Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia terpantau turun setelah kesepakatan AS-Iran mengakhiri perang di Timur Tengah yang meningkatkan prospek bertambahnya pasokan minyak global.
Berdasarkan CNBC International pada Kamis (18/6/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus turun 1,13% menjadi US$78,65 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli terkoreksi 1,26% ke level US$75,82 per barel.
Meski demikian, prospek perdamaian masih dibayangi ketidakpastian. Trump menyatakan Amerika Serikat dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran apabila Teheran tidak mematuhi isi kesepakatan yang telah disepakati.
"Kami akan membombardir mereka habis-habisan jika melanggar perjanjian. Saya tidak ingin itu terjadi. Saya ingin mereka menghormati kesepakatan tersebut," ujar Trump dalam konferensi pers.
Di sisi lain, IEA memperkirakan penyelesaian konflik secara permanen akan mendorong peningkatan pasokan minyak global secara signifikan dan berpotensi menciptakan surplus pasokan besar pada 2027.
Dalam laporan bulanan pasar minyak terbarunya, IEA memperkirakan pasokan minyak global rata-rata turun 3,9 juta barel per hari (bph) pada 2026 menjadi 102,4 juta bph. Namun, pasokan diproyeksikan kembali meningkat menjadi 110,3 juta bph pada 2027.
"Proyeksi awal neraca pasar minyak 2027 menunjukkan munculnya surplus pasokan yang signifikan tahun depan," tulis IEA dalam laporannya.
Sementara itu, penurunan harga minyak dinilai dapat mengurangi risiko lonjakan harga energi yang memicu inflasi lebih luas. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjadi sinyal berakhirnya tekanan di pasar energi.
Dalam laporan yang dirilis New York Life Investment Management, harga minyak saat ini masih berada di atas level sebelum konflik pecah. Selain itu, normalisasi aktivitas pelayaran membutuhkan waktu, sementara persediaan minyak dan cadangan strategis juga masih perlu dipulihkan.
"Harga minyak masih berada di atas level pra-konflik, normalisasi pengiriman membutuhkan waktu, dan persediaan serta cadangan strategis masih harus diisi kembali," tulis laporan tersebut.