Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) bakal menghentikan pengurangan surat utang pemerintah (Treasury securities) mulai 1 Desember 2025 di tengah kondisi likuiditas pasar uang yang mulai mengetat dan menurunnya tingkat cadangan bank.
Hal itu disampaikan Ketua The Fed Jerome Powell usai mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan (fed funds rate/FFR) sebesar 25 basis poin atau 0,25% menjadi 3,75%-4,00% saat konferensi pers hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal [FOMC], Kamis (30/10/2025) dini hari.
"Dalam mempertimbangkan penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga FFR, Komite akan menilai dengan cermat data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko. Komite memutuskan untuk mengakhiri pengurangan kepemilikan sekuritas agregatnya pada 1 Desember. Komite sangat berkomitmen untuk mendukung penciptaan lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target 2%," ujar Jerome Powell dikutip dari Reuters, Kamis (30/10/2025).
Adapun, alasan The Fed menghentikan pengurangan Treasury securities sebesar US$6,6 triliun merupakan imbas dari kondisi likuiditas pasar uang mulai mengetat dan tingkat cadangan bank menurun.
Alih-alih membiarkan hingga U$5 miliar obligasi Treasury jatuh tempo setiap bulan dan tidak diganti, The Fed mengatakan bahwa mulai 1 Desember, pihaknya akan berusaha mempertahankan jumlah obligasi pemerintah yang dimiliki dengan memperpanjang jatuh tempo obligasi Treasury yang akan jatuh tempo.
The Fed juga menyatakan bahwa pihaknya akan mempertahankan rencana saat ini untuk membiarkan hingga US$35 miliar sekuritas yang dijamin hipotek jatuh tempo setiap bulan, target yang belum pernah tercapai dalam lebih dari tiga tahun pengurangan.
Namun, The Fed akan menginvestasikan kembali seluruh hasil dari sekuritas yang dijamin hipotek yang jatuh tempo ke dalam surat utang Treasury mulai 1 Desember.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya biaya pendanaan dan berkurangnya likuiditas, yang mendorong sejumlah bank Wall Street untuk memperingatkan bahwa The Fed sebaiknya menghentikan proses tersebut jika ingin menghindari distorsi pasar seperti yang terjadi pada September 2019.
Sejak bank sentral mulai mengurangi portofolio senilai U$6,6 triliun pada Juni 2022, lebih dari US$2 triliun dana telah meninggalkan sistem keuangan AS. Hal ini hampir mengosongkan indikator likuiditas utamanya, fasilitas repurchase terbalik, tepat saat lonjakan penerbitan utang jangka pendek menarik lebih banyak dana keluar.
Akibatnya, beberapa obligasi jangka pendek yang digunakan bank untuk meminjam dan meminjamkan dana satu sama lain terus meningkat. Bahkan suku bunga acuan The Fed, yang diturunkan oleh pembuat kebijakan sebesar 25 basis poin untuk kedua kalinya tahun ini — juga terus naik dalam rentang yang ditetapkan.