pihaknya terus mengupayakan komunikasi dengan investor melalui berbagai macam saluran dan aktivitas. Bibit juga memberikan promosi berupa cashback bagi investor di produk ini. Tidak tanggung-tanggung, Bibit bahkan turut melakukan roadshow ke Jawa Timur untuk meningkatkan basis investor SBN Tanah Air.
Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI Salvian Fernando menilai peluang serapan SR024 masih cenderung besar lantaran secara historis, investor akan berbondong-bondong menyerap produk SBN Ritel pada akhir masa penawaran.
Belum lagi, SR024 sebagai produk SBN Ritel dinilai memiliki imbal hasil yang kompetitif dibandingkan bunga deposito perbankan, jaminan pemerintah yang memberikan persepsi risiko rendah, hingga kebutuhan diversifikasi di tengah volatilitas pasar.
”Meskipun SR024 masih menyisakan sekitar 20% dari target, peluang terserap penuh tetap besar karena secara historis, permintaan biasanya meningkat menjelang akhir masa penawaran, terutama dari investor yang sebelumnya wait and see,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Salvian menyebut kondisi geopolitik yang belakangan memuncak memiliki dampak dua arah terhadap aset obligasi. Artinya, pada satu sisi membuat investor lebih tertarik dengan instrumen minim risiko, tetapi di sisi lain dapat menahan permintaan jika memicu kenaikan yield global dan pelemahan rupiah.
Dengan begitu, investor dinilai menjadi lebih berhati-hati. Meskipun begitu, jika ketegangan berlanjut, SBN Ritel tetap berpotensi diminati, tetapi dengan pola permintaan yang lebih selektif dan sensitif terhadap dinamika pasar global.