Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa teknologi Meta makin agresif dalam menarik keuntungan langsung dari basis pengguna globalnya di platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Perusahaan bentukan Mark Zuckerberg ini merilis skema layanan berbayar bulanan guna memonetisasi fitur-fitur eksklusif yang sebelumnya tidak tersedia pada versi standar, menandai pergeseran besar dalam model bisnis yang selama ini bertumpu dominan pada pendapatan iklan.
Strategi monetisasi lini konsumen ini meluncur melalui paket langganan yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik aplikasi.
Dilansir dari TechCrunch, Kamis (28/5/2026), perusahaan menetapkan tarif paket Instagram Plus dan Facebook Plus senilai US$3,99 atau setara Rp71.000-an per bulan, sementara paket WhatsApp Plus dibanderol sedikit lebih rendah pada angka US$2,99 atau berkisar Rp53.000-an per bulan.
Langkah korporasi menghadirkan opsi premium ini dirancang guna menangkap ceruk pasar pengguna yang membutuhkan fleksibilitas sosial dan fungsionalitas lebih tinggi.
Pada ekosistem Instagram Plus dan Facebook Plus, Meta menjual utilitas ekspresi sosial yang lebih privat dan mendalam. Pengguna berbayar diberikan hak istimewa seperti kemampuan memperpanjang durasi penayangan Story melebihi batas normal 24 jam, mengintip unggahan cerita tanpa terdeteksi dalam daftar penonton, hingga menyembunyikan unggahan profil baru dari lini masa pengikut (feed follower).
Selain itu, paket Plus pada kedua aplikasi sosial tersebut menawarkan perangkat kustomisasi visual yang mencakup font khusus untuk bio profil, ikon aplikasi yang dapat diubah sesuai preferensi, hingga fitur analitik sosial seperti melihat akumulasi penonton ulang Story.
Adapun di Indonesia, per April 2026 Facebook dilaporkan memiliki sekitar 210,4 juta pengguna, yang mencakup lebih dari 73% total populasi negara.
Sementara itu, Instagram menempel ketat di posisi kedua dengan total penetrasi mencapai 121,5 juta pengguna aktif bulanan, di mana kelompok demografi usia muda 25 hingga 34 tahun menjadi motor penggerak utama platform visual tersebut.
Di sisi lain, WhatsApp mengukuhkan posisinya sebagai raja aplikasi perpesanan nomor satu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Menurut laporan We Are Social, platform komunikasi ini mendominasi dengan tingkat persentase penggunaan mencapai 90,8% dari total pengguna internet di dalam negeri.
Head of Product Meta, Naomi Gleit, mengungkapkan pihak manajemen berkomitmen terus menambah variasi fitur rekreasional ini guna memperkuat daya tarik paket langganan ke depan.
Di sisi lain, WhatsApp Plus difokuskan untuk menggarap pasar perpesanan dengan menekankan aspek personalisasi. Dengan tarif langganan bulanan tersebut, pengguna dapat menikmati opsi tema aplikasi yang lebih variatif, nada dering khusus, kapasitas penyematan pesan (chat pin) yang lebih banyak, serta akses ke stiker premium eksklusif.
Tidak berhenti pada segmen pengguna kasual, agresivitas monetisasi Meta juga merambah ke sektor bisnis, kreator konten, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Korporasi mengonfirmasi dimulainya uji coba paket profesional terintegrasi di bawah payung komersial bernama 'Meta One'.
Melalui Meta One, pengguna yang membutuhkan kemampuan komputasi tingkat tinggi dapat mengakses pemrosesan penalaran AI yang lebih dalam serta kuota pembuatan konten berbasis gambar dan video generator yang jauh lebih besar.
Paket Meta One ini akan diuji coba terbatas mulai bulan depan di Singapura, Guatemala, dan Bolivia dengan dua skema harga, yakni kelas Plus senilai US$7,99 per bulan dan kelas Premium pada tarif USD19,99 per bulan.