Bisnis.com, ROKAN HILIR-- Fenomena banyaknya padi asal Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang dibawa keluar Provinsi Riau untuk digiling terus menjadi sorotan. Para pengusaha kilang padi setempat mengaku kondisi ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, dan hingga kini belum ada solusi yang nyata.
Salah satu pengusaha kilang padi di Kecamatan Rimba Melintang, Dasun pemilik Sri Marahayu Rice Mill menyebut bahwa ketertinggalan fasilitas dan kapasitas kilang lokal menjadi penyebab utama padi Rohil lebih banyak digiling di luar daerah.
“Padi dari Rohil banyak dibawa ke provinsi tetangga karena alat mereka lebih canggih dan kapasitasnya besar. Setelah digiling di sana, berasnya dijual lagi ke sini dengan harga Rp16.000 sampai Rp17.000 per kilogram,” ungkap Dasun kepada tim Bisnis Indonesia Jelajah Ketahanan Pangan Riau, Kamis (16/10/2025).
Dia menjelaskan, kilang miliknya saat ini hanya mampu mengeringkan sekitar 6 ton gabah dalam 10–15 jam proses kerja. Dengan kapasitas kecil dan mesin yang terbatas, sulit bagi pengusaha lokal untuk menyaingi kilang besar dari luar Riau.
“Kalau mesin kami, masih kecil kapasitasnya. Kami dikontrak Bulog untuk menyerap gabah petani, tapi dari biaya langsir, pengeringan sampai penggilingan, semuanya kami tanggung. Biaya operasional bisa Rp1.000 per kilogram,” terangnya.
Dari perhitungan itu, kata Dasun, margin keuntungan yang didapat juga sangat tipis. Jika kualitas padi bagus, keuntungan hanya sekitar Rp1.000 per kilogram, sedangkan untuk padi dengan kualitas sedang ke bawah, laba bisa turun menjadi Rp500 per kilogram.
“Kalau jual beras Rp14.500 per kilogram itu cuma dapat lelah aja. Baru bisa untung Rp500 kalau jual Rp15.000 per kilogram,” ujarnya.
Kondisi ini semakin diperburuk oleh rendemen beras yang sulit mencapai 50% serta menyusutnya lahan pertanian di wilayah Rohil. Selain jumlah petani yang berkurang, banyak lahan produktif yang kini beralih fungsi.
“Dulu lahan masih luas, gabah banyak. Sekarang lahan makin berkurang dan kilang makin banyak. Jadi bahan bakunya makin susah,” tambahnya.
Dasun berharap pemerintah daerah bisa turun tangan memberikan bantuan peningkatan kapasitas peralatan bagi kilang padi lokal agar padi hasil panen di Rohil tidak terus dibawa ke luar provinsi.
“Kalau alat kami bisa ditingkatkan, kami yakin bisa olah dan jual beras sendiri di sini tanpa harus keluar Riau. Tapi kalau dibiarkan, padi Rohil akan terus keluar dan petani kita juga yang rugi,” pungkasnya.