Bisnis.com, JAKARTA — IBM, perusahaan konsultasi dan teknologi asal Amerika Serikat, mengungkapkan peran fundamental kecerdasan buatan (AI) dalam mengatur pola belanja konsumen di dunia. Teknologi AI telah terlibat mempengaruhi konsumen sebelum mereka menekan tombol ‘beli’.
Managing Director IBM Indonesia Juvanus Tjandra mengatakan AI secara fundamental telah mengubah perilaku konsumen di sektor ritel dengan menjadikan pengalaman belanja lebih personal, prediktif, dan minim hambatan.
Konsumen kini mengharapkan rekomendasi yang relevan, penetapan harga yang dinamis, layanan yang lebih cepat, serta pengalaman yang terintegrasi secara mulus di kanal digital maupun
Studi terbaru IBM-NRF menunjukkan bahwa AI generatif tengah membentuk ulang fase awal perjalanan belanja—bahkan sebelum konsumen menekan tombol “beli”.
Mulai dari rekomendasi yang sangat dipersonalisasi hingga inspirasi yang dikurasi, pengaruh AI kini hadir jauh sebelum konsumen mengunjungi toko atau membuka aplikasi, sehingga menggeser arena persaingan brand dan pelaku ritel ke level yang sepenuhnya baru.
Studi ini juga menemukan bahwa meskipun hampir tiga perempat konsumen yang disurvei (72%) masih berbelanja di toko fisik, hampir setengahnya (45%) beralih ke AI untuk mendapatkan bantuan selama proses pembelian mereka.
“Meningkatnya penggunaan AI oleh konsumen menandakan keterbukaan konsumen terhadap aplikasi AI yang lebih canggih, termasuk agen AI yang dapat bernalar, mengambil keputusan, dan menjalankan transaksi untuk konsumen,” kata Juvanus kepada Bisnis, Minggu (1/2/2026).
Juvanus menambahkan bahwa ada 4 agen AI yang paling diinginkan oleh konsumen ritel saat ini yaitu agen pencari penawaran terbaik, agen layanan pelanggan, agen peninjau produk, dan agen personal shopper yang dapat membeli produk yang sesuai dengan gaya, preferensi, dan anggaran konsumen.
Juvanis memperkirakan dalam 3 tahun ke depan, perilaku konsumen akan menjadi semakin antisipatif dan berorientasi pada hasil.
Pembeli akan mengharapkan AI hadir secara proaktif memberikan saran, membantu, dan bahkan mengotomatisasi keputusan pembelian mereka, sementara transparansi serta penggunaan AI yang bertanggung jawab akan memainkan peran lebih besar dalam membangun kepercayaan.
“Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI secara bijaksana dengan menyeimbangkan personalisasi dan privasi akan menjadi standar, sementara mereka yang tidak melakukannya akan kesulitan memenuhi ekspektasi konsumen yang terus meningkat,” kata Juvanus.
Juvanus menambahkan dalam 3 tahun ke depan IBM melihat bahwa AI akan secara fundamental mentransformasi lanskap ritel Indonesia.
Pelaku ritel yang memanfaatkan AI secara efektif akan menawarkan pengalaman belanja yang sangat personal, manajemen inventori yang lebih cerdas, serta perjalanan pelanggan yang lebih cepat dan mulus, yang mendorong pertumbuhan sekaligus loyalitas.
Namun, tantangan tetap ada. Banyak organisasi masih menghadapi fragmentasi data, keterbatasan keahlian AI, serta resistensi budaya terhadap adopsi teknologi baru. “Keberhasilan akan membutuhkan investasi strategis pada talenta, infrastruktur data yang kuat, dan budaya yang menerima AI sebagai alat untuk meningkatkan, bukan menggantikan pengambilan keputusan manusia,” kata Juvanus.