Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) tengah menjajaki sejumlah potensi penyaluran pembiayaan baru. Salah satu proyek yang dijajaki untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan berada di sektor telekomunikasi, khususnya data center, di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Presiden Direktur & CEO IIF Rizki Pribadi Hasan menyampaikan, total nilai pembiayaan proyek yang bakal disalurkan perseroan itu kurang lebih sekitar Rp500 miliar sampai dengan Rp1 triliun. Komitmen penyaluran fasilitas pembiayaan tersebut ditargetkan rampung pada kuartal II/2026.
“Mungkin harapannya nanti sebelum Juni ini bisa terealisasi pemberian fasilitas untuk pembangunan data center di Indonesia. Jadi ada dua yang kami lagi proses,” kata Rizki dalam kunjungannya ke Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, Rizki belum bisa mengungkapkan nama perusahaan yang akan menerima pembiayaan tersebut, mengingat belum ada penandatanganan kesepakatan antara kedua belah pihak.
Rizki menuturkan, sektor telekomunikasi atau digital infrastruktur menjadi sektor kedua terbesar yang dibiayai oleh IIF. Alokasinya mencapai kisaran 18%–20% dari total pembiayaan yang disalurkan perseroan.
“Kami masih melihat sebenarnya di pipeline kami juga masih ada beberapa potensi proyek terkait data center atau industri telekomunikasi secara umum,” ujarnya.
Selain sektor infrastruktur digital, IIF sebelumnya telah mengumumkan komitmennya untuk menyalurkan pembiayaan senilai Rp485,5 miliar kepada PT Bogor Kardia Indonesia untuk pengembangan fasilitas layanan kesehatan berupa rumah sakit khusus jantung di wilayah Bogor.
Dalam catatanBisnis, pembiayaan yang disalurkan perseroan ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, khususnya layanan kardiovaskular, bagi masyarakat Bogor dan sekitarnya.
Fasilitas kesehatan ini dirancang untuk memiliki kapasitas hingga 98 tempat tidur, serta dilengkapi dengan fasilitas medis unggulan seperticatheterization laboratory(cath lab) dan radioterapi.
Kehadiran rumah sakit ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rujukan layanan kesehatan ke Jakarta ataupun ke luar negeri, sekaligus mempercepat penanganan pasien dengan penyakit jantung yang membutuhkan tindakan medis segera dan terintegrasi.
Rizki kala itu mengatakan, dukungan terhadap sektor kesehatan merupakan bagian dari komitmen IIF dalam memperkuat infrastruktur sosial yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
“Dalam 16 tahun operasinya, IIF tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan layanannya guna memenuhi beragam kebutuhan klien di sektor infrastruktur. Hal ini mencakup peningkatan standar sosial dan lingkungan yang membantu klien memenuhi tolok ukur internasional dengan tetap mempertimbangkan praktik lokal, variasi produk yang lebih beragam, suku bunga yang kompetitif, serta kemampuan menyediakan pendanaan jangka panjang yang sesuai dengan durasi proyek,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Melalui pembiayaan ini, dia mengharapkan perseroan dapat terus mendorong pemerataan akses layanan kesehatan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia, sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
Sebagai catatan, IIF adalahspecial mission vehicle(SMV) milik Pemerintah RI yang berada di bawah Kementerian Keuangan. Sebagai lembaga keuangan swasta nonbank, IIF bergerak dalam pembiayaan infrastruktur dan layanan konsultasi yang dikelola secara profesional dan berfokus pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial.
IIF didirikan pada 15 Januari 2010 atas inisiatif pemerintah bersama dengan lembaga keuangan internasional. Saat ini kepemilikan IIF adalah PT Sarana Multi Infrastruktur/SMI (Persero), Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC) yang merupakan bagian dari World Bank, Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft (DEG) yang sepenuhnya dimiliki oleh KfW, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).