JAKARTA, KOMPAS.com - Industri mebel Indonesia kini menghadapi tekanan ganda.
Di dalam negeri, pasar dibanjiri produk impor murah, sementara di luar negeri, ekspor justru menjadi penopang utama keberlangsungan industri.
Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam posisi dilematis: bertahan di pasar domestik yang melemah atau terus mengandalkan pasar ekspor yang penuh ketergantungan.
KOMPAS.com/Dian Erika Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur di acara Indonesia International Furniture Expo 2025 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/3/2025).Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, menilai serbuan produk impor, terutama dari China, telah menekan pasar dalam negeri secara signifikan.
“Produk impor itu masuk seperti air bah lewat platformonline. Kita bahkan tidak tahu jumlahnya, bisa ratusan ribu,” ujar Sobur kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Menurut Sobur, tekanan di pasar lokal bukan karena kurangnya produk dalam negeri, melainkan karena derasnya barang impor yang lebih murah dan mudah diakses.
“Bukan karena kita tidak punya barang, tapi karena produk luar masuk begitu banyak dan tidak bisa kita cegah,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perjanjian dagang membuat Indonesia tidak leluasa membatasi impor.
Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum pulih memperburuk kondisi.
“Kalau kita buat safeguard, negara lain bisa membalas. Barang kita juga bisa ditahan di sana. Pasar dalam negeri ini sebenarnya belum pulih. Pertumbuhan ekonomi kita masih di kisaran 4 sampai 5 persen, itu belum cukup,” tegas Sobur.
Menurutnya, pertumbuhan minimal 8 persen diperlukan agar pasar domestik benar-benar kuat.
Shutterstock/zhu difeng Ilustrasi taman, ilustrasi furnitur luar ruangan.Fenomena lain yang muncul adalah perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih produk murah dan praktis, meskipun kualitasnya lebih rendah.
“Masyarakat sekarang memilih yang paling mudah dijangkau. Bisa pesan hari ini, besok sudah datang,” ujarnya.
Produk impor tersebut umumnya menggunakan material campuran dengan kualitas di bawah standar produk lokal.
Pasar untuk produk seperti ini, lanjutnya, sangat besar, terutama di sektor komersial seperti kafe dan restoran.
“Bukan kayu solid, pakai bahan campuran murah. Setahun rusak juga tidak masalah bagi mereka. Coba lihat kafe-kafe, banyak yang pakai furnitur plastik atau bahan murah. Itu marketnya besar sekali,” ungkapnya.
Ekspor jadi andalan
Di tengah tekanan domestik, ekspor menjadi tumpuan utama industri mebel nasional.
Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar.
Ia menyebut Amerika sebagai pusat pasar global yang tidak hanya menyerap produk, tetapi juga menjadi hub distribusi ke negara lain.
“Sekitar 54 sampai 56 persen ekspor kita ke Amerika. Bahkan bisa naik sampai 60 persen. Amerika itu bukan cuma pasar, tapi juga hub untuk branding dan distribusi ke negara lain,” katanya.
“Begitu ada hambatan tarif atau kebijakan, ekspor kita langsung terdampak,” ujarnya.
Di pasar global, Indonesia bersaing dengan negara seperti China dan Vietnam yang memiliki efisiensi produksi lebih tinggi.
Ia menambahkan bahwa kekuatan China justru ada pada pasar domestiknya yang solid.
SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.“Kalau ekspor mereka terganggu, dalam negerinya tetap kuat. Kita belum seperti itu,” ujarnya.
UMKM masih rentan
Sobur juga menyoroti kondisi pelaku usaha dalam negeri, khususnya UMKM, yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Selain itu, biaya produksi yang tinggi akibat energi dan regulasi membuat daya saing semakin tertekan.
“UMKM kita masih rentan, belum stabil, belum kuat. Regulasi juga masih rumit. Energi mahal, listrik mahal, ditambah regulasi yang kompleks. Itu semua membebani industri,” jelasnya.
Salah satu keluhan utama adalah banyaknya regulasi yang harus dipenuhi, terutama untuk ekspor.
Ia membandingkan dengan negara lain yang hanya menerapkan satu standar.
“Kalau ekspor ke Amerika, kita harus penuhi FSC. Di dalam negeri, masih ditambah SPLK. Di China, Vietnam, Malaysia cukup FSC. Kita dua lapis,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menambah biaya dan mengurangi daya saing.
“Beban biaya dari sertifikasi itu bisa ratusan miliar rupiah per tahun,” ungkapnya.
Sobur juga menilai masih lemahnya koordinasi antar kementerian dalam menangani industri. Ia menekankan bahwa solusi sebenarnya sudah ada, tetapi implementasinya belum optimal.
“Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Kehutanan belum sinkron. Ini jadi masalah besar. Aturannya sudah ada, tinggal disinkronkan. Itu kuncinya,” tegasnya.
Untuk menghadapi kondisi ini, HIMKI mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari perbaikan regulasi hingga penguatan industri dalam negeri.
Ia juga mengusulkan pendekatan teknis untuk mengurangi tekanan impor.
“Regulasi harus dirapikan, impor ilegal harus ditekan, dan industri dalam negeri harus dilindungi. Kalau perlu, pelabuhan masuk impor dipindah ke luar Jawa supaya ada tambahan biaya logistik bagi mereka,” ujarnya.
Shutterstock/Followtheflow Ilustrasi furnitur ruang tamu dengan kerangka kayuSelain itu, dukungan pembiayaan dan insentif dinilai penting agar industri bisa bersaing.
Meski menghadapi banyak tantangan, Sobur tetap melihat peluang bagi industri mebel Indonesia untuk tumbuh.
“Ekspor tetap jadi tumpuan. Tapi kita juga harus memperkuat pasar dalam negeri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tanpa pembenahan menyeluruh, industri akan terus terjebak dalam tekanan.
“Kalau tidak dibenahi, kita hanya akan jadi pasar bagi produk luar. Itu yang harus kita hindari,” tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang