Bisnis.com, JAKARTA - Bagaimana seekor ikan melihat manusia? Mungkinkah, kritik terhadap manusia justru terasa lebih menyentuh ketika disampaikan dari sudut pandang makhluk laut yang kecil dan terasing dari dasar samudera?
Pertanyaan itulah yang muncul setelah membaca Oni Jouska karya Asep Ardian. Novel ini menghadirkan sebuah dongeng ekologis yang tidak hanya puitis, tetapi juga getir dalam memandang hubungan manusia dengan alam.
Oni Jouska secara umum menyajikan kisah yang bergerak pelan dan reflektif. Namun di balik kesan tenang itu, tersimpan kemarahan terhadap kerusakan lingkungan dan rasa kehilangan yang terus menghantui para tokohnya.
Laut dalam novel ini bukan sekadar latar, melainkan ruang hidup yang penuh luka.
Tokoh utamanya adalah Oni, seekor ikan remora yang dianggap berbeda karena tidak bisa menempel pada makhluk lain seperti kaumnya. Kondisi itu membuat Oni tumbuh sebagai sosok asing di komunitasnya sendiri.
Dia hidup dengan pertanyaan tentang identitas, kegunaan, dan tempatnya di dunia laut yang terus berubah hingga memuncak menjadi bom waktu kemarahan.
Syahdan, lewat petualangannya, pembaca diajak melihat dunia manusia dari sudut pandang yang tidak lazim. Manusia memang jarang hadir secara langsung, tetapi jejaknya terasa di mana-mana: lewat sampah, pencemaran, dan kehancuran ekosistem laut.
Melalui penceritaan yang cenderung kontemplatif, pembaca perlahan dibawa memasuki dunia laut yang penuh legenda dan ingatan kolektif. Ada paus, klan-klan ikan, hingga berbagai kisah turun-temurun tentang nabi-nabi.
Novel ini tidak sedang berbicara tentang ikan semata. Oni terasa seperti representasi manusia modern yang hidup di tengah keramaian, tetapi terasing dari dirinya sendiri. Keterasingan itulah yang menjadi salah satu kekuatan emosional novel ini.
Selain membicarakan ekologi, novel ini juga menyentuh hubungan antargenerasi dan warisan pengetahuan. Para tokohnya hidup bersama ingatan tentang laut yang perlahan berubah, saat ruang hidup mereka tidak lagi sama seperti dahulu.
Asep Ardian juga menggunakan bahasa yang cukup reflektif dan simbolik. Beberapa bagian terasa seperti renungan filosofis tentang hidup dan kematian. Karena itu, Oni Jouska mungkin bukan jenis novel yang dibaca untuk mengejar ketegangan cerita semata.
Membaca buku ini sepintas mengingatkan saya pada sejumlah karya fabel ekologis yang menjadikan alam sebagai cermin untuk melihat manusia. Namun berbeda dengan cerita satir yang keras dan gamblang, Oni Jouska memilih jalan yang lebih lirih.
Kritik sosialnya hadir perlahan, mengendap lewat suasana dan percakapan antartokoh. Pembaca tidak digiring untuk marah secara langsung, tetapi diajak menyaksikan bagaimana makhluk-makhluk kecil di laut menghadapi dampak dari kerakusan manusia.
Secara umum, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang unik dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer. Oni Jouska menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dibicarakan lewat pendekatan sastra yang lembut, imajinatif, dan penuh perenungan.
Data Buku
- Judul: Oni Jouska
- Penulis: Asep Ardian
- Editor: Prihandini Nur Rahmah
- Tata Letak: Ashari Ramadana
- Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2026
- Jumlah Halaman: 132 halaman
- Penerbit: Marjin Kiri
- QRCBN:62-6771-2790-699