Bisnis.com, JAKARTA — Amazon akuisisi operator satelit Globalstar dengan nilai transaksi mencapai US$11,57 miliar atau sekitar Rp198,34 triliun. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis Amazon untuk memperkuat bisnis satelit dan mempersempit jarak persaingan dengan Starlink, layanan satelit milik Elon Musk.
Melalui akuisisi ini, Amazon akan mengambil alih operasional satelit, infrastruktur, serta spektrum Mobile Satellite Services (MSS) berlisensi global milik Globalstar.
Transaksi ini diharapkan rampung sepenuhnya pada 2027 mendatang, bergantung pada persetujuan regulator termasuk Federal Communications Commission (FCC).
Melansir dari Space News Rabu (15/4/2026), juru bicara Amazon mengatakan bahwa integrasi sistem satelit Globalstar tidak akan mengubah jadwal peluncuran layanan broadband inti perusahaan.
Proyek konstelasi satelit rendah (Low Earth Orbit/LEO) milik Amazon, yang dikenal sebagai Amazon Leo, tetap ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini.
Amazon juga berkomitmen mendukung rencana pengembangan konstelasi generasi berikutnya dari Globalstar. Proyek tersebut mencakup pengisian kembali jaringan pita L (L-band) yang melibatkan pembangunan lebih dari 50 satelit baru oleh perusahaan teknologi antariksa MDA.
"Apple dan Amazon memiliki rekam jejak panjang dalam bekerja sama, dan kami menantikan kolaborasi ini melalui Amazon Leo," kata Senior Vice President of Worldwide Product Marketing Apple Greg Joswiak.
Kerja sama ini memastikan pengguna perangkat Apple tetap dapat mengakses fitur keselamatan berbasis satelit yang krusial. Layanan tersebut meliputi Emergency SOS, Find My, hingga pesan darurat di wilayah yang tidak terjangkau menara seluler.
Dalam rincian kesepakatan, pemegang saham Globalstar ditawarkan nilai Rp1.542.600 per saham dalam bentuk tunai atau opsi pertukaran saham Amazon. Hingga saat ini, pemegang saham yang mewakili sekitar 58% hak suara Globalstar dilaporkan telah menyetujui transaksi tersebut.
Upaya Amazon ini menjadi tantangan serius bagi SpaceX yang mengoperasikan Starlink. Saat ini, Starlink telah memiliki lebih dari 9 juta pengguna secara global dengan dukungan lebih dari 10.000 satelit yang telah mengorbit sejak 2019.
Starlink juga telah memulai layanan D2D pada 2024 melalui kemitraan dengan operator seluler seperti T-Mobile. Amazon berencana meluncurkan kemampuan D2D serupa yang mendukung layanan suara dan data mulai tahun 2028.
Hingga saat ini, Amazon baru meluncurkan sekitar 241 unit dari total 3.232 satelit generasi pertama yang direncanakan. Berdasarkan ketentuan regulasi, perusahaan wajib mengoperasikan setidaknya 1.616 satelit pada Juli tahun ini untuk memenuhi target lisensi.
Amazon sempat mengajukan permohonan perpanjangan tenggat waktu peluncuran kepada otoritas terkait di Amerika Serikat. Hal tersebut dipicu oleh kendala teknis pada kendaraan peluncur dari mitra penyedia jasa peluncuran roket.
Globalstar sendiri dikenal dengan teknologi D2D yang memungkinkan koneksi langsung ke perangkat seluler tanpa bergantung pada infrastruktur darat. Keunggulan teknis ini menjadi aset vital bagi Amazon dalam memperluas cakupan layanan internet ke wilayah terpencil di seluruh dunia.