Bisnis.com, JAKARTA — Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mengungkap telah mendeteksi 2 miliar spam dan scam melalui fitur antispam dan antiscam yang dikembangkan bersama Tanla Platforms berbasis teknologi artificial intelligence (AI).
President Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan, pihaknya juga telah menghentikan 2,3 juta pelaku spam dan scam.
“Kami telah mendeteksi 2 miliar spam dan scam. Dua miliar. Menghentikan 2,3 juta pelaku spam dan scam. Kami membuat hidup mereka jauh lebih sulit,” kata Vikram dalam Media Update Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam di Kantor Indosat Jakarta pada Jumat (6/2/2026).
Dia menambahkan, kerugian masyarakat akibat spam dan scam selama ini sangat besar, terutama di kelompok kelas menengah dan menengah bawah. Bahkan angkanya hampir US$5 miliar akibat spam dan scam.
Dalam enam bulan terakhir, Vikram mengatakan implementasi teknologi anti spam dan scam Indosat berbasis AI telah memberikan peringatan dini kepada pelanggan.
Menurutnya, pemanfaatan AI tidak seharusnya sekadar untuk kebutuhan hiburan, melainkan menjadi alat perlindungan pelanggan di berbagai kanal komunikasi.
Dia menambahkan, Indosat akan menghadirkan berbagai fitur dan produk baru dengan fokus utama pada keamanan pelanggan di seluruh kanal, baik over the top (OTT), SMS, maupun panggilan telepon.
“Kami berkomitmen penuh. Kami ingin memastikan pelanggan merasa aman, di kanal mana pun mereka berada. Baik di OTT, SMS, maupun panggilan telepon. Kami ingin memberikan jaminan itu,” katanya.
Dia menilai kepercayaan merupakan fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital, sehingga perlindungan masyarakat perlu dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama bersama Global Anti-Scam Alliance (GASA), perusahaan lain, dan sektor perbankan.
Sementara itu, Independent Director Tanla Platforms RS Sharma menekankan pentingnya membangun teknologi yang mampu melindungi privasi pelanggan di tengah perkembangan dunia digital.
Dia menyebut, perlindungan pelanggan dari scam digital merupakan tantangan besar bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk operator telekomunikasi dan pemerintah.
“Sebagai operator telekomunikasi, Anda harus memikirkan pelanggan. Sebagai pemerintah, Anda harus memikirkan rakyat. Bagaimana melindungi mereka dari scam digital adalah tantangan besar,” katanya.
Menurutnya, pemanfaatan AI berbasis pola memungkinkan perlindungan pelanggan tanpa perlu mengetahui isi komunikasi. Dia mengatakan teknologi Tanla Platforms dapat membangun sistem berbasis AI dan pola untuk melindungi pelanggan. Indonesia, dan Indosat sebagai operator pertama, telah mengambil langkah penting ini.
Dia menambahkan, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci, mengingat kerugian global akibat scam digital mencapai angka signifikan.
“Namun ini tidak bisa dilakukan sendiri. Harus kolaboratif antara pemerintah, regulator, telko, masyarakat, dan teknologi. Data global menunjukkan US$1,2 triliun kerugian akibat scam setiap tahun. Ini masalah serius. Kepercayaan adalah kunci dalam dunia digital. Dan langkah ini membangun kepercayaan itu,” katanya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut inisiatif Indosat sebagai langkah penting dalam perlindungan masyarakat di ruang digital yang sejalan dengan strategi kementerian melalui konsep T3 yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga sebagai fondasi ruang digital nasional.
Menurutnya, konektivitas yang kuat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi digital, namun harus diiringi dengan keamanan ruang digital.
“Konektivitas adalah bahan bakar buat pertumbuhan ekonomi digital kita. Namun seperti kita tahu, ruang digital yang terhubung dan tumbuh ini haruslah aman. Disinilah pilar ketiga menjadi krusial, yaitu terjaga,” katanya.