Bisnis.com, BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat memfasilitasi keluhan para pedaging sapi khususnya di Kota Bandung yang menggelar aksi mogok karena naiknya harga komoditas tersebut.
Para pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung mogok berjualan mulai Minggu 17 Mei 2026 malam sampai Senin 18 Mei 2026. Aksi mogok berlaku untuk pasar yang beroperasi malam hari, seperti Pasar Caringin, Pasar Ciroyom, dan Pasar Andir. Untuk di pasar-pasar tradisional skala kecil, para pedagang menggelar mogok pada Senin 18 Mei 2026 dan Selasa 19 Mei 2026.
Kadisperindag Jabar Nining Yulistiani mengatakan pihaknya sudah mendapatkan pengaduan dari asosiasi dan laporan di pasar tradisional terkait aksi mogok tersebut. “Daging sapi termasuk yang kenaikannya melampaui HAP [harga acuan pembelian/penjualan], sampai saat ini HAP belum mengalami penyesuaian meski sudah ada kenaikan,” katanya di Bandung.
HAP daging sapi per kilogram mencapai Rp140.000, sementara sejak dua pekan lalu HAP Rp141.142. Nining mengakui terjadi kenaikan harga daging sapi mulai dari tingkat importir hingga rumah potong hewan dampak dari kenaikan berantai akibat melejitnya kurs dollar amerika.
“Kita juga mayoritas penggemukan sapi bibit sapinya masih impor dari Australia, India, dan Selandia Baru,” ujarnya.
Nining juga menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi turut memberikan dampak terhadap harga bahan pokok di Jawa Barat, meskipun dampaknya tidak sebesar BBM subsidi. Hal ini dikarenakan sebagian armada distribusi logistik, kendaraan angkut komoditas pangan, hingga operasional pelaku usaha perdagangan masih menggunakan BBM nonsubsidi, seperti pertamax dan solar industri.
Mengatasi aksi mogok tidak terus terjadi, Disperindag Jabar sudah menyampaikan masalah tersebut pada Kementerian Perdagangan. Pihaknya berharap kementerian segera memberikan solusi agar para pedagang mendapatkan kepastian. “Kami belum tahu solusi dari kementeriannya apa, tapi ini sudah kami laporkan,” tuturnya.
Nining memastikan meski ada aksi mogok, ketersediaan daging sapi atau kerbau di Jawa Barat lebih dari cukup. Berdasarkan Neraca Pangan per Kabupaten/ Kota di Jawa Barat, stok daging mencapai 21.604 ton dengan kebutuhan 14.789 ton. “Artinya Jawa Barat masih surplus sebanyak 6.815 ton,” katanya.
Berdasarkan rekap pemantauan perdagangan daging sapi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, harga tertinggi tercatat di Pasar Kosambi dan Pasar Kordon, Kota Bandung, yakni mencapai Rp160 ribu per kilogram. Di Pasar Kosambi, mayoritas pedagang disebut mogok berjualan dan hanya tersisa satu pedagang yang masih beroperasi. Bahkan, pedagang lain disebut berencana ikut aksi demonstrasi.
Sementara di Pasar Kordon, seluruh pedagang masih berjualan, namun stok daging disebut sangat minim. Para pedagang juga dikabarkan berencana mogok dengan alasan keterbatasan pasokan. Di Pasar Ciicalengka, Kabupaten Bandung, harga daging sapi berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram. Namun, sebagian besar pedagang mulai tidak berjualan untuk menghabiskan stok yang tersisa.
Berbeda dengan Pasar Baleendah dan Pasar RTC Rancaekek yang masih beroperasi normal. Harga daging di dua pasar tersebut berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Meski demikian, pedagang di kedua pasar disebut sudah merencanakan libur dagang pada Senin hingga Selasa mendatang.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Pedagang masih berjualan normal, namun mengeluhkan kenaikan harga dan penurunan omzet penjualan.
Sementara itu, Pasar Sehat Soreang telah memiliki rencana libur dagang bersama yang diikuti sedikitnya 25 pedagang sapi hingga 18–19 Mei 2026. Di wilayah lain seperti Pasar Cipanas Cianjur dan Pasar Atas Cimahi, aktivitas perdagangan masih berjalan normal dengan harga berkisar Rp140 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram.
Disperindag Jabar mencatat sebagian besar pasokan daging sapi di wilayah Bandung Raya berasal dari sejumlah rumah potong hewan (RPH) seperti RPH Tasikmalaya, RPH Ciroyom, RPH Caringin, hingga RPH Cibadak Cianjur.