Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin kembali menembus US$90.000 untuk pertama kalinya dalam hampir sepekan setelah reli aset berisiko dan meredanya volatilitas mendorong investor masuk kembali ke pasar kripto.
Berdasarkan data Coinmarketcap pada Kamis (27/11/2025), harga aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut sempat naik lebih dari 3% ke level US$90.232,52.
Meski tidak besar, kenaikan tersebut cukup untuk mengembalikan fokus pasar pada level harga yang lebih tinggi. Aset kripto bergerak sejalan dengan saham di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera melanjutkan pemangkasan suku bunga.
ETF Bitcoin milik BlackRock di AS juga mencatat arus masuk dana baru setelah sebelumnya mengalami serangkaian penarikan.
Likuiditas tetap tipis menjelang libur Thanksgiving, tetapi dengan volatilitas yang kian mereda—dan minimnya tanda penjualan paksa baru—pelaku pasar bullish tampak mulai menguji apakah fase terburuk dari penurunan harga sudah berlalu.
“Kemungkinan pergerakan harga yang tajam belakangan ini dipengaruhi oleh pasar yang sepi menjelang libur. Dengan likuiditas yang rendah, pergerakan harga jadi lebih mudah terjadi,” kata Adam McCarthy, analis riset di Kaiko, dikutip dari Bloomberg.
Meski Bitcoin sempat merosot hingga 36% dari rekor tertinggi pada awal Oktober 2025, volatilitas tersirat relatif stabil. Hal ini mencerminkan bagaimana meningkatnya partisipasi institusi mulai mengubah pola transmisi risiko pada aset kripto. Di masa awal, harga Bitcoin didominasi spekulasi trader yang mengejar keuntungan dari fluktuasi besar.
“Level harga Bitcoin di kisaran tinggi US$80.000 pekan ini menjadi area konsolidasi setelah tren turun selama beberapa minggu terakhir,” ujar desk strategist di Wintermute, Jasper De Maere.
Pembalikan sentimen bearish juga terlihat di pasar derivatif. Bitcoin perpetual futures—instrumen utama untuk posisi leverage—menunjukkan peningkatan permintaan posisi beli dengan open interest yang moderat, berdasarkan data Coinglass.
Pendanaan positif untuk kontrak tersebut mengindikasikan mayoritas posisi kembali didominasi oleh taruhan bullish setelah sempat negatif awal pekan ini.
Opsi beli (call options) dengan strike US$100.000 mencatat open interest terbesar, setelah sebelumnya pasar lebih banyak mencari proteksi di level US$80.000 dan US$85.000, menurut bursa kripto Deribit milik Coinbase.
“Dalam beberapa pekan terakhir, posisi long spekulatif telah turun cukup signifikan, terlihat dari penurunan open interest dan pendanaan di kontrak perpetual. Kondisi ini membuat pasar kripto berada dalam posisi siap untuk kembali naik,” kata Spencer Hallarn, Global Head of OTC Trading di GSR.
Harga aset kripto anjlok pada awal Oktober 2025 setelah Donald Trump mengguncang pasar global dengan ancaman kenaikan tarif. Koreksi tersebut menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar aset digital dan memicu gelombang likuidasi paksa.
Kini investor tampak kembali menguji pasar. ETF Bitcoin tercatat membukukan arus masuk sekitar US$130 juta pada Selasa (25/11/2025), menurut Bloomberg Intelligence.
Namun demikian, sepanjang November 2025, investor telah menarik hampir US$3,6 miliar dari 12 ETF Bitcoin yang terdaftar di AS—menjadikannya arus keluar bulanan terbesar sejak produk tersebut diluncurkan dan menjadi ujian nyata pertama bagi era ETF kripto.