Bisnis.com, JAKARTA — Wacana pemerintah membangun kembali badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk menata ulang industri sandang nasional yang selama beberapa tahun terakhir tertekan oleh banjir impor dan pelemahan daya saing.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai kehadiran kembali BUMN tekstil penting bukan hanya dari sisi pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai alat stabilisasi industri dan pasar.
Menurutnya, pembubaran Industri Sandang Nusantara (ISN) pada 2020 menyisakan kekosongan peran negara dalam menjaga keseimbangan industri tekstil, khususnya dalam mengendalikan harga, kualitas, dan struktur pasar.
“BUMN sandang ini seharusnya menjadi stabilisator ribuan industri sandang di Indonesia. Mencegah terjadinya kartelisasi yang membuat harga sandang mahal, sekaligus menjaga keseimbangan antara supply dan demand,” ujarnya dikutip Sabtu (17/1/2026).
Bambang Haryo menilai BUMN tekstil juga berpotensi menjadi jangkar mutu dan harga, terutama ketika industri domestik menghadapi tekanan dari produk impor berharga murah. Tanpa kehadiran pemain negara, pasar sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme yang kerap merugikan produsen dalam negeri.
Rencana pemerintah untuk kembali membangun industri sandang nasional juga dinilai memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas, terutama dalam menekan ketergantungan impor bahan baku dan meningkatkan nilai tambah domestik.
“Kapas bisa disediakan dari dalam negeri, lalu ketergantungan impor bahan baku dari China yang sekarang 60%—90% itu bisa dikurangi drastis,” ucapnya.
Ia menilai target pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor industri sandang dari sekitar US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam satu dekade masih realistis, asalkan dibarengi strategi industrialisasi yang konsisten.
“Ini bisa dilakukan kalau pemerintah serius. Industri sandang yang dibangun harus disertai inovasi tinggi agar mampu bersaing secara global,” katanya.
Selain BUMN, Bambang Haryo juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem industri pendukung, termasuk industri kreatif dan UMKM tekstil yang menghasilkan produk bernilai unik dan tidak mudah disaingi negara lain.
“Ekraf ini anggarannya masih sangat kecil. Padahal dari sini bisa lahir produk-produk spesifik yang tidak ada padanannya di dunia, sehingga menarik konsumen luar negeri,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai kebangkitan industri sandang nasional tidak hanya bergantung pada ekspor, tetapi juga konsumsi domestik. Pemerintah dinilai perlu lebih agresif mendorong penggunaan produk dalam negeri.
“Jadi yang naik bukan hanya ekspor, tapi juga konsumsi dalam negeri. Masyarakat harus banyak menggunakan produk sandang buatan Indonesia,” pungkasnya.
Wacana kebangkitan BUMN tekstil ini muncul di tengah tekanan berat industri TPT nasional akibat impor murah dan pelemahan utilisasi pabrik. Kejelasan roadmap, model bisnis, serta relasi dengan industri swasta akan menjadi penentu apakah langkah ini benar-benar menjadi solusi struktural atau sekadar kebijakan simbolik.