#30 tag 24jam
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Seorang warga negara Israel dijatuhi hukuman di Amerika Serikat (AS) setelah mengaku bersalah atas konspirasi untuk mencuri rahasia dagang dari satu perusahaan... | Halaman Lengkap [529] url asal
#amerika-serikat #israel #perang-as-vs-iran #spionase #intelijen
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/06/26 19:25
v/261092/
WASHINGTON - Seorang warga negara Israel dijatuhi hukuman di Amerika Serikat (AS) setelah mengaku bersalah atas konspirasi untuk mencuri rahasia dagang dari satu perusahaan teknologi semikonduktor yang berbasis di Arizona. Kasus ini menambah praktik spionase yang terkait dengan Israel yang telah berlangsung lama.Guy Galanti, 48 tahun, seorang warga negara Israel yang tinggal di Scottsdale, Arizona, menerima hukuman berupa masa tahanan yang telah dijalani dan tiga tahun masa percobaan dari Hakim Distrik AS G Murray Snow, Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Arizona mengumumkan pada hari Selasa.
Galanti tetap berada dalam tahanan sejak penangkapannya pada September 2025 dan mengaku bersalah pada 26 Mei 2026, atas konspirasi untuk mencuri rahasia dagang.
Menurut jaksa, Galanti bekerja sebagai manajer tingkat senior untuk Green Technology Investments (GTI), perusahaan di Scottsdale yang melayani mesin pengujian semikonduktor dan menjual mesin yang diremanufaktur dengan fungsi yang baru dirancang.
Departemen Kehakiman mengatakan Galanti bersekongkol antara Januari dan Agustus 2025 dengan individu lain untuk mencuri "Desain Deteksi Kaca" yang baru dibuat oleh GTI, sistem hak milik yang dimaksudkan untuk memungkinkan mesin pengujian semikonduktor mendeteksi cacat mikroskopis pada wafer semikonduktor kaca, bukan silikon.
Rekannya yang diduga terlibat mengoperasikan perusahaan Taiwan yang bersaing langsung dengan GTI.
Jaksa AS mengatakan Galanti secara diam-diam mengirimkan foto, informasi, dan perangkat lunak yang terkait dengan desain GTI selama beberapa bulan dalam upaya membantu menciptakan kembali sistem hak milik tersebut.
Untuk menyembunyikan rencana tersebut, Galanti dan rekannya menggunakan pesan terenkripsi, email yang dihapus, dan data transaksi dari akun kerja Galanti, serta membuat faktur fiktif untuk mendokumentasikan transfer dan kemungkinan pembayaran dana.
Divisi Phoenix FBI menyelidiki kasus ini, sementara Asisten Jaksa AS Raymond K Woo dan Matthew Williams menangani penuntutannya.
Meskipun kasus ini tidak menuduh keterlibatan negara Israel, kasus ini telah menghidupkan kembali perhatian pada sejarah yang lebih luas tentang spionase Israel dan operasi pengaruh rahasia yang melibatkan negara-negara sekutu, termasuk AS dan Prancis.
Kasus yang paling terkenal tetaplah kasus Jonathan Pollard, mantan analis intelijen Angkatan Laut AS yang dihukum karena memata-matai untuk Israel.
Israel menyambut Pollard pada tahun 2020 sebagai pahlawan nasional setelah ia pindah ke Tel Aviv, dengan Perdana Menteri saat itu Benjamin Netanyahu menyambutnya saat kedatangan dan memberinya kartu identitas Israel.
Aktivitas intelijen Israel juga telah memperketat hubungan dengan Prancis. Pada tahun 2017, Mossad diduga mencoba mengubah mata-mata Prancis menjadi agen ganda selama operasi gabungan di Suriah, menggunakan misi intelijen kooperatif untuk membina sumber di dalam dinas-dinas Prancis.
Paris telah digambarkan sebagai pusat aktivitas Mossad, dengan sumber intelijen Prancis dilaporkan memperingatkan bahwa agen Israel telah menggunakan kota itu sebagai basis untuk operasi internasional, termasuk perencanaan yang terkait dengan pembunuhan pemimpin Hamas Mahmoud Al-Mabhouh di Dubai.
Bulan lalu, otoritas Prancis menyelidiki apakah sebuah perusahaan Israel, BlackCore, berperan dalam kampanye campur tangan asing yang menargetkan kandidat La France Insoumise (LFI) menjelang pemilihan lokal bulan Maret.
Laporan tersebut mengatakan dinas intelijen Prancis sedang memeriksa siapa yang mungkin telah menyewa perusahaan tersebut untuk menjalankan kampanye fitnah melalui situs web dan akun media sosial yang menyesatkan.
Tuduhan tersebut menyusul kekhawatiran serupa di tempat lain. Presiden Kolombia Gustavo Petro menuduh adanya campur tangan Israel dalam pemilihan Kolombia, menuntut audit dan penghitungan ulang setelah mengklaim aktor yang terkait dengan Israel telah berupaya memengaruhi pemungutan suara.
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Perang Dingin diperjuangkan dengan tentara, rudal, dan pengaruh politik, tetapi beberapa pertempuran terpentingnya terjadi secara rahasia. Di seluruh Eropa, Amerika... | Halaman Lengkap [1,880] url asal
#rusia #amerika-serikat #intelijen #perang-dingin #intelijen-lima-mata
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/06/26 12:42
v/258451/
LONDON - Perang Dingin diperjuangkan dengan tentara, rudal, dan pengaruh politik, tetapi beberapa pertempuran terpentingnya terjadi secara rahasia. Di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Blok Soviet, badan-badan intelijen melancarkan perang bayangan yang berlangsung selama beberapa dekade.Agen-agen tersebut menyusup ke pemerintahan, program militer, dan lingkaran diplomatik, seringkali bekerja di bawah ancaman pengungkapan yang konstan. Bagi banyak mata-mata, penemuan berarti lebih dari sekadar rasa malu atau dipenjara.
Agen ganda dan pembelot sering menghadapi eksekusi, sementara yang lain berisiko kehilangan karier, keluarga, dan identitas mereka. Terlepas dari bahaya tersebut, beberapa terus beroperasi selama bertahun-tahun, didorong oleh ideologi, uang, keyakinan pribadi, atau kombinasi dari ketiganya. Baik bertugas untuk Timur maupun Barat, para agen ini menerima risiko luar biasa dalam mengejar informasi yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan antara dua negara adidaya dunia.
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
1. Raymond Mawby
Melansir List Verse, Raymond Mawby adalah Anggota Parlemen Inggris yang meninggal pada tahun 1990, setelah sebelumnya menjabat sebagai asisten bendahara umum dan menteri muda. Menurut investigasi BBC, ini juga merupakan periode ketika ia bekerja sebagai mata-mata untuk dinas keamanan Cekoslowakia selama lebih dari satu dekade, dari tahun 1960 hingga 1971. Sepanjang waktunya sebagai agen, Mawby memberikan informasi politik sensitif kepada petugas intelijen komunis selama era komunis Cekoslowakia, termasuk denah lantai kantor perdana menteri di Commons yang digambar tangan, detail tentang komite parlemen, dan investigasi parlemen rahasia terhadap politisi Partai Konservatif lainnya.Diduga beroperasi dengan nama sandi “Laval,” hubungan Mawby dengan dinas intelijen Ceko dimulai pada tahun 1960 ketika ia didekati di sebuah pesta koktail dan dibujuk untuk memberikan gosip politik dengan imbalan pembayaran tunai—tepat £100 untuk setiap pertukaran informasi yang ia berikan. Ia terus membantu badan intelijen asing bahkan setelah promosinya menjadi menteri muda pada tahun 1963. Menurut laporan tersebut, hubungan itu berakhir pada November 1971, meskipun pengungkapannya baru dipublikasikan beberapa dekade kemudian.
2. Michał Goleniewski
Michał Goleniewski adalah seorang perwira berpangkat tinggi di dinas intelijen Polandia. Ia juga seorang agen KGB, meskipun kemudian ia menjadi salah satu agen ganda paling berharga di Barat selama Perang Dingin.Setelah Perang Dunia Kedua, Goleniewski naik pangkat di intelijen Polandia dan akhirnya bekerja sama erat dengan organisasi intelijen Soviet. Namun, pada akhir tahun 1950-an, ia menjadi sangat kecewa dengan sistem komunis. Pada April 1958, ia mulai secara diam-diam memasok informasi ke Barat dan kemudian membelot ke Amerika Serikat. Selama kurang lebih 33 bulan, Goleniewski menyelundupkan sejumlah besar informasi rahasia militer dan spionase Soviet dan Pakta Warsawa ke badan intelijen Barat.
Pengungkapannya mengungkap banyak agen komunis dan operasi intelijen di seluruh Eropa. Hal ini membantu dinas-badan Barat mengidentifikasi pelanggaran keamanan yang signifikan di dalam lembaga mereka sendiri. Hanya sedikit pembelot yang memberikan sejumlah besar intelijen bernilai tinggi, menjadikan Goleniewski salah satu agen ganda terpenting Perang Dingin.
3. Otto von Bolschwing
Otto von Bolschwing adalah rekrutan awal Partai Nazi yang naik melalui aparat keamanan SS dan menjadi sangat dekat dengan Adolf Eichmann. Selama tahun 1930-an, ia membantu mengembangkan kebijakan anti-Yahudi dan mendukung upaya untuk mengusir orang Yahudi dari wilayah yang dikuasai Jerman sambil merampas harta benda dan hak-hak mereka.Setelah perang, Bolschwing melarikan diri ke Austria yang diduduki Amerika dan bekerja dengan anggota Garda Besi Rumania yang diasingkan sebelum direkrut oleh CIA dengan nama sandi "Agen Unrest." Latar belakang Nazinya sebagian besar diabaikan karena nilai intelijennya yang dianggap penting melawan Uni Soviet.
Bolschwing kemudian bekerja sebagai aset CIA dengan koneksi berharga di Austria dan Eropa Timur, mendukung upaya intelijen AS yang lebih luas selama tahun-tahun awal Perang Dingin. Kasusnya tetap menjadi salah satu contoh paling kontroversial dari mantan pejabat Nazi yang digunakan oleh badan intelijen Barat dalam perjuangan melawan pengaruh Soviet.
4. Gunvor Galtung Haavik
Gunvor Galtung Haavik adalah seorang pegawai Kementerian Luar Negeri Norwegia dan agen Uni Soviet selama lebih dari 27 tahun. Karier spionasenya dimulai selama Perang Dunia Kedua ketika dia bekerja sebagai perawat dan penerjemah untuk tahanan Soviet yang ditahan oleh Nazi. Selama periode itu, dia jatuh cinta dengan seorang tahanan perang Rusia.Ketika Norwegia diancam oleh Nazi, intelijen Soviet dilaporkan menjanjikan perlindungan sebagai imbalan atas kerja sama Haavik. Pada saat Norwegia bergabung dengan NATO pada tahun 1949, mereka telah menjalin hubungan spionase formal dengan intelijen Soviet yang akan berlanjut selama beberapa dekade. Seiring waktu, kecurigaan tumbuh bahwa diplomat Soviet sangat mengetahui posisi rahasia Norwegia tentang isu-isu utama, khususnya masalah yang melibatkan NATO dan kerja sama Eropa. Haavik akhirnya diidentifikasi oleh kontra intelijen Norwegia selama pertemuan dengan agen KGB A. K. Printsipalov, yang menyebabkan penangkapannya pada tahun 1977. Meskipun ia mengaku melakukan kegiatan spionase terhadap Norwegia dan negara-negara Barat lainnya, Haavik meninggal karena gagal jantung sebelum diadili.
5. Oleg Vladimirovich Penkovsky
Sering disebut sebagai salah satu agen ganda paling berharga di Barat selama Perang Dingin, Oleg Vladimirovich Penkovsky memulai karir intelijennya di Tentara Merah Soviet pada tahun 1937 dan kemudian bertugas sebagai perwira artileri selama Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1949, ia telah pindah ke Direktorat Intelijen Angkatan Darat Soviet (GRU), mengikuti Akademi Diplomatik Militer, dan terus naik pangkat di intelijen militer Soviet. Pada tahun 1960, ia telah mencapai pangkat kolonel. Namun, pada April 1961, Penkovsky berbalik melawan sistem Soviet, menawarkan jasanya kepada intelijen Inggris melalui pengusaha Greville M. Wynne. Selama satu setengah tahun berikutnya, ia secara diam-diam memberikan lebih dari 5.000 foto dokumen militer, politik, dan ekonomi rahasia dari Uni Soviet kepada badan intelijen Inggris dan Amerika.Informasi yang diberikan Penkovsky memberikan wawasan penting tentang kemampuan rudal Soviet dan membantu para pemimpin Barat lebih memahami kekuatan dan kelemahan militer Soviet selama Krisis Rudal Kuba tahun 1962. Intelijennya secara luas dianggap sebagai salah satu yang paling berharga yang pernah diperoleh dari dalam sistem Soviet. Ditangkap pada tahun 1962 dan dieksekusi pada tahun berikutnya, Penkovsky membayar harga tertinggi untuk kegiatan spionasenya.
6. Elizabeth Bentley
Lahir di Connecticut, Elizabeth Bentley berpendidikan tinggi, meraih gelar humaniora dari Vassar College dan Universitas Columbia. Pada tahun 1935, ia bergabung dengan Liga Amerika Melawan Perang dan Fasisme karena pengalamannya dengan fasisme di Italia, diikuti oleh masa singkat di Partai Komunis AS. Karier spionase Bentley dimulai ketika ia direkrut oleh rekan kerjanya, Juliet Stuart Poyntz, di Perpustakaan Informasi Italia.Awalnya, ia mengumpulkan informasi tentang aktivitas fasis sebelum terlibat dengan jaringan intelijen Soviet yang beroperasi di Amerika Serikat. Seiring waktu, ia terutama bertugas sebagai kurir dan penghubung, mengirimkan informasi antara agen Soviet dan kontak mereka. Ketika pemimpin mata-matanya, Jacob Golos, meninggal pada tahun 1943, Bentley semakin kecewa dengan Partai Komunis dan intelijen Soviet. Pada tahun 1945, ia mendekati FBI dan mulai bekerja sama dengan otoritas AS. Kesaksiannya yang luas mengungkap banyak jaringan mata-mata Soviet yang beroperasi di Amerika.
Hal ini kemudian berkontribusi pada investigasi dan penuntutan yang melibatkan aktivitas komunis di Amerika Serikat. Dengan berbalik melawan organisasi yang pernah ia layani, Bentley menempatkan dirinya di pusat salah satu skandal mata-mata paling kontroversial di awal Perang Dingin.
7. Adolf Tolkachev
Adolf Tolkachev adalah seorang insinyur Soviet yang menjadi salah satu aset terpenting CIA selama Perang Dingin. Pekerjaannya dimulai di Moskow pada tahun 1978 dan melibatkan pembocoran informasi rahasia tentang teknologi radar Soviet, avionik, dan rudal jelajah. Ia segera dikenal sebagai "Mata-mata Miliaran Dolar" karena dilaporkan telah menghemat biaya penelitian dan pengembangan senjata bagi Amerika Serikat sekitar USD2 miliar. Beroperasi di bawah pengawasan KGB, Tolkachev berulang kali bertemu dengan petugas CIA di jalanan Moskow selama bertahun-tahun sebagai sumber CIA. Sebagian besar pekerjaannya melibatkan penyelundupan dokumen dari laboratorium militernya—biasanya disembunyikan di dalam mantelnya—dan memotretnya secara rahasia.Menurut dokumen yang telah dideklasifikasi, Tolkachev termotivasi untuk bekerja melawan Uni Soviet karena penderitaan keluarganya selama Teror Besar Stalin. Intelijen yang dia berikan membantu Amerika Serikat lebih memahami teknologi militer Soviet dan meningkatkan efektivitas sistem senjata Amerika. Pada tahun 1985, Tolkachev dikhianati oleh mantan perwira CIA Edward Lee Howard dan ditangkap oleh KGB. Dia dieksekusi pada tahun berikutnya, menjadikannya salah satu sumber Soviet berpangkat tertinggi yang pernah hilang dari CIA.
8. Hede Massing
Ia bergabung dengan Partai Komunis sekitar tahun 1920 dan kemudian menikah dengan Gerhart Eisler, seorang anggota terkemuka Partai Komunis Jerman. Antara tahun 1933 dan 1937, Massing bertugas sebagai agen mata-mata Soviet di Amerika Serikat. Namun, di tahun-tahun terakhirnya, ia berbalik melawan Uni Soviet—khususnya gerakan komunis Stalin—dan menjadi seorang anti-komunis yang gigih. Setelah meninggalkan lingkaran intelijen Soviet, Massing menjadi saksi penting bagi para penyelidik AS yang memeriksa aktivitas mata-mata komunis. Pada tahun 1949, ia memainkan peran kunci dalam kasus Alger Hiss, bersaksi bahwa Hiss telah bekerja sama dengan intelijen Soviet melawan kepentingan Amerika Serikat.Meskipun kesaksiannya mengandung inkonsistensi dan masih diperdebatkan oleh beberapa sejarawan, hal itu membantu mendukung kasus pemerintah terhadap Hiss. Ia akhirnya dihukum karena sumpah palsu pada tahun 1950, bukan karena spionase. Transformasi dramatis Massing dari agen Soviet menjadi saksi anti-komunis menjadikannya salah satu tokoh intelijen yang paling tidak biasa pada periode awal Perang Dingin.[8]
9. Oleg Gordievsky
Oleg Gordievsky adalah salah satu perwira KGB berpangkat tertinggi yang pernah menjadi mata-mata untuk Barat. Sebagai perwira intelijen Soviet yang berdedikasi pada awal kariernya, Gordievsky secara bertahap menjadi kecewa dengan sistem Soviet setelah peristiwa seperti pembangunan Tembok Berlin dan penindasan gerakan reformasi di Eropa Timur. Pada tahun 1970-an, ia diam-diam mulai bekerja untuk MI6 Inggris sambil terus naik pangkat di KGB.Beroperasi dari dalam intelijen Soviet, Gordievsky memberi Barat informasi yang sangat berharga tentang operasi KGB, kepemimpinan Soviet, dan persepsi Moskow tentang NATO. Di antara kontribusi terpentingnya adalah membantu pemerintah Barat memahami betapa seriusnya para pemimpin Soviet takut akan serangan nuklir mendadak selama latihan militer Able Archer tahun 1983. Para sejarawan sejak itu berpendapat bahwa kecerdasannya mungkin telah membantu mengurangi ketegangan selama salah satu periode paling berbahaya dalam Perang Dingin.
Pada tahun 1985, otoritas Soviet memanggil Gordievsky kembali ke Moskow setelah menerima informasi dari seorang mata-mata Barat di dalam intelijen AS. Karena curiga bahwa ia sedang diselidiki, Gordievsky berhasil menghindari pengawasan cukup lama untuk memicu rencana evakuasi darurat yang diorganisir oleh MI6. Bersembunyi di dalam sebuah kendaraan, ia diselundupkan melintasi perbatasan Finlandia dan keluar dari Uni Soviet. Seandainya ia tertangkap, ia hampir pasti akan menghadapi hukuman mati karena pengkhianatan. Sebaliknya, ia menjadi salah satu pembelot dan sumber intelijen paling terkenal dalam Perang Dingin.
10. Aleksandr Dmitrievich Ogorodnik
Lahir pada tahun 1939, Aleksandr Dmitrievich Ogorodnik adalah seorang diplomat Soviet yang kemudian menjadi mata-mata CIA pada puncak Perang Dingin. Awalnya dianggap sebagai kandidat yang tidak mungkin untuk spionase Barat, Ogorodnik akhirnya direkrut oleh intelijen Kolombia dan CIA, beroperasi dengan nama sandi TRIGON, atau Trianon. Ogorodnik menjadi mata-mata yang berharga karena akses tingkat tingginya ke kabel diplomatik rahasia di Kementerian Luar Negeri Soviet di Moskow, yang difotonya dan dikirimkan ke CIA. Ia bahkan meminta pil bunuh diri, yang dikenal sebagai pil L, sebagai rencana darurat. Meskipun alasan pasti mengapa ia menjadi agen ganda masih belum jelas, hal itu mungkin terkait dengan kesulitan keuangan, motivasi pribadi, atau ketidakpuasan yang mendalam terhadap sistem birokrasi Soviet.Karier dan kehidupan Ogorodnik berakhir ketika ia ditangkap oleh KGB di Moskow. Alih-alih menghadapi interogasi dan penuntutan, ia menggunakan pil L dan bunuh diri. Kematiannya menghilangkan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk sepenuhnya memahami sejauh mana aktivitas spionasenya, tetapi intelijennya terbukti sangat berharga bagi CIA selama periode kritis Perang Dingin. Sedikit agen yang menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk mempertaruhkan segalanya demi misi mereka, menjadikan Ogorodnik salah satu mata-mata paling luar biasa di era tersebut.
Belajar dari Perang Ukraina, Sky Watch Rilis Drone Tempur Canggih RQ-70 Dainn
Sky Watch Denmark luncurkan drone RQ-70 Dainn, terinspirasi perang Ukraina, untuk misi intelijen dan pengawasan dengan daya tahan 8 jam dan jangkauan 100 km. [448] url asal
#drone-tempur #rq-70-dainn #sky-watch #uav-canggih #drone-jarak-jauh #misi-intelijen #pengawasan-drone #pengintaian-uav #medan-operasi-modern #teknologi-pertahanan #sistem-terintegrasi #arsitektur-digi
(Bisnis.Com - Teknologi) 21/06/26 08:10
v/255446/
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi pertahanan asal Denmark, Sky Watch kembali mengembangkan sistem pesawat tanpa awak (UAV) generasi terbaru.
Sky Watch resmi memperkenalkan RQ-70 Dainn, drone jarak jauh yang dirancang untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, pengintaian, hingga akuisisi target di medan operasi modern.
Menurut Sky Watch, kecepatan perubahan situasi di medan tempur saat ini sering kali melampaui kemampuan sistem pertahanan konvensional yang masih mengandalkan siklus pengembangan panjang dan platform yang kompleks.
Chief Executive Officer Sky Watch Martin Schousboe mengatakan RQ-70 Dainn tidak dibangun berdasarkan asumsi atau simulasi semata, melainkan dari pengalaman nyata operasi UAV RQ-35 Heidrun yang telah digunakan secara berkelanjutan di Ukraina sejak 2022.
"RQ-70 Dainn tidak dikembangkan berdasarkan asumsi, melainkan berlandaskan platform UAV RQ-35 Heidrun yang telah terbukti di medan perang dan terus disempurnakan melalui umpan balik yang berkelanjutan," ujar Schousboe dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Dia menjelaskan tantangan saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap teknologi, melainkan apakah teknologi tersebut dapat berfungsi ketika paling dibutuhkan dan mampu berkembang cukup cepat mengikuti dinamika peperangan modern.
RQ-70 Dainn dikembangkan untuk kebutuhan operasi militer yang membutuhkan cakupan lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Drone ini memiliki daya tahan terbang hingga delapan jam dan mampu menjalankan misi intelijen, pengawasan, serta pengintaian pada jarak hingga 100 kilometer di luar garis depan.
Sistem ini juga dibekali kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL), sehingga tidak memerlukan landasan pacu khusus. Selain itu, arsitektur muatan yang modular memungkinkan pengguna menyesuaikan sensor dan perangkat pendukung sesuai kebutuhan misi.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan beroperasi di lingkungan yang tidak memiliki akses GPS, sebuah tantangan yang semakin sering ditemui dalam konflik modern akibat meningkatnya penggunaan teknologi gangguan sinyal atau electronic warfare.
Menariknya, seluruh sistem dapat dioperasikan oleh satu personel dan terintegrasi dengan ekosistem medan perang digital yang memungkinkan distribusi data secara cepat kepada pengambil keputusan.
Menurut Schousboe, RQ-70 Dainn dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menghubungkan pesawat udara, sensor, perangkat lunak, hingga jaringan komando dalam satu arsitektur digital.
"Efektivitas sistem ini terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari arsitektur digital yang lebih luas dan saling terhubung. Dalam peperangan modern, yang terpenting bukan lagi sekadar apa yang dapat dilihat oleh pesawat tanpa awak, melainkan seberapa cepat informasi tersebut dapat diteruskan dan dianalisis untuk mendukung pengambilan keputusan," katanya.
Peluncuran RQ-70 Dainn juga mencerminkan perubahan besar dalam industri pertahanan global. Jika sebelumnya pengembangan sistem militer identik dengan proses pengadaan yang panjang, kini perusahaan pertahanan mulai mengadopsi pendekatan yang lebih adaptif dengan memanfaatkan umpan balik langsung dari medan operasi.
Sky Watch menyebut pengembangan drone terbarunya dilakukan melalui siklus pembelajaran berkelanjutan yang berasal dari pengalaman operator di garis depan Ukraina. Model ini memungkinkan peningkatan kemampuan sistem dilakukan secara cepat mengikuti perubahan taktik dan ancaman di lapangan.
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Pemerintah Taiwan meluncurkan situs web untuk mendorong warga negara China melaporkan informasi intelijen. Pemerintah Taiwan meluncurkan situs web pada hari Minggu... | Halaman Lengkap [391] url asal
#israel #china #taiwan #intelijen #spionase
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 12:51
v/249587/
TAIPEI - Pemerintah Taiwan meluncurkan situs web pada hari Minggu (14/6/2026) untuk mendorong warga negara China melaporkan informasi intelijen. Langkah ini meniru Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam operasi spionase.Taipei menyatakan bahwa mereka menawarkan saluran yang aman bagi semakin banyak orang yang muak dengan sistem komunis China dan menginginkan perubahan.
Beijing menganggap pulau Taiwan yang telah memerintah sendiri selama puluhan tahun sebagai wilayah China. Kedua pihak telah lama saling memata-matai, dan Taiwan khususnya telah melaporkan peningkatan jumlah kasus spionase China.
Biro Keamanan Nasional Taiwan mengatakan di situs webnya bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi China menghadapi kesulitan yang semakin meningkat, sementara kontrol politik tetap "ketat".
"Ditambah dengan semakin banyaknya masalah sosial dan terkait mata pencaharian, kondisi ini telah memicu ketidakpuasan publik," bunyi sebuah pernyataan biro tersebut dalam bahasa Mandarin dan Inggris.
“Akibatnya, semakin banyak individu yang menghubungi lembaga terkait di Taiwan, dengan tujuan memberikan berbagai jenis informasi," paparnya.
Kantor Urusan Taiwan China tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Situs web yang diluncurkan Taiwan menampilkan video promosi berdurasi satu menit yang menurut biro tersebut dihasilkan oleh artificial intelligence (AI), menunjukkan seorang pegawai negeri sipil China menyaksikan rekan-rekannya diselidiki dan diberhentikan dari jabatannya.
“Ah, satu orang lagi telah diberhentikan,” kata pegawai negeri sipil tersebut yang tidak disebutkan namanya dengan aksen China utara, dengan teks terjemahan dalam aksara sederhana yang digunakan di China.
“Kawan-kawan lama menghilang satu per satu tanpa alasan yang jelas,” kata narator di video itu, yang dikutip Reuters.
Video tersebut berakhir dengan pegawai itu membeli telepon seluler dan mengetik di atasnya, sambil berkata: “Sekaranglah saatnya untuk berubah”.
Situs web tersebut diblokir di China, meskipun banyak warga China menggunakan VPN untuk mengakses situs-situs lain yang diblokir seperti media sosial dan mesin pencari Barat.
Biro tersebut menyerukan kepada warga negara China di dalam maupun luar negeri untuk secara aktif memberikan informasi dan melakukan perubahan dengan berani.
Disebutkan bahwa taktik baru ini mengikuti jejak lembaga-lembaga di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.
"Saluran ini memungkinkan warga negara China untuk memberikan informasi terkait intelijen guna memperluas sumber intelijen biro yang beragam," katanya.
China sendiri telah mencoba taktik serupa. Pada tahun 2024, China mengumumkan alamat email tempat orang dapat melaporkan informasi tentang kejahatan yang dilakukan oleh “separatis” Taiwan.
Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing, dengan mengatakan bahwa hanya rakyat pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
Pentagon meningkatkan penilaian ancaman kontraintelijennya untuk Israel ke tingkat tertinggi karena kekhawatiran tentang spionase Israel yang semakin agresif yang... | Halaman Lengkap [282] url asal
#israel #intelijen #amerika-serikat #aliansi-amerika-serikat
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/06/26 03:30
v/242377/
WASHINGTON - Pentagon meningkatkan penilaian ancaman kontraintelijennya untuk Israel ke tingkat tertinggi karena kekhawatiran tentang spionase Israel yang semakin agresif yang menargetkan pejabat AS. Itu dilaporkan NBC News.Badan Intelijen Pertahanan (DIA) mengeluarkan penilaian baru dalam beberapa minggu terakhir, meningkatkan penetapan ancaman Israel menjadi "kritis," menurut dua pejabat AS saat ini dan satu mantan pejabat AS yang dikutip oleh jaringan tersebut.
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
1. Israel Memantau Pejabat Senior AS
Langkah ini berasal dari kekhawatiran bahwa Israel melakukan upaya khusus untuk memantau pejabat senior AS untuk mendapatkan wawasan tentang pertimbangan internal pemerintahan Trump tentang konflik Timur Tengah, kata para pejabat.Mengutip pejabat saat ini, laporan tersebut mencatat bahwa penilaian DIA mencakup dokumen tujuh halaman yang mengidentifikasi insiden spesifik yang meningkatkan kekhawatiran AS.
2. Adanya Konflik Trump dan Netanyahu
Kewaspadaan yang meningkat ini terjadi ketika Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berselisih mengenai perang dengan Iran dan operasi militer Israel di Lebanon, termasuk percakapan telepon yang tegang pekan lalu.Israel sangat tertarik pada apakah Trump memutuskan untuk melanjutkan operasi tempur besar-besaran melawan Iran atau mengejar penyelesaian perang melalui negosiasi, kata para pejabat AS saat ini dan mantan pejabat AS serta para ahli dari luar negeri.
Kedutaan Besar Israel di Washington membantah laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa "sama sekali tidak benar" bahwa Israel melakukan pengumpulan intelijen terhadap pejabat pemerintah AS. Pentagon menolak berkomentar, sementara seorang pejabat Gedung Putih menggambarkan berita itu sebagai berita palsu.
3. Intelijen Israel Sangat Agresif
Emily Harding, wakil presiden Departemen Pertahanan dan Keamanan di Pusat Studi Strategis dan Internasional, menggambarkan Israel memiliki "layanan intelijen yang sangat agresif.""Mereka sangat tertarik dengan apa yang kita lakukan," tambahnya.
Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
Presiden Donald Trump menunjuk Bill Pulte sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional, di mana ia akan menggantikan Tulsi Gabbard sebagai kepala badan intelijen... | Halaman Lengkap [859] url asal
#amerika-serikat #cia #intelijen #donald-trump
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/06/26 03:30
v/239305/
WASHINGTON - Presiden Donald Trump menunjuk Bill Pulte sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional, di mana ia akan menggantikan Tulsi Gabbard sebagai kepala badan intelijen negara.Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
1. Tidak Memiliki Pengalaman Langsung di Bidang Intelijen
Melansir TIME, Pulte memasuki peran ini tanpa pengalaman langsung di bidang intelijen. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Badan Keuangan Perumahan Federal (FHFA), yang mengawasi sistem keuangan perumahan AS. Namun Pulte memiliki hubungan dekat dengan Trump dan telah menjadi sekutu yang dapat diandalkan bagi Presiden, setelah secara terbuka menyerang dan membantu memulai penyelidikan terhadap beberapa musuh politiknya.Dalam unggahan di Truth Social pada hari Selasa yang mengumumkan pengangkatan Pulte, Trump menunjuk pada apa yang ia sebut sebagai "pengalaman mendalamnya dalam mengelola masalah-masalah paling sensitif di Amerika, keamanan dan stabilitas Pasar, dan lebih dari 10 Triliun Dolar di Fannie Mae/Freddie Mac," merujuk pada dua perusahaan yang disponsori pemerintah yang dirancang untuk mendukung pasar hipotek AS di mana Pulte menjabat sebagai ketua. Pulte akan tetap menjabat sebagai ketua Fannie Mae dan Freddie Mac serta direktur FHFA selain bertindak sebagai direktur intelijen nasional.
2. Loyalis Trump
Pulte menjabat sebagai kepala FHFA sejak Maret lalu. Sebelumnya, ia mendirikan perusahaan investasinya sendiri dan menjabat di dewan direksi PulteGroup, perusahaan konstruksi rumah yang didirikan oleh kakeknya. Sebelum bergabung dengan Administrasi tahun lalu, ia dan istrinya dilaporkan telah menyumbangkan sekitar USD1 juta untuk kegiatan politik Trump.Selama menjabat sebagai direktur FHFA, Pulte telah beberapa kali mengajukan rujukan kriminal ke Departemen Kehakiman (DOJ) terkait tuduhan penipuan hipotek terhadap lawan-lawan Trump, termasuk mantan anggota DPR Eric Swalwell dan Senator Adam Schiff, keduanya Demokrat dari California; Jaksa Agung New York Letitia James; Gubernur Dewan Federal Reserve Lisa Cook; dan Jaksa Wilayah Fulton County Fani Willis. Kelima orang tersebut telah membantah tuduhan tersebut.
Setelah Pulte mengajukan dua rujukan kriminal terhadap James pada bulan Maret, pengacaranya, Abbe D. Lowell, menuduh “Trump dan para pendukung politiknya” “menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk melakukan balas dendam terhadapnya dengan mencoba mengubah nama, mengajukan kembali, dan mengulangi tuduhan yang tidak berdasar.”
Swalwell menggugat Pulte pada bulan November, mengklaim bahwa ia menggunakan kekuasaannya untuk “mengarang tuduhan penipuan hipotek yang tidak masuk akal.”
3. Dikritik karena Membawa Agenda Politik
Pengangkatan Pulte sebagai kepala intelijen nasional sementara dengan cepat menuai kritik dari beberapa anggota parlemen pada hari Selasa.Senator Mark Warner dari Virginia, Demokrat terkemuka di Komite Intelijen Senat, menyoroti kurangnya "pengalaman keamanan nasional yang luas" yang dipersyaratkan oleh undang-undang untuk peran tersebut dan mengklaim bahwa ia "dipilih karena kesediaannya untuk memajukan agenda politik presiden daripada pengalamannya."
“Begitulah cara intelijen dipolitisasi, bagaimana fakta-fakta yang tidak menyenangkan menghilang, bagaimana lembaga-lembaga yang bertugas melindungi demokrasi kita malah menjadi alat untuk memanipulasinya, dan bagaimana warga Amerika menjadi lebih rentan terhadap serangan teroris,” kata Warner. “Tampaknya ia dipilih justru karena Gedung Putih percaya bahwa ia akan memberikan narasi yang diinginkan, bukan intelijen yang kita butuhkan.”
Pengangkatan Pulte terjadi setelah Gabbard mengumumkan bulan lalu bahwa ia mengundurkan diri sebagai pejabat intelijen utama Trump efektif 30 Juni untuk menemani suaminya setelah didiagnosis menderita kanker tulang langka.
Tidak jelas berapa lama Pulte akan menjabat sebagai direktur intelijen sementara. Jika dinominasikan untuk posisi tersebut secara permanen oleh Trump, ia perlu dikonfirmasi oleh Senat.
4. Dijuluki Anjing Penyerang Trump
Pulte, 38 tahun, digambarkan oleh beberapa media AS sebagai "anjing penyerang" presiden.Sebagai pewaris kekayaan dari bisnis pembangunan rumah, Pulte telah memecah belah banyak orang, bahkan di dalam lingkaran Trump, dengan tindakan politiknya yang agresif dan terbuka.
Para anggota parlemen Demokrat AS mengkritik kurangnya pengalaman Pulte dan rekam jejaknya yang menargetkan lawan-lawan Trump.
5. Bukan Intelijen yang Diinginkan AS
Mark Warner, wakil ketua Komite Intelijen Senat, mengatakan Pulte tampaknya dipilih "karena Gedung Putih percaya dia akan memberikan narasi yang mereka inginkan, bukan intelijen yang kita butuhkan"."Presiden telah memilih seorang pejabat yang telah menunjukkan bukan hanya kemauan tetapi juga keinginan untuk menggunakan wewenang pemerintah untuk mengejar pembalasan politik," kata Warner dalam sebuah pernyataan.
Dan pemimpin Demokrat Chuck Schumer mengatakan di lantai Senat bahwa seseorang yang akan mengajukan "tuduhan yang tidak berdasar, politis, dan keterlaluan terhadap pemegang jabatan politik yang tidak disukainya tidak dapat dipercaya untuk melindungi keamanan nasional kita".
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance membela Pulte, menggambarkannya dalam sebuah unggahan media sosial sebagai "orang hebat yang menyadari bahwa birokrasi komunitas intelijen harus menanggapi kepemimpinan terpilih (bukan sebaliknya)".
Mehmet Oz, administrator Pusat Layanan Medicare dan Medicaid, menolak berkomentar tentang kualifikasi Pulte selama pengarahan di Gedung Putih pada hari Selasa.
Pulte telah memecat pengawas etika internal yang sedang menyelidiki sekutunya sendiri, dan menyebut tindakan tersebut sebagai cara untuk mengakhiri kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) – yang telah diupayakan Trump untuk dihapus dari pemerintahan AS – di Fannie Mae.
Dalam hal pembiayaan perumahan, ia telah mendukung pengenalan hipotek 50 tahun di Amerika Serikat, sebuah proposal yang telah membuat marah banyak orang dalam gerakan MAGA.
Pulte telah berselisih dengan keluarganya mengenai masa depan perusahaan PulteGroup mereka dan meninggalkan dewan direksinya pada tahun 2020.
Media AS melaporkan bahwa ia juga berselisih dengan orang-orang di lingkaran dalam Trump.
Pada tahun 2025, Menteri Keuangan Scott Bessent mengancam akan meninju Pulte saat makan malam di sebuah klub pribadi, menurut Wall Street Journal dan Politico.
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai gelombang serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan... | Halaman Lengkap [527] url asal
#intelijen #konstalasi-politik #presiden-prabowo-subianto #kejahatan-digital #media-sosial
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/05/26 16:05
v/234114/
JAKARTA - Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai gelombang serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial (medsos) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pola yang tidak biasa. Menurutnya, serangan di platform seperti Facebook, X (Twitter), YouTube, Instagram hingga Threads tampak dilakukan secara sistematis, massif, dan terstruktur.Amir mengatakan, dalam perspektif intelijen modern, perang opini di ruang digital bukan lagi sekadar perdebatan biasa antarpendukung politik. Serangan yang dilakukan terus-menerus, dengan narasi seragam dan timing yang hampir bersamaan, menurutnya bisa masuk dalam kategori operasi delegitimasi terhadap kekuasaan politik.
“Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,” kata Amir Hamzah dalam pernyataan kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).
Ia menilai, salah satu indikator operasi digital terstruktur adalah munculnya isu yang sama secara simultan di banyak platform dalam waktu berdekatan. Narasi kemudian diperkuat oleh akun-akun anonim, influencer politik, potongan video pendek, meme, hingga komentar-komentar yang membentuk persepsi tertentu.
Dalam dunia intelijen, kata Amir, operasi semacam itu dikenal sebagai psychological operation atau psyops digital, yakni perang psikologis yang dilakukan untuk membentuk persepsi publik secara masif.
“Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,” ujarnya.
Amir menilai pola serangan terhadap Prabowo memiliki kemiripan dengan berbagai operasi digital yang pernah terjadi di sejumlah negara ketika pemerintah mulai digoyang melalui perang opini sebelum tekanan politik yang lebih besar muncul.
Ia menjelaskan, dalam teori geopolitik modern, perang saat ini tidak selalu menggunakan senjata konvensional. Serangan dapat dilakukan melalui ekonomi, informasi, media sosial, hingga manipulasi persepsi publik.
“Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan hanya militer, tetapi juga media sosial. Kalau opini publik berhasil dikendalikan, maka stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,” katanya.
Menurut Amir, serangan digital yang terus diarahkan kepada Prabowo juga menunjukkan adanya sumber daya besar di belakang operasi tersebut. Ia menduga aktivitas itu membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil karena dilakukan terus-menerus dan lintas platform.
“Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,” ujarnya.
Amir bahkan menduga ada keterlibatan kelompok elite tertentu yang memiliki pengalaman dalam operasi intelijen dan perang informasi. Ia menegaskan bahwa pola operasi digital seperti sekarang biasanya tidak berdiri sendiri dan sering kali terkait pertarungan kepentingan di lingkar elite kekuasaan.
Ia juga menyoroti bagaimana isu-isu tertentu terus dimainkan untuk membentuk persepsi negatif terhadap Presiden Prabowo. Menurutnya, sebagian isu sengaja diproduksi agar publik mengalami kelelahan psikologis dan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.
“Kalau setiap hari publik disuguhi narasi negatif, lama-lama terbentuk kesan bahwa negara sedang gagal. Itu teknik klasik dalam operasi persepsi,” ujarnya.
Amir mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap enteng perang opini di media sosial. Menurutnya, destabilitas politik modern sering kali dimulai dari perang narasi yang tampak sederhana namun perlahan menggerus legitimasi pemerintah.
Ia menilai, pemerintah perlu memperkuat deteksi dini terhadap operasi digital, termasuk memetakan pola jaringan penyebaran isu, aktor penggerak, hingga sumber pembiayaan. “Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Karena hari ini serangan terhadap negara bisa dimulai dari algoritma,” ujarnya.
Profil Brigjen Muhammad Nas, Ahli Intelijen yang Diangkat Jadi Kapuspen TNI
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melantik Brigjen TNI Muhammad Nas menjadi Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI). Dia menggantikan... | Halaman Lengkap [232] url asal
#intelijen #panglima-tni #kapuspen-tni #perwira-tinggi-tni #jenderal-tni-agus-subiyanto
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/05/26 09:16
v/232169/
JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melantik Brigjen TNI Muhammad Nas menjadi Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI). Dia menggantikan Mayjen Aulia Dwi Nasrullah yang diangkat menjadi Waka Bais TNI.Pelantikan tersebut berlangsung di berlangsung di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis, 21 Mei 2026. Dengan tugas dan jabatan barunya, Muhammad Nas akan mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi menjadi Mayor Jenderal (Mayjen) TNI.
“Serah terima jabatan di lingkungan TNI merupakan bagian dari mekanisme pembinaan organisasi dan personel guna menjaga kesinambungan kepemimpinan serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas,” bunyi keterangan tertulis Puspen TNI dikutip Selasa (26/5/2026).
Sebelum menempati posisi strategis sebagai Kapuspen TNI, Brigjen TNI Muhammad Nas bertugas sebagai Asisten Intelijen (Asintel) Kaskostrad.
Pria kelahiran Nagari Gadut, Agam, Sumatera Barat (Sumbar) 8 Juni 1975 merupakan alumni Akademi Militer (Akmil) 1998 dari kesatuan Infanteri, dengan spesialisasi mendalam di bidang intelijen militer.
Lihat video: Panglima TNI Agus Subiyanto Sambut KRI Canopus-936
Selama mengabdi di militer, dia banyak menduduki posisi strategis baik di komando teritorial maupun di lingkungan intelijen strategis. Berikut ini jabatan yang pernah diemban Brigjen TNI Muhammad Nas:
• Komandan Kodim (Dandim) 0824/Jember pada 2016
• Komandan Kodim (Dandim) 0101/Kota Banda Aceh pada 2021-2022
• Asintel Kasdam II/Sriwijaya
• Paban Utama A-2 Direktorat A Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI pada 2025
• Asintel Kaskostrad pada 2025-2026
• Kapuspen TNI pada Mei 2026 hingga sekarang.
Siapa Tulsi Gabbard? Direktur Intelijen AS yang Rela Mundur karena Pilih Dampingi Suaminya Didiagnosis Kanker Tulang
Tulsi Gabbard mengatakan pada hari Jumat bahwa ia mengundurkan diri sebagai direktur intelijen nasional, setelah suaminya didiagnosis menderita kanker tulang langka.... | Halaman Lengkap [710] url asal
#donald-trump #perang-as-vs-iran #intelijen #amerika-serikat #tulang
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/05/26 01:10
v/230292/
WASHINGTON - Tulsi Gabbard mengatakan pada hari Jumat bahwa ia mengundurkan diri sebagai direktur intelijen nasional, setelah suaminya didiagnosis menderita kanker tulang langka.Dalam surat kepada Presiden Trump, Gabbard mengatakan pengunduran dirinya akan berlaku efektif pada 30 Juni.
Siapa Tulsi Gabbard? Direktur Intelijen AS yang Rela Mundur karena Pilih Dampingi Suaminya Didiagnosis Kanker Tulang
1. Ingin Mendampingi Suaminya
"Suami saya, Abraham, baru-baru ini didiagnosis menderita kanker tulang yang sangat langka. Ia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya melalui perjuangan ini," katanya, dilansir CBS. "Saya tidak dapat dengan hati nurani yang baik memintanya untuk menghadapi perjuangan ini sendirian sementara saya terus berada di posisi yang menuntut dan menyita waktu ini."Gabbard mengatakan suaminya telah menjadi "penopang" baginya selama 11 tahun pernikahan mereka, yang mencakup penugasan militer, kampanye politik, dan perannya dalam pemerintahan Trump.
"Kekuatan dan cintanya telah menopang saya melalui setiap tantangan," katanya, menambahkan bahwa dia "sepenuhnya berkomitmen untuk memastikan transisi yang lancar dan menyeluruh dalam beberapa minggu mendatang."
Trump memuji Gabbard dalam sebuah unggahan di Truth Social, mengatakan bahwa ia "telah melakukan pekerjaan yang luar biasa." Ia mengatakan Aaron Lukas, wakil Gabbard di Kantor Direktur Intelijen Nasional, akan menjabat sebagai direktur sementara.
2. Mundur dalam Kondisi Perang Iran
Pengunduran diri Gabbard pertama kali dilaporkan oleh Fox News.Gabbard adalah anggota Kabinet keempat yang meninggalkan pemerintahan tahun ini, menyusul kepergian Jaksa Agung Pam Bondi, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, dan Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer.
Kepergiannya akan menciptakan kekosongan dalam peran penting yang mengawasi 18 lembaga yang membentuk komunitas intelijen nasional di tengah perang dengan Iran.
3. Tidak Mendukung Intervensi Militer ke Iran
Gabbard, mantan anggota parlemen Demokrat yang memisahkan diri dari partainya untuk mendukung Trump pada tahun 2024, dilantik pada Februari 2025. Ia selalu menentang intervensi militer di Iran sepanjang karier politiknya.Saat tampil di hadapan Kongres awal tahun ini, Gabbard tidak menyatakan dukungan untuk perang yang sedang berlangsung, dengan mengatakan kepada para anggota bahwa terserah presiden untuk menentukan apa yang dianggap sebagai "ancaman yang akan segera terjadi."
Pada bulan Maret, ajudan utama Gabbard, Joe Kent, yang memimpin Pusat Kontraterorisme Nasional, mengundurkan diri, dengan mengatakan "Iran tidak menimbulkan ancaman yang akan segera terjadi bagi negara kita." Gabbard mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa pernyataan Kent membuatnya khawatir, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Pada akhirnya, kami telah memberikan penilaian intelijen kepada presiden dan presiden dipilih oleh rakyat Amerika dan membuat keputusannya sendiri berdasarkan informasi yang tersedia baginya," katanya.
Sebelum pemboman fasilitas nuklir Iran pada tahun 2025, Trump mengatakan Gabbard "salah" ketika ia bersaksi kepada para anggota parlemen awal tahun itu bahwa Iran tidak sedang membangun senjata nuklir. Setelah Trump menolak penilaian tersebut, Gabbard menuduh media "mengambil kesaksian saya di luar konteks."
Gabbard juga menimbulkan kekhawatiran pada bulan Januari ketika ia muncul di markas pemilihan di Fulton County, Georgia, sementara FBI menjalankan surat perintah penggeledahan dan mengambil surat suara serta catatan lain yang terkait dengan pemilihan 2020. Partai Demokrat mempertanyakan mengapa kepala intelijen terlibat dalam operasi penegakan hukum domestik.
4. Memecat Lebih 1.300 Pegawainya
Sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI), Gabbard mengatakan musim panas lalu bahwa ia akan memangkas staf kantornya sekitar 40%, mengurangi jumlah pegawainya menjadi sekitar 1.300. Ia memperkirakan pemangkasan tersebut akan menghemat sekitar USD700 juta per tahun. Gabbard mengatakan pada saat itu bahwa ODNI telah menjadi "membengkak dan tidak efisien, dan komunitas intelijen penuh dengan penyalahgunaan kekuasaan."
Dalam sebuah pernyataan tentang kepergiannya, anggota DPR dari Partai Republik, Rick Crawford dari Arkansas, ketua Komite Intelijen DPR, mengatakan Gabbard telah membuat "kemajuan signifikan" pada prioritas Trump, termasuk "menerapkan reformasi yang dibutuhkan untuk mengatasi persenjataan dan politisasi" komunitas intelijen dan "mengambil langkah-langkah nyata untuk meningkatkan transparansi."
Senator Mark Warner dari Virginia, Demokrat terkemuka di Komite Intelijen Senat, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pengganti Gabbard "harus berkomitmen untuk memulihkan kepercayaan pada kantor tersebut, melindungi integritas intelijen kita, dan memastikan para profesional intelijen negara kita dapat menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan, tanpa rasa takut atau campur tangan."
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mengatakan presiden "tidak boleh memperlakukan kekosongan ini sebagai kesempatan lain untuk memberi penghargaan kepada loyalis." "Lebih mengutamakan kepentingan politik daripada kompetensi."
"Demokrat di Senat akan melawan setiap calon yang mengutamakan politik Trump di atas keamanan Amerika," kata Demokrat dari New York itu.
Tulsi Gabbard Mundur dari Jabatan Kepala Intelijen AS di Pemerintahan Trump
Tulsi Gabbard mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direktur intelijen nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut surat pengunduran dirinya yang... | Halaman Lengkap [580] url asal
#amerika-serikat #perang-as-vs-iran #intelijen #donald-trump #perang-iran-vs-israel
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/05/26 07:05
v/229681/
WASHINGTON - Tulsi Gabbard mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direktur intelijen nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut surat pengunduran dirinya yang diunggah di akun X-nya. Dalam surat pengunduran dirinya, Gabbard mengatakan kepada Trump bahwa ia "sangat berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan kepada saya dan atas kesempatan untuk memimpin Kantor Direktur Intelijen Nasional selama satu setengah tahun terakhir".Ia menyebutkan diagnosis terbaru suaminya dengan bentuk kanker tulang yang langka sebagai alasan pengunduran dirinya.
Trump juga mengkonfirmasi pengunduran diri tersebut dalam unggahan di akun Truth Social-nya, dengan mengatakan, "Sayangnya, setelah melakukan pekerjaan yang hebat, Tulsi Gabbard akan meninggalkan Administrasi pada 30 Juni."
"Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kami akan merindukannya," tambahnya.
Presiden menambahkan wakil direktur utama intelijen nasional, Aaron Lukas, akan menjabat dalam peran tersebut sebagai pelaksana tugas.
Gabbard menjabat di Kongres AS sebagai anggota Partai Demokrat selama delapan tahun, dari 2013 hingga 2021. Ia meluncurkan upaya yang kurang diunggulkan untuk menjadi presiden pada tahun 2020.
Sebagai mantan anggota Garda Nasional Hawaii, ia dikerahkan selama invasi AS ke Irak. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya yang sangat anti-intervensionis.
Setelah meninggalkan jabatannya, Gabbard berpisah dengan Partai Demokrat, dan pada tahun 2020, ia mendukung Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya merupakan kritikus utamanya.
Ia menunjuk janji Trump untuk mengakhiri petualangan militer AS di luar negeri sebagai motivasi di balik keputusannya.
Pemerintahan Presiden Joe Biden saat itu "membuat kita menghadapi banyak perang di berbagai front di berbagai wilayah di dunia dan lebih dekat ke ambang perang nuklir daripada sebelumnya," kata Gabbard pada acara kampanye Trump di Detroit, Michigan.
Namun, pernyataan Gabbard di masa lalu, termasuk penentangannya terhadap aksi militer melawan Venezuela dan Iran, sangat kontras dengan tindakan pemerintahan Trump.
Tulsi dilaporkan dikesampingkan ketika pemerintahan memutuskan melancarkan penculikan militer terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Setelah awalnya bungkam tentang Iran, Gabbard kemudian membela keputusan pemerintahan Trump untuk melancarkan perang saat ini terhadap Iran bersama Israel, dengan menyatakan presiden, dan bukan komunitas intelijen, "bertanggung jawab untuk menentukan apa yang merupakan dan bukan ancaman yang akan segera terjadi".
Masa Jabatan yang Kontroversial
Beberapa tindakan Gabbard sebagai Direktur Intelijen Nasional juga menjadi sorotan selama masa jabatannya.
Itu termasuk pemecatan para pejabat di Dewan Intelijen Nasional (NIC) tak lama setelah menerbitkan laporan yang bertentangan dengan klaim pemerintahan Trump bahwa pemerintah Venezuela bekerja sama dengan geng Tren de Aragua.
Posisi tersebut merupakan kunci upaya pemerintahan Trump untuk segera mendeportasi warga Venezuela.
Kehadiran Gabbard dalam penggerebekan FBI di pusat pemilihan di negara bagian Georgia, AS, juga menimbulkan pertanyaan, dengan seorang senator Demokrat termasuk di antara mereka yang menyuarakan kekhawatiran bahwa ia telah melampaui wewenang jabatannya.
Trump telah lama fokus pada administrasi pemilihan di AS, mengklaim, tanpa bukti, bahwa pemilihan 2020 "dicuri".
Gabbard secara teratur menyatakan ia berupaya mengakhiri "persenjataan dan politisasi" komunitas intelijen.
Pada hari Jumat, beberapa anggota parlemen Partai Republik memuji Gabbard.
Senator Eric Schmitt, dalam unggahan di X, mengatakan, "Gabbard berupaya menetapkan nada akuntabilitas di seluruh pemerintahan federal, dan saya menyesal mendengar bahwa ia akan meninggalkan Administrasi."
Pengamat kebijakan luar negeri lainnya mengatakan mereka berharap pengunduran diri Gabbard akan memberikan wawasan tentang keputusan pemerintahan Trump untuk berperang.
“Tulsi Gabbard mencalonkan diri sebagai presiden, berkampanye menentang perang penggulingan rezim, dan akhirnya bertugas di pemerintahan yang melancarkan perang paling bodoh melawan Iran,” kata Matt Duss, mantan penasihat kebijakan luar negeri Bernie Sanders dan wakil presiden eksekutif di Center for International Policy, kepada Al Jazeera.
“Saya berharap setelah ia meninggalkan pemerintahan Trump, ia akan berbicara tentang bagaimana AS disesatkan ke dalam konflik yang tidak perlu lainnya,” katanya.
Geotab Tingkatkan Pencegahan Kecelakaan Armada dengan GO Focus Plus
Geotab meluncurkan GO Focus Plus di Indonesia, solusi AI untuk mencegah kecelakaan armada dengan teknologi video intelijen dan coaching suara real-time. [893] url asal
#geotab #go-focus-plus #pencegahan-kecelakaan #keselamatan-armada #kamera-dasbor-ai #coaching-pengemudi #manajemen-armada #video-intelijen #risiko-berkendara #telematika-real-time #keselamatan-transpor
(Bisnis.Com - Teknologi) 07/05/26 19:26
v/214757/
Bisnis.com, JAKARTA - Geotab, pemimpin global dalam solusi transportasi terhubung, video, dan pelacakan aset, hari ini resmi meluncurkan GO Focus Plus ®, kamera dasbor berbasis AI terbaru beserta platform video intelijen di Indonesia. Solusi ini dirancang untuk membantu perusahaan armada mengurangi resiko kecelakaan secara proaktif meningkatkan keselamatan pengemudi, serta memperkuat ketahanan operasional.
GO Focus Plus menghadirkan teknologi kamera dual-facing dengan kemampuan coaching suara in-cab secara real-time yang memungkinkan pengemudi segera mengoreksi perilaku berisiko seperti penggunaan ponsel, kelelahan, maupun jarak berkendara yang tidak aman. Teknologi ini diklaim mampu mengurangi perilaku tailgating hingga 90% dan penggunaan ponsel saat berkendara hingga 95%, sehingga setiap peringatan bisa memicu perubahan kebiasaan berkendara yang lebih aman dan terukur.
Peluncuran ini hadir di tengah tantangan keselamatan transportasi di Indonesia yang masih tinggi. Setiap tahunnya tercatat lebih dari 155.000 kecelakaan lalu lintas, dengan hampir 90% disebabkan oleh faktor manusia, seperti kelelahan dan distraksi. Di sisi lain, operator armada juga menghadapi kompleksitas operasional yang semakin meningkat, mulai dari kepadatan lalu lintas perkotaan hingga rute logistik jarak jauh dengan keterbatasan konektivitas.
Dalam konteks tersebut, sektor transportasi Indonesia tengah mengalami pergeseran yang jelas, dari pengelolaan insiden yang bersifat reaktif menuju pencegahan risiko secara proaktif dan real-time.
“Di Indonesia, keselamatan berkendara di jalan dipengaruhi oleh kombinasi perilaku manusia dan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujar Ezanne Soh, Associate Vice President, Southeast Asia, Geotab. “Pengemudi beroperasi di lingkungan dimana risiko dapat berubah dalam hitungan detik. Di saat yang sama, terdapat tekanan yang semakin besar dari regulator, pelanggan, dan perusahaan asuransi agar operator armada menunjukkan akuntabilitas serta kinerja keselamatan yang lebih baik. Hal ini mendorong pergeseran dari sekadar meninjau insiden setelah terjadi menjadi upaya pencegahan secara real-time. GO Focus Plus dirancang untuk mendukung transformasi tersebut, dengan memberikan pengemudi dan manajer armada alat yang dibutuhkan untuk bertindak sebelum risiko berkembang menjadi sebuah insiden.”
Dirancang untuk Tantangan Jalan di Indonesia
Kondisi jalan di Indonesia menghadirkan tantangan operasional yang unik, mulai dari kemacetan di perkotaan dengan beragam jenis kendaraan hingga koridor logistik di wilayah terpencil dengan keterbatasan jaringan. Situasi ini menuntut solusi yang melampaui sebatas teknologi telematika konvensional.
GO Focus Plus menjawab tantangan tersebut dengan menggabungkan teknologi video intelijen berbasis AI dan data telematika secara real-time, sehingga memungkinkan perusahaan armada memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual terhadap perilaku pengemudi serta kondisi jalan.
Dengan dukungan Edge AI yang sudah terpasang langsung di perangkat, sistem ini mampu mendeteksi risiko seperti distraksi, kelelahan, dan perilaku berkendara yang tidak aman secara real-time, bahkan tanpa koneksi jaringan aktif, sehingga memastikan perlindungan keselamatan tetap optimal di berbagai rute, termasuk Trans-Jawa dan Trans-Sumatra.
Di saat yang sama, kecerdasan kontekstualnya dirancang untuk menyesuaikan dengan dinamika lalu lintas khas Indonesia, sehingga dapat membedakan antara risiko yang nyata dan situasi umum di jalan, seperti manuver mendadak akibat kendaraan roda dua di sekitarnya.
Fitur Utama untuk Armada yang Lebih Aman dan Efisien
- Coaching Pengemudi Proaktif: Memberikan peringatan suara in-cab secara langsung saat terdeteksi perilaku berisiko seperti distraksi, kelelahan, atau jarak berkendara yang tidak aman, sehingga memungkinkan pengemudi segera melakukan koreksi.
- Manajemen Armada yang Lebih Terarah: Didukung video intelijen berbasis AI untuk mengidentifikasi risiko paling krusial dan pola yang berulang, tanpa perlu meninjau rekaman secara manual. Setiap peringatan dilengkapi dengan video dan data kontekstual untuk mendukung proses pembinaan yang lebih efektif.
- Alur Kerja Terintegrasi dan Standar Keselamatan: Terintegrasi dalam platform MyGeotab, memungkinkan penugasan, pemantauan, serta pengakuan atas peningkatankinerja pengemudi, sekaligus membantu perusahaan membangun budaya keselamatan yang lebih kuat.
Lebih dari Sekadar Keselamatan: Dorong Efisiensi, Kepatuhan, dan Kepercayaan
Kenaikan harga bahan bakar yang kini berada di kisaran Rp10.000-13.000 per liter membuat setiap inefisiensi, sekecil apapun, berdampak signifikan terhadap margin operasional armada. Dengan menggabungkan bukti video dan data telematika seperti kecepatan, lokasi, serta diagnostik mesin, perusahaan dapat mengurangi waktu idle yang tidak perlu, mengoptimalkan rute perjalanan, dan meningkatkan kinerja secara keseluruhan.
Di saat yang sama, industri juga mulai beralih ke model Usage-Based Insurance (UBI), dimana premi dapat semakin ditentukan berdasarkan perilaku berkendara dan data yang terverifikasi. Insight berbasis video membantu mengurangi ambiguitas dalam proses klaim, melindungi pengemudi dari tuduhan yang tidak akurat, serta memperkuat kepercayaan dengan pihak asuransi dan klien korporasi. Bahkan, pendekatan ini juga berpotensi membantu menurunkan biaya premi. Bukti video turut menjadi perlindungan tambahan bagi pengemudi, terutama dalam kondisi lalu lintas Indonesia yang dinamis, termasuk interaksi antara kendaraan besar dan sepeda motor.
GO Focus Plus juga dikembangkan dengan prinsip privacy-in-design yang dilengkapi fitur seperti pengaturan masker privasi dan mode perekaman khusus yang berfokus ke jalan. Hal ini memastikan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi di Indonesia (UU PDP), sekaligus menjaga keseimbangan antara aspek keselamatan dan privasi.
Tetapkan Standar Baru Keselamatan Armada di Indonesia
Peluncuran GO Focus Plus menjadi langkah penting dalam memperkuat komitmen Geotab di Indonesia, sekaligus menegaskan posisinya sebagai penyedia solusi telematika terintegrasi yang komprehensif.
Dengan menggabungkan video intelligence dan data kendaraan terhubung dalam satu platform, Geotab memungkinkan perusahaan armada tidak hanya memahami “apa yang terjadi”, tetapi juga “mengapa hal itu terjadi”, serta mengantisipasi dan mencegah potensi risiko di masa depan. Pendekatan ini mendorong terciptanya jalan yang lebih aman, operasional yang lebih efisien, serta akuntabilitas yang lebih kuat di seluruh ekosistem transportasi Indonesia.
GO Focus Plus merupakan bagian dari pengembangan platform video intelligence Geotab yang terus berevolusi, didukung model AI canggih untuk menghadirkan inovasi berkelanjutan dalam ekosistem solusi terhubung.
Informasi lebih lanjut mengenai GO Focus Plus dan platform Video Intelligence Geotab dapat diakses melalui situs resmi Geotab.
Profil Kabais TNI Letjen Robi, Elite Kopassus dan Eks Ajudan Prabowo
Letjen TNI Robi Herbawan, eks ajudan Prabowo dan elite Kopassus, kini menjabat sebagai Kabais TNI, memperkuat intelijen strategis pertahanan negara. [245] url asal
#kabais-tni #letjen-robi #elite-kopassus #ajudan-prabowo #badan-intelijen-strategis #kepala-badan-informasi #komunikasi-intelijen #tni-ad #satuan-penanggulangan-teror #satgultor-sat-81 #komando-pasukan
(Bisnis.Com - Terbaru) 07/05/26 16:52
v/214513/
Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Letjen TNI Robi Herbawan, ditunjuk sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait. Dia menjelaskan bahwa penunjukan Robi merupakan bagian dari proses regenerasi serta penguatan organisasi di tubuh TNI.
Dengan adanya mutasi tersebut, diharapkan pelaksanaan tugas intelijen strategis dalam mendukung pertahanan negara dapat berjalan lebih optimal.
"Benar, Letjen TNI Robi Herbawan saat ini mendapat amanah sebagai Kabais TNI. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Kementerian Pertahanan RI," ujar Rico saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).
Lantas, bagaimana profil Letjen Robi Herbawan?
Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, Robi merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1994. Dalam perjalanan kariernya di militer, dia cukup lama bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Robi juga pernah menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto ketika Prabowo menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada periode 1995–1998.
Selain itu, dia juga pernah berdinas di satuan elite TNI AD, yakni Satuan Penanggulangan Teror (Satgultor) Sat-81 Kopassus selama sekitar 12 tahun. Pengalaman panjang di pasukan elite tersebut membuatnya dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis.
Beberapa posisi yang pernah diembannya antara lain Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) BAIS TNI di Aceh, Kepala Pusat Informasi Strategi Pertahanan (Kapusinfostrahan) Bainstrahan Kemhan, hingga Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Kemhan.
Kini, Robi dipercaya memimpin Badan Intelijen Strategis TNI sebagai Kabais TNI dengan pangkat jenderal bintang tiga atau letnan jenderal (Letjen).
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56