Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan wisata minat khusus terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di balik tren tersebut, standar keselamatan dan mitigasi risiko dinilai masih tertinggal.
Pengamat pariwisata Politeknik Sahid, FX Setiyo Wibowo, menilai wisata minat khusus terus berkembang karena menawarkan pengalaman yang lebih personal dan mendalam.
Meski demikian, menurut dia, wisata pendakian gunung masih menjadi aktivitas dengan tingkat risiko paling tinggi.
Faktor cuaca ekstrem, medan yang berat, hingga keterbatasan jaringan komunikasi kerap menjadi penyebab wisatawan tersesat, mengalami hipotermia, hingga terjatuh di jalur pendakian.
"Pendampingan, SOP, dan rambu-rambu keselamatan memang sangat lemah," ujar FX.
Dia menilai karakter geografis Indonesia yang memiliki banyak gunung berapi turut memperbesar potensi risiko.
Jalur pendakian seperti Rinjani, Semeru, hingga Slamet memiliki tingkat bahaya tinggi apabila tidak diimbangi sistem mitigasi yang memadai.
Sementara itu, Ketua Bali Trail Run, Budiana, mengatakan pertumbuhan eco-adventure tourism dan sports tourism dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat.
Namun, kesiapan sistem keselamatan di lapangan belum berkembang secepat tren industrinya.
"Trennya naik cepat, tapi kesiapan infrastruktur masih timpang," ujarnya.
Budiana mengatakan persoalan paling mendasar masih terlihat pada akses evakuasi dan komunikasi darurat di destinasi wisata alam.
Masih banyak jalur pegunungan yang hanya memiliki satu akses sehingga sulit dilalui kendaraan penyelamat ketika terjadi kondisi darurat.
Kondisi itu diperparah oleh keterbatasan jaringan komunikasi. Di sejumlah titik pegunungan, sinyal telepon seluler bahkan hilang sehingga memperlambat koordinasi saat terjadi insiden.
Selain infrastruktur, Budiana menilai kualitas sumber daya manusia di sektor wisata petualangan juga belum merata.
Sebagian pemandu telah memiliki kemampuan mitigasi risiko dan penyelamatan, tetapi tidak sedikit yang hanya mengandalkan pengalaman lapangan.
Sertifikasi dan pelatihan bagi pemandu, operator, hingga tenaga medis wisata alam juga belum diterapkan secara luas.
"Penting untuk dibenahi aturan, SOP, infrastruktur, pelatihan dan sertifikasi, termasuk kesiapan dan kecepatan tim rescue," ujar Budiana.