Nenek Jumariyah, seorang petani dari Maros, Sulawesi Selatan, menjadi ikon haji Indonesia 2026 setelah menabung selama 20 tahun untuk mewujudkan impiannya ke Tanah Suci. [757] url asal
Bisnis.com, MAKKAH — Tidak ada yang mewah dari kehidupan Jumariyah, paginya ditemani suara ayam di halaman rumah, selepas subuh perempuan lansia itu menebar pakan di kandang samping rumah, lalu membersihkan gubuknya sebelum memasak sarapan. Satu porsi dia buat, karena hanya tinggal sendiri.
Perempuan yang akrab disapa Nenek Jumariyah itu hidup seorang diri selama puluhan tahun setelah berpisah dengan suaminya. Tidak ada anak, dia tinggal sebatang kara di rumah sederhana yang terletak di Maros, Sulawesi Selatan.
Hari-harinya diisi dengan bekerja di sawah seluas 15 are miliknya dan merawat kebun ubi milik tetangga demi tambahan penghasilan.
Usai sarapan, sekitar pukul 09.00 pagi, Jumariyah biasanya berjalan menuju kebun di dekat rumahnya. Setelah itu dia berpindah ke sawah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk membersihkan tanaman padi.
"Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri," kata Jumariyah sambil tersenyum saat ditemui Tim Media Center Haji di Hotel Asrar Al Tayseer, Makkah, akhir pekan lalu.
Rutinitas itu dijalani hampir setiap hari selama bertahun-tahun. Di sela bekerja, dia menyimpan satu harapan yang terus dipanjatkan dalam doa. Dia ingin melihat Ka’bah secara langsung, menjalankan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.
Keinginan itu membuatnya mulai menabung sekitar 20 tahun lalu. Caranya sangat sederhana. Dia menyimpan uang sedikit demi sedikit di dalam ember di rumahnya.
"Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember," tuturnya lirih.
Ketika tabungannya mencapai Rp25 juta, Jumariyah akhirnya mendaftarkan diri untuk berhaji pada 2011. Saat itu dia datang didampingi kerabat jauhnya karena tidak bisa membaca dan menulis. Dia juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Setelah mendaftar haji, dia tetap bekerja seperti biasa. Hasil dari sawah dan kebun terus dia sisihkan untuk melunasi biaya haji.
"Kalau saya dapat Rp100.000, saya simpan Rp50.000 [untuk tabungan haji]," katanya sambil mengusap sudut matanya dengan ujung kerudung hitam.
Semangatnya semakin besar setelah dinyatakan masuk daftar jemaah haji Indonesia 2026.
Kehidupan sederhana dan semangatnya untuk pergi ke Tanah Suci rupanya melahirkan perjalanan spiritual menarik, yang membuat nama Jumariyah dikenal luas sebagai ikon haji Indonesia 2026.
Jumariyah (tengah) bersama para jemaah haji dan petugas haji saat diwawancarai di hotelnya di Makkah, Arab Saudi pada Sabtu (16/5/2026). / Bisnis-Wibi Pangestu Pratama
Jumariyah Dipilih untuk Menjadi Ikon Haji
Lokasi manasik berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Meskipun demikian, Jumariyah tidak pernah absen mengikuti bimbingan haji bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Dia bahkan dikenal para pembimbing karena selalu duduk di barisan paling depan untuk mendengarkan penjelasan manasik.
Kisah hidupnya kemudian sampai ke pihak Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) setelah dia diajukan oleh Kemenhaj Maros sebagai ikon haji Indonesia.
"Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, kemudian jauh dan menginspirasi," ujar Ketua Kloter UPG 14 Sitti Hawaisyah.
Dua hari menjelang keberangkatan ke asrama haji, tim Kemenhaj mendatangi rumah Jumariyah untuk membuat dokumentasi singkat tentang perjalanan hidupnya. Dokumenter itu kemudian menjadi bagian dari promosi internasional Arab Saudi untuk musim haji 2026.
Perjalanan ke Tanah Suci juga menjadi pengalaman pertama Jumariyah naik pesawat terbang. Meski sempat takut, dia akhirnya menikmati perjalanan panjang menuju Madinah.
“Sempat ada rasa takut waktu naik pesawat, tetapi setelah itu nyaman,” katanya.
Di Madinah, semangat ibadah Jumariyah justru terlihat paling kuat. Dia mampu bertahan berjam-jam di Masjid Nabawi sejak salat Asar hingga Isya. Bahkan dia juga berhasil masuk ke Raudhah bersama rombongannya.
Karena tidak memiliki telepon genggam, para jemaah lain membantu mendampinginya selama di Tanah Suci.
Setelah tiba di Makkah pada 9 Mei 2026, Jumariyah langsung menjalani umrah wajib. Tidak berhenti di situ, dia kembali melaksanakan dua kali umrah sunnah dalam beberapa hari berikutnya.
Ketua kloternya mengaku kondisi kesehatan Jumariyah justru termasuk yang paling baik di antara jemaah lain.
“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah yang artinya ada sakit. Tetapi di nenek Jumariyah bersih, tidak ada sakit,” ujar Sitti.
Tetangganya di Maros, Marwati, juga mengaku kagum dengan semangat Jumariyah selama menjalani ibadah di Masjidil Haram.
“Selama umrah itu beliau paling semangat. Kita sudah kecapekan, beliau masih semangat,” katanya.
Bagi Jumariyah, rahasia menjaga kesehatan di usia senja bukan sesuatu yang rumit. Dia terbiasa bergerak setiap hari di sawah dan menjaga pikirannya tetap tenang.
“Ke sawah setiap hari, juga banyak minum air,” ujarnya.
Soal makanan, dia juga tidak memilih-milih. Semua makanan disantap dengan lahap selama di Arab Saudi. Meski begitu, dia mengaku paling menyukai udang.
Kini Jumariyah bersiap menghadapi fase puncak ibadah haji 2026, yakni wukuf di Arafah. Beberapa hari lagi dia akan berdiri di Padang Arafah, tempat yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam doa-doanya.
Perjalanan panjang dari sawah kecil di Maros akhirnya membawanya ke depan Ka’bah. Tempat yang sejak lama dia rindukan dalam kesendirian hidupnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56