Bisnis.com, JAKARTA — Dinamika energi dalam pembacaan metafisika China atau BaZi pada tahun ini dinilai berimplikasi tidak hanya pada aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga pada kondisi kesehatan masyarakat. Konsultan BaZi, Yorita Laksmi, menilai ketidakseimbangan unsur, khususnya dominasi api tanpa penyeimbang yang memadai, berpotensi memicu peningkatan gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Menurut Yorita, BaZi dan fengshui berbicara mengenai energi serta keseimbangan hidup, termasuk konsep yin dan yang. Ketika satu unsur terlalu dominan, ketidakseimbangan akan muncul dan berdampak pada emosi.
“Kalau sesuatu yang terlalu banyak, api yang terlalu banyak, air sedikit kan terjadi ketidakseimbangan. Orang mudah marah, orang mudah terpancing, orang mudah emosi. Lama-lama apa yang diserang kalau kita stres? Mata, jantung karena nggak kuat menghadapi berita, tekanan,” ujarnya saat berbincang dengan Bisnis, beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, gangguan kesehatan diprediksi bermula dari masalah pada mata akibat tekanan berlebih, kemudian merambat ke jantung dan kesehatan mental. Selain itu, isu paru-paru juga disebut menjadi perhatian.
“Juga terkait dengan paru-paru. Jadi akan ada wabah baru. Pokoknya ada suatu penyakit yang berkaitan dengan paru-paru, yang akan menjadi perhatian,” prediksi Yorita dalam pembacaan BaZi.
Yorita menambahkan, penyakit yang berkaitan dengan paru-paru tersebut bisa saja dipicu virus baru, entah direkayasa atau alami dari mutasi. Apabila terjadi lonjakan kasus, pembatasan kemungkinan dilakukan secara regional, bukan serentak secara global seperti sebelumnya. Permintaan vaksinasi disebut dapat kembali muncul di wilayah tertentu.
Selain gangguan pernapasan, dia juga menyinggung potensi peningkatan kasus penyakit kulit dan autoimun. Menurutnya, stres menjadi salah satu pemicu utama gangguan tersebut apabila masyarakat tidak mampu mengelola tekanan informasi dan emosi.
“Padahal sebetulnya nggak ada apa-apa, Indonesia baik-baik aja. Karena terlalu percaya pada (konten di) Tiktok, IG, orang-orang jadi stres sendiri,” tuturnya.
Di sisi lain, dia melihat adanya perubahan perilaku masyarakat dalam memilih pengobatan. Menurutnya, minat terhadap obat berbasis herbal berpotensi meningkat, sementara kepercayaan terhadap produk farmasi besar cenderung menurun secara global.
“Obat-obatan yang sekarang Big Pharma, otu akan terjadi penurunan penjualan, karena mereka akan lebih mencari yang berbasis alami. Herbal itu,” sebutnya.
Kendati demikian, Yorita juga menyinggung potensi terobosan teknologi kesehatan, termasuk pengembangan terapi berbasis komputasi canggih untuk penyakit berat seperti kanker.
Selain masyarakat umum, Yorita menyoroti potensi risiko kesehatan yang dapat menyerang para pemimpin di kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara. Beban kerja dan tekanan global dinilai dapat memperbesar risiko apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan kesehatan yang memadai.