Djarum Foundation dan Burung Indonesia berkolaborasi untuk konservasi Elang Jawa di Muria, mengatasi ancaman habitat dan perburuan ilegal, serta mendukung penelitian dan rehabilitasi. [551] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Djarum Foundationbersama Burung Indonesia berkolaborasi menjalankan program konservasi raptor, seperti elang jawa (Nisaetus Bartelsi) karena populasinya yang terus menurun.
Kolaborasi keduanya, salah satunya adalah saat pelepasliaran seekor elang jawa Bernama Raja Dirgantara ke alam di Kawasan Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Proses rehabilitasi selama lebih dari setahun yang dilakukan oleh tim Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa (PJPPK) mengembalikan insting berburu dan memastikan kondisinya layak kembali ke hutan. PemasanganGPS transmitterjuga memungkinkan pemantauan pasca pelepasliaran untuk memahami pola adaptasi, jelajah, serta tingkat keberhasilan hidup di habitat alaminya.
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Hartono menegaskan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah dalam menjaga spesies ini. “Dalam konteks upaya konservasi elang jawa, tentunya diperlukan penelitian yang intensif, kesabaran rehabilitasi, serta pemeliharaan habitat yang luas. Sehingga, kolaborasi menjadi kunci memperkuat kapasitas program. Melalui dukungan pada kegiatan studi biodiversitas, kolaborasi dengan lembaga konservasi, dan keterlibatan langsung pada agenda rehabilitasi serta pelepasliaran, kemitraan ini telah menunjukkan bagaimana sektor atau mitra nonpemerintah dapat mendukung peran strategis dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia,” ujarnya.
Elang Jawa merupakan spesies endemik Jawa yang terancam punah (Endangered) menurut IUCN Red List. Spesies ini menjadi inspirasi lambang negara Garuda Indonesia dan indikator kesehatan ekosistem hutan Jawa yang menjadikannya hewan dilindungi undang-undang di Indonesia.
Studi yang dilakukan di Gunung Muria pada Juni-Agustus 2025 di 17 titik pengamatan strategis selama 315 jam berhasil mengidentifikasi sedikitnya 10 individu Elang Jawa yang terdiri dari 6 dewasa dan 4 remaja. Analisis kesesuaian habitat menggunakan metode Maximum Entropy menunjukkan bahwa Gunung Muria memiliki luas habitat sesuai mencapai 58,75 km². Dengan luas home range berkisar 1,45-5,3 km² per pasang, lanskap ini berpotensi menampung hingga 22 individu dewasa Elang Jawa.
Communication Manager Burung Indonesia, Muhammad Meisa menyampaikan bahwa perhitungan konservatif memperkirakan total populasi dapat mencapai 14 individu di seluruh bentang Gunung Muria, terdiri dari 5 pasang dewasa dan 4 remaja.
Namun, daya dukung tersebut terancam oleh degradasi habitat dan tekanan manusia. Survei mengidentifikasi dua ancaman utama, yakni kehilangan kualitas habitat akibat peracunan pohon bertajuk besar dan konversi lahan, serta perburuan dan perdagangan ilegal melalui media sosial.
Riset ini menjadi informasi paling mutakhir mengenai populasi di kawasan yang selama ini minim data, sekaligus menjadi fondasi bagi perencanaan konservasi berbasis lanskap. Upaya ilmiah ini berperan penting untuk memastikan bahwa strategi konservasi tidak hanya bersifat simbolik, tetapi berbasis data jangka panjang.
“Elang jawa bukan hanya bagian dari kekayaan alam, tetapi juga bagian dari inspirasi identitas bangsa. Karena itu, menjaga keberlangsungan hidupnya harus menjadi tanggung jawab bersama. Kami mendukung komitmen pemerintah dalam membangun sistem yang terus tumbuh melalui kolaborasi lintas sektor dan peningkatan keberlanjutan. Inisiatif kolaboratif ini akan menciptakan model yang dapat dipertahankan dan dikembangkan oleh komunitas secara mandiri. Semangat untuk mendorong upaya Konservasi Elang Jawa kini telah berkembang dari program perlindungan keanekaragaman hayati dan habitat menjadi pendekatan konservasi yang lebih luas dan terintegrasi,” ujar Meisa.
Berdasarkan temuan studi, tim peneliti merekomendasikan tiga strategi utama, yakni perlindungan pohon dan lokasi bersarang dengan penetapan zona perlindungan bertingkat, mendorong praktik pertanian berkelanjutan yang mempertahankan tajuk pohon dengan sistemshade-grown coffee, serta restorasi hutan menggunakan pohon lokal seperti Rasamala dan Beunying.
Kegiatan pelepasliaran dan riset Gunung Muria menunjukkan bahwa konservasi Elang Jawa memerlukan sinergi multipihak mulai dari rehabilitasi individual hingga pemulihan lanskap, termasuk riset ilmiah hingga kebijakan berbasis data, serta dari kolaborasi pemerintah hingga keterlibatan masyarakat dan sektor swasta.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56