Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin menguat menembus level US$71.000 di tengah fluktuasi pasar saham global, seiring investor merespons ketidakpastian pasokan minyak akibat ketegangan yang dipicu konflik Iran.
Mengutip Bloomberg, aset kripto terbesar di dunia itu sempat melonjak hingga 4% menjadi US$71.785 pada Selasa (10/3/2026) sebelum memangkas sebagian penguatannya dan diperdagangkan di kisaran US$70.200.
Penguatan mulai terjadi sejak Senin setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan upaya untuk segera mengakhiri konflik tersebut.
Di saat yang sama, harga minyak melanjutkan pelemahannya setelah para pembuat kebijakan berupaya meyakinkan investor bahwa intervensi kebijakan dapat meredam dampak perang terhadap harga energi.
Chief Market Analyst Alex Kuptsikevich mengatakan Bitcoin mendapat dukungan dari sentimen pasar saham global setelah investor memanfaatkan koreksi harga untuk kembali masuk ke pasar.
“Token ini mendapat dukungan dari pasar saham global, di mana para trader bergegas membeli saat harga turun setelah komentar Trump tentang kemungkinan berakhirnya konflik Iran dalam waktu dekat,” ujar Kuptsikevich dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, para investor kembali masuk ke pasar didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan peluang.
Selain itu, arus dana juga kembali mengalir ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot yang tercatat di Amerika Serikat setelah sebelumnya mengalami arus keluar pada akhir pekan lalu. Produk ETF tersebut mencatat arus masuk bersih sekitar US$170 juta pada Senin.
Laporan perusahaan data blockchain Glassnode menyebut kondisi pasar mulai menunjukkan stabilisasi dengan momentum, permintaan ETF, serta indikator profitabilitas yang mengalami perbaikan moderat.
Namun demikian, aliran modal dinilai masih relatif lemah dan partisipasi spekulatif terbatas sehingga keyakinan pasar secara luas belum sepenuhnya pulih.
Sepanjang bulan ini, Bitcoin tercatat mampu mengungguli emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai inflasi. Setelah sempat melemah saat pemboman dimulai, Bitcoin justru naik sekitar 7% sepanjang bulan ini, sementara harga emas turun sekitar 2%.
Head of Research Pratik Kala mengatakan level US$68.000 menjadi area dukungan kuat bagi Bitcoin sejak konflik dimulai.
“Pergerakan Bitcoin sangat kuat sejak perang dimulai, dengan area US$68.000 menjadi level dukungan yang sangat solid,” ujarnya.
Menurutnya, jika harga mampu menembus level US$73.000, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan menuju US$87.000 sebagai level resistensi utama berikutnya.
Meski demikian, volatilitas Bitcoin pada pekan ini meningkat. Indeks volatilitas tersirat 30 hari aset tersebut tercatat mencapai level tertinggi dalam dua pekan.
Bitcoin juga masih berada lebih dari 40% di bawah puncaknya di atas US$126.000 yang tercapai tahun lalu. Para trader juga masih mencari perlindungan dari potensi penurunan harga melalui pasar opsi, dengan kontrak opsi jual (put) yang diperdagangkan di Deribit terkonsentrasi di level US$60.000.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.