Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak para pemimpin dunia agar memastikan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berkembang menjadi perdamaian permanen dan menyebut kesepakatan itu sebagai awal baru bagi kawasan Timur Tengah.
“Untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, kita memiliki kesempatan sekali seumur hidup untuk mengakhiri permusuhan dan kebencian yang telah berlangsung lama. Bersama-sama, kita akan membangun perdamaian yang agung, hebat, dan abadi," ujar Trump dalam pidatonya pada KTT Gaza di Mesir yang dilansir dari Bloomberg, Selasa (14/10/2025).
Trump mengatakan, dunia berhasil mencapai apa yang dulu dianggap mustahil dan kini memiliki perdamaian di Timur Tengah. Dia melanjutkan sekarang adalah saatnya untuk memulai pembangunan kembali.
Meski demikian, gencatan senjata tersebut masih rapuh dengan banyak rincian yang belum disepakati. Trump menyampaikan bahwa bantuan makanan dan pasokan kemanusiaan mulai mengalir ke Gaza yang hancur akibat konflik.
Dia juga mengatakan banyak negara kaya telah berjanji memberikan dana rekonstruksi, meskipun tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut.
Puluhan pemimpin dunia dari Eropa dan Timur Tengah menghadiri KTT tersebut, termasuk Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Adapun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak undangan untuk hadir dalam KTT tersebut dengan alasan hari raya Yahudi yang akan datang.
Trump menyebut kehadiran mereka sebagai bukti dukungan terhadap rencana perdamaian 20 poin yang digagasnya. Namun di akhir pidatonya, dia juga mengundang para pemimpin dunia untuk bergabung dalam dewan perdamaian yang akan menggantikan Hamas sebagai otoritas pemerintahan di Gaza. Hamas sendiri telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa.
Meskipun masa depan Gaza masih penuh ketidakpastian, Trump berupaya menegaskan gencatan senjata itu merupakan pencapaian bersejarah dan mendesak semua pihak agar tidak merusaknya.
Secara terpisah, dalam pidatonya di parlemen Israel, Trump menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai akhir dari konflik sektarian yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Kesepakatan yang dicapai pekan lalu itu menghentikan pertempuran di Gaza untuk memungkinkan pembebasan 20 sandera terakhir yang masih hidup. Para sandera tersebut dibebaskan pada Senin (13/10/2025), bersamaan dengan hampir 2.000 tahanan Palestina di penjara Israel.
“Kalian telah menang. Kini saatnya mengubah kemenangan di medan perang menjadi hadiah utama berupa perdamaian dan kemakmuran bagi seluruh Timur Tengah,” ujar Trump kepada anggota parlemen Israel.
Trump juga menyerukan kepada warga Gaza untuk memulihkan stabilitas, keamanan, martabat, dan pembangunan ekonomi agar dapat menikmati kehidupan yang lebih baik setelah puluhan tahun penderitaan.
Presiden AS itu bahkan memperkirakan Iran — musuh bebuyutan Israel yang fasilitas nuklirnya sempat dibom AS awal tahun ini — akan “ikut bergabung” dalam inisiatif perdamaian yang ia usung.
Dalam KTT Mesir tersebut, para pejabat diharapkan membahas sejumlah isu sensitif tentang masa depan Gaza, termasuk upaya meyakinkan Hamas untuk melucuti senjata dan memastikan kelompok tersebut tidak lagi berperan dalam pemerintahan wilayah itu.
Mereka juga merencanakan pembahasan mengenai kemungkinan pengerahan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza serta langkah-langkah rekonstruksi pascaperang dua tahun.
Presiden Sisi menyampaikan niatnya untuk menjadi tuan rumah KTT lanjutan tentang rekonstruksi Gaza pada November mendatang dan berharap Trump dapat hadir.
Namun, masih banyak keraguan terkait keberlanjutan gencatan senjata tersebut. Sesaat setelah Trump menyelesaikan pidatonya — yang disambut tepuk tangan meriah oleh parlemen Israel — Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan Hamas gagal memenuhi komitmen untuk menyerahkan jenazah semua sandera yang tewas hingga batas waktu Senin.
“Setiap penundaan atau penghindaran yang disengaja akan dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap perjanjian dan akan direspons sebagaimana mestinya,” ujar Katz.
Menurut kesepakatan pekan lalu, masih ada 48 sandera yang ditahan di Gaza, 20 di antaranya dipastikan masih hidup.
Pembebasan para sandera tersebut disambut dengan suka cita di Israel, sementara warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat juga merayakan pembebasan tahanan mereka.
Israel telah menarik sebagian besar pasukannya dari wilayah padat penduduk di Gaza dan sepakat membuka akses bantuan kemanusiaan lebih besar ke wilayah berpenduduk sekitar 2,2 juta orang tersebut.
Sejak perang dimulai, hampir seluruh penduduk Gaza telah mengungsi. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 67.000 orang tewas, sementara militer Israel menyebut hampir 470 tentaranya gugur dalam pertempuran.
Perang dimulai setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menculik sekitar 250 lainnya.