Bisnis.com, JAKARTA - Harga Bitcoin anjlok hingga menembus level akhir tahun lalu, menghapus seluruh kenaikan sejak awal 2025, seiring meredupnya euforia pasar terhadap sikap pro-kripto pemerintahan Trump dan melemahnya selera risiko global.
Melansir Bloomberg pada Senin (17/11/2025) Bitcoin anjlok menembus US$93.714 pada Minggu (16/11/2025), berada di bawah level penutupan akhir tahun lalu ketika pasar keuangan sempat reli pasca-kemenangan Trump dalam pemilu.
Sementara itu, data Coinmarketcap.com mencatat harga Bitcoin berada di level US$94.198,03 atau turun 1,43% hingga Senin pukul 07.00 WIB
Padahal, Bitcoin sempat mencatat rekor tertinggi baru di level US$126.251 pada 6 Oktober, sebelum terjun empat hari kemudian setelah komentar mengejutkan Trump soal tarif dagang mengguncang pasar global.
“Pasar secara umum berada dalam mode risk-off. Kripto menjadi indikator awal, dan menjadi yang pertama bereaksi," ujar Matthew Hougan, Chief Investment Officer Bitwise Asset Management yang berbasis di San Francisco.
Dalam sebulan terakhir, sejumlah pembeli besar, mulai dari pengelola ETF hingga bendahara korporasi, menahan laju akumulasi, menghilangkan arus dana yang sebelumnya menopang reli Bitcoin. Bersamaan dengan itu, pelemahan saham-saham teknologi turut menekan selera risiko investor.
Sepanjang tahun ini, institusi menjadi penopang utama legitimasi dan reli harga Bitcoin. ETF berbasis kripto tercatat mengumpulkan lebih dari US$25 miliar, mendorong nilai aset kelolaan mendekati US$169 miliar.
Arus dana yang stabil tersebut telah membentuk narasi Bitcoin sebagai diversifikasi portofolio, hedge terhadap inflasi, pelemahan moneter, dan ketidakpastian politik. Namun, narasi itu kembali memudar, memunculkan risiko baru berupa hilangnya partisipasi investor.
Jake Kennis, analis riset senior di Nansen menuturkan, penurunan ini dipicu aksi ambil untung pemegang jangka panjang, arus keluar institusi, ketidakpastian makro, serta likuidasi posisi long ber-leverage. “Yang jelas, pasar sementara ini memilih arah turun setelah periode konsolidasi panjang," katanya.
Salah satu indikasi melemahnya minat beli terlihat dari Strategy Inc., perusahaan perangkat lunak milik Michael Saylor yang dikenal agresif mengoleksi Bitcoin. Nilai saham perusahaan kini mendekati nilai kepemilikan Bitcoin-nya, menandakan investor tidak lagi bersedia membayar premi atas strategi leverage agresif Saylor.
Siklus Naik-Turun Kembali Berulang
Fluktuasi ekstrem bukan hal baru bagi Bitcoin. Pada 2017, aset ini sempat melesat 13.000% sebelum anjlok 75% setahun kemudian.
Hougan menyebut, sentimen investor ritel kripto cukup negatif saat ini. Dia menilai koreksi ini sebagai peluang beli. “Mereka tidak ingin mengalami penurunan 50% lagi, sehingga memilih keluar lebih cepat.”
Sepanjang tahun ini, Bitcoin sempat merosot ke US$74.400 pada April saat Trump mengumumkan tarif baru, sebelum bangkit ke rekor tertinggi dan kembali terkoreksi. Kripto terbesar itu menguasai sekitar 60% dari total nilai pasar kripto global yang mencapai US$3,2 triliun.
Koreksi pasar bahkan lebih dalam pada aset kripto berkapitalisasi kecil yang cenderung lebih volatil. Indeks MarketVector yang melacak 50 aset digital terbawah dalam daftar 100 terbesar merosot sekitar 60% sepanjang tahun.
Chris Newhouse, Director of Research Ergonia, perusahaan yang berfokus pada keuangan terdesentralisasi (DeFi) menuturkan, pasar selalu bergerak naik-turun, dan siklus kripto saat ini bukanlah hal baru.
"Namun, melalui percakapan dengan kolega, grup Telegram, dan forum konferensi, sentimen umum menunjukkan skeptisisme terkait penempatan modal dan ketiadaan katalis bullish alami," katanya.