Bisnis.com, JAKARTA — Agen berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan mulai menggeser pendekatan business intelligence (BI) tradisional yang bertumpu pada dasbor statis dan alur kerja manual.
Regional Vice President of Asean Sales Dataiku, Mochamad Idham mengatakan business intelligence tidak lagi cukup hanya menyajikan grafik atau laporan statis. Dasbor yang seharusnya menjadi alat strategis justru ditinggalkan karena tidak mampu memberikan gambaran yang relevan secara real time.
"Melalui agen AI, pengguna tidak hanya melihat grafik atau laporan, tetapi juga dapat berinteraksi dengan data untuk mendapatkan jawaban yang lebih cepat, kredibel, dan kontekstual,” kata Idham dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Dia menambahkan pendekatan ini memungkinkan alur insight mengalir secara lebih alami, dari pertanyaan bisnis langsung menuju rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti. Teknologi ini melampaui fungsi visualisasi data konvensional dengan menghadirkan interaksi berbasis penalaran serta panduan yang memungkinkan pengguna menggali data secara lebih mendalam.
Idham menuturkan pendekatan ini menandai evolusi penting dalam cara organisasi memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan. Seiring Indonesia menargetkan diri menjadi ekonomi berpendapatan tinggi berbasis inovasi melalui visi Indonesia Emas 2045, kemampuan memanfaatkan teknologi analitik berbasis AI menjadi semakin penting bagi dunia usaha.
Dalam praktiknya, perusahaan dapat memiliki puluhan hingga ratusan laporan yang tersebar di berbagai unit bisnis. Situasi ini sering kali memicu interpretasi data yang tidak konsisten antar tim.
“Ketika organisasi memiliki terlalu banyak dashboard yang tidak terhubung satu sama lain, risiko munculnya interpretasi yang berbeda terhadap data yang sama menjadi semakin besar. Inilah yang sering disebut sebagai dashboard sprawl,” katanya.
Dalam konteks ini, lanjutnya, agen AI berperan sebagai jembatan antara kebutuhan pengguna bisnis dan analis data. Dengan menggabungkan data terstruktur maupun tidak terstruktur, agen AI dapat mengotomatisasikan proses query yang berulang serta menyajikan narasi analitik lengkap dengan visualisasi yang mudah dipahami.
Proses tersebut memungkinkan pengguna memperoleh insight tanpa harus melakukan ekstraksi data secara manual. Dengan demikian, keputusan bisnis dapat diambil secara lebih cepat sekaligus berbasis informasi yang lebih komprehensif.
“Pendekatan berbasis agen AI memungkinkan pengguna bisnis berinteraksi langsung dengan data melalui dialog yang lebih natural, sehingga proses menemukan insight dapat berlangsung jauh lebih cepat,” ujarnya.
Bagi perusahaan di Indonesia, kapabilitas ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memberikan keunggulan strategis dalam memanfaatkan data sebagai aset utama organisasi.