Bisnis.com, JAKARTA — Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga angin sebesar 12,1 gigawatt (GW) hingga 2030. Vietnam dan Filipina diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan, sementara Thailand dan Laos muncul sebagai pasar potensial yang mulai menarik perhatian investor.
Mengutip laporan BloombergNEF, Vietnam dan Filipina pada 2025 diperkirakan menambah kapasitas baru pembangkit listrik tenaga angin sebesar 737 megawatt (MW).
Vietnam mendominasi ekspansi tersebut dengan porsi sekitar 68% dari total penambahan kapasitas tahun ini. Sementara itu, Filipina yang merupakan pasar energi angin terbesar kedua di Asia Tenggara diprediksi kembali mencatatkan pertumbuhan setelah hampir satu dekade perkembangan yang relatif terbatas.
Laos, yang selama ini jarang disorot dalam pengembangan energi angin regional, diproyeksikan menambah kapasitas sebesar 1,5 GW pada 2025. Sekitar 80% dari proyek tersebut telah dikomisikan hingga September.
Adapun seluruh proyek energi angin baru di Laos dirancang untuk mengekspor listrik ke Vietnam, seiring meningkatnya permintaan listrik di negara tersebut yang mendorong investasi energi terbarukan lintas negara.
Dalam periode 2026–2030, Asia Tenggara diperkirakan akan memasang energi angin baru dengan total kapasitas sebesar 12,1 GW. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh skema lelang dan tender di Vietnam, Filipina, dan Thailand guna memenuhi target bauran energi terbarukan nasional masing-masing negara.
Dalam jangka 10 tahun ke depan, akumulasi tambahan kapasitas energi angin baru di kawasan ini diproyeksikan lebih dari dua kali lipat dibandingkan kapasitas terpasang hingga 2030, dengan total mencapai 27,2 GW.
Untuk merealisasikan kapasitas yang diperkirakan terpasang dalam lima tahun ke depan, kebutuhan pembiayaan aset diperkirakan mencapai US$19,6 miliar. Kebutuhan pendanaan tersebut meningkat menjadi sekitar US$27,8 miliar untuk proyek-proyek yang dijadwalkan beroperasi pada periode 2031–2035.
Sebagian besar pengembangan pembangkit energi angin hingga 2035 masih akan didominasi proyek darat (onshore) dengan porsi sekitar 77% dari total kapasitas. Selanjutnya diikuti proyek angin pesisir (nearshore), khususnya di Vietnam, yang umumnya dibangun dalam radius hingga 11 kilometer dari garis pantai.
Adapun pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai (offshore) pertama di Asia Tenggara diperkirakan mulai beroperasi pada 2034 di Filipina. Negara tersebut dijadwalkan menggelar lelang perdana proyek energi angin lepas pantai dengan kapasitas 3,3 GW pada 2026. Sejumlah produsen listrik telah menyatakan minat untuk mengembangkan proyek tersebut, termasuk Copenhagen Infrastructure Partners, ACEN Corp., dan Nexif Ratch Energy.