Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah China memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak menyentuh empat isu sensitif agar kesepakatan gencatan senjata dagang antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping tetap terjaga.
Melansir Bloomberg pada Rabu (5/11/2025), Duta Besar China untuk AS, Xie Feng, menyebut empat batas merah (red lines) Beijing mencakup isu Taiwan, demokrasi dan hak asasi manusia, sistem politik China, serta hak pembangunan nasional.
Dia menegaskan bahwa hal paling penting adalah saling menghormati kepentingan inti dan perhatian utama masing-masing negara.
Dalam pidato virtual di acara US-China Business Council, yang dikutip dari pernyataan Kedutaan Besar China, Xie menyampaikan bahwa prioritas utama saat ini adalah menindaklanjuti konsensus yang telah dicapai antara Xi dan Trump beserta pejabat kedua negara, untuk meyakinkan masyarakat dan perekonomian global melalui langkah nyata dan hasil konkret.
Xie juga memperingatkan bahwa perselisihan terkait tarif impor, industri, maupun teknologi tidak akan menghasilkan apa pun selain jalan buntu.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah pejabat senior AS berhasil meyakinkan Trump agar tidak membahas chip kecerdasan buatan generasi terbaru dengan Xi. Menurut laporan tersebut, mereka berargumen bahwa pemberian akses chip Blackwell kepada China dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional AS.
Pernyataan Xie menjadi pengingat bahwa gencatan senjata perdagangan selama satu tahun yang dicapai di Korea Selatan masih berpotensi rapuh. Isu Taiwan, meski tidak dibahas langsung dalam pertemuan Xi–Trump, tetap menjadi perhatian utama Beijing.
China memandang Taiwan sebagai wilayah yang harus dikembalikan ke dalam kendali negaranya, dengan kekuatan militer jika diperlukan—pandangan yang ditolak oleh Taipei.
Pada Jumat (31/10/2025), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan kekhawatiran serius kepada Menteri Pertahanan China Dong Jun terkait aktivitas angkatan laut Beijing di sekitar Taiwan dan Laut Natuna Utara. Kedua pihak kemudian sepakat untuk membangun jalur komunikasi langsung antar-militer guna mencegah potensi konflik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Washington dan Beijing juga berselisih soal isu hak asasi manusia di Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet. Selain itu, pejabat AS seperti Menteri Keuangan Scott Bessent mendorong China untuk menyeimbangkan kembali perekonomiannya ke arah konsumsi domestik, guna mengurangi ketegangan akibat defisit perdagangan besar yang ditimbulkan oleh ekspor China.
Pertemuan antara Xi dan Trump di Busan, Korea Selatan, belum menghasilkan kesepakatan terkait akses Beijing terhadap semikonduktor canggih asal AS.
Trump menyebut dirinya dan Xi sempat membahas akses Nvidia Corp. di pasar China, dan komunikasi antara perusahaan tersebut dengan Beijing akan terus berlanjut.
Ekonom dan penasihat kebijakan Beijing, David Daokui Li, menilai kesepakatan kedua pemimpin tersebut sebagai terobosan penting dalam hubungan bilateral, karena menunjukkan bahwa China kini diperlakukan sebagai mitra setara oleh AS.
Dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin (3/11/2025), Li menggambarkan adanya antusiasme di kalangan pejabat Beijing pasca pertemuan tersebut. Ia optimistis bahwa konflik dagang, keuangan, dan teknologi antara kedua negara hanyalah masalah kecil yang akan segera terselesaikan.