Bisnis.com, JAKARTA — Produsen elektronik multinasional asal Taiwan, Foxconn, mengonfirmasi adanya serangan siber yang menyasar sejumlah fasilitas produksinya di wilayah Amerika Utara.
Serangan ini diklaim oleh kelompok peretas ransomware Nitrogen yang menargetkan data sensitif milik sejumlah mitra strategis perusahaan.
Pihak Foxconn menyatakan bahwa gangguan tersebut sempat memengaruhi operasional pabrik, namun kini proses produksi telah mulai kembali normal.
Perusahaan memastikan tim keamanan siber internal telah melakukan mitigasi cepat untuk menjaga kelangsungan produksi dan pengiriman barang kepada pelanggan.
Melansir dari TechCrunch, Kamis (14/5/2026), juru bicara Foxconn mengatakan serangan ini berdampak pada fasilitas di Amerika Utara sejak awal Mei 2026.
"Tim keamanan siber segera mengaktifkan mekanisme respons dan menerapkan berbagai tindakan operasional untuk memastikan kelangsungan produksi," ujar perwakilan tersebut.
Kelompok peretas Nitrogen mengklaim telah mencuri data sebesar 8 terabyte (TB) atau mencakup lebih dari 11 juta dokumen dari jaringan internal Foxconn. Kelompok ini menggunakan metode double-extortion, yakni mengenkripsi sistem sekaligus mencuri data untuk memeras korban dengan ancaman kebocoran informasi.
Data yang dicuri diduga berisi informasi rahasia milik pelanggan besar Foxconn termasuk Apple, Google, Intel, Advanced Micro Devices (AMD), dan Nvidia. Nitrogen telah mempublikasikan beberapa bukti berupa skema produk, panduan teknis, hingga laporan rekening bank pada situs bocoran mereka di dark web.
Nitrogen sendiri merupakan kelompok ransomware yang mulai terdeteksi pada 2023 dengan menggunakan kode dari basis ransomware Conti. Namun, menurut data yang dihimpun peneliti keamanan Coveware, terdapat kesalahan pengodean pada perangkat lunak Nitrogen yang berisiko merusak data korban secara permanen.
Nitrogen sendiri merupakan kelompok ransomware yang mulai terdeteksi pada 2023 dengan menggunakan kode dari basis ransomware Conti. Namun, menurut data yang dihimpun peneliti keamanan Coveware, terdapat kesalahan pengodean pada perangkat lunak Nitrogen yang berisiko merusak data korban secara permanen.
Fasilitas di Mount Pleasant, Wisconsin, Amerika Serikat, dilaporkan menjadi salah satu lokasi yang paling terdampak oleh gangguan jaringan ini. Operasional di pabrik tersebut dilaporkan sempat terhenti selama sekitar satu minggu sebelum akhirnya berhasil dipulihkan secara bertahap.
Meskipun Apple masuk dalam daftar target peretasan, sejumlah analis menilai risiko kebocoran desain produk iPhone saat ini relatif terbatas. Hal ini dikarenakan fasilitas Foxconn di Wisconsin lebih difokuskan pada produksi televisi dan server data ketimbang perangkat seluler.
Namun, dokumen yang bocor diyakini mengandung rincian topologi jaringan terkait proyek infrastruktur server milik AMD, Intel, dan Google. Berkas-berkas tersebut mencakup desain sensor suhu, tata letak papan sirkuit terintegrasi, hingga komponen soket prosesor dari tim teknik listrik Foxconn.
Foxconn tercatat telah beberapa kali menjadi sasaran kelompok ransomware berskala internasional dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok LockBit pernah mengklaim serangan terhadap anak usaha Foxsemicon pada Januari 2024 serta pabrik di Tijuana, Meksiko, pada akhir Mei 2022.
Sebagai informasi, Foxconn merupakan manufaktur elektronik terbesar di dunia dengan pendapatan mencapai lebih dari sekitar Rp4.542 triliun pada tahun fiskal 2025. Perusahaan yang berada di peringkat 28 dalam daftar Fortune Global 500 ini mengelola lebih dari 240 kampus di 24 negara.