Bisnis.com, JAKARTA — Produsen-produsen manufaktur di pasar berbagai negara berkembang Asia, termasuk Indonesia, Vietnam, dan Malaysia, memiliki kinerja unggul pada November 2025. Sementara itu, beberapa negara manufaktur besar justru menghadapi permintaan yang lesu di bulan yang sama.
Melansir Reuters, Senin (1/12/2025), Indonesia dan Vietnam sama-sama melaporkan pertumbuhan pesat pada aktivitas pabrik, sementara Malaysia kembali mencatatkan pertumbuhan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencapai 53,3 pada November 2025, yang menandakan ekspansi positif.
Kondisi industri di Asia pada November 2025 menunjukkan kondisi beragam. Walaupun negara-negara Asia Tenggara sebagian besar mengalami pertumbuhan, China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan semuanya melaporkan penurunan indeks manufaktur.
Di negara produsen terbesar di dunia, China, aktivitas pabrik kembali mengalami kontraksi/pengerutan menurut PMI sektor swasta. Hal ini diketahui sehari setelah data resmi China menunjukkan aktivitas turun selama delapan bulan berturut-turut, meskipun dengan laju yang lebih lambat.
Menurut ekonom China di Capital Economics, Zichun Huang, komponen luaran atau output China ke turun level terendah dalam empat bulan, meskipun permintaan membaik. Dia menyatakan walau komponen harga luaran naik tipis, posisinya tetap berada di level rendah, yang mengindikasikan tekanan deflasi yang terus-menerus.
Di sisi lain, Capital Economics mencatat adanya ketidakselarasan umum antara PMI dan data perdagangan riil dari seluruh Asia.
"Ekspor dari sebagian besar negara Asia telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir dan kami berpendapat bahwa prospek jangka pendek untuk sektor manufaktur yang didorong ekspor di kawasan ini tetap menguntungkan,” ujar ekonom Asia di Capital Economics, Shivaan Tandon, dilansir dari Reuters.
Di negara lain, PMI Manufaktur Jepang menunjukkan bahwa pesanan baru terus menurun, memperpanjang masa penurunan hingga dua setengah tahun. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan bisnis global yang lesu, anggaran klien yang lebih ketat, dan investasi modal yang tertahan.
Data resmi terbaru Jepang menunjukkan belanja perusahaan di negara itu untuk pabrik dan peralatan naik 2,9% pada periode Juli—September 2025 dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya, tetapi melambat dari kuartal sebelumnya.
Di Korea Selatan, aktivitas pabrik mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut pada November 2025. Data terpisah menunjukkan ekspor Korea naik selama enam bulan berturut-turut, melampaui ekspektasi pasar, bersamaan dengan penjualan chip yang mencapai rekor akibat permintaan teknologi yang kuat. Sementara itu, sektor otomotif juga melonjak pasca kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS).
Pertumbuhan aktivitas pabrik India melambat dari Oktober 2025, tetapi nilai PMI Manufaktur tetap jauh di atas negara-negara tetangganya. Hal tersebut sesuai dengan indikator lain yang menunjukkan pertumbuhan kuat di ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut. Produk domestik bruto (PDB) India berada dalam laju tercepatnya dalam 18 bulan pada periode Juli-September, menurut data yang dirilis Jumat, terangkat oleh belanja konsumen yang kuat.
Salah satu alasan negara-negara dengan ekonomi terkuat di Asia menghadapi ketidakpastian pada tahun ini adalah karena tarif menyeluruh dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Meskipun kesepakatan dagang Trump dengan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah memberikan kepercayaan diri bagi perusahaan-perusahaan, banyak yang masih menyesuaikan diri dengan realitas perdagangan AS yang baru. Hal tersebut juga berlaku dengan China, yang ketegangannya dengan AS sudah mereda. (Laurensius Katon Kandela)