Bisnis.com, JAKARTA -
Pagi itu Bu Jun (bukan nama sebenarnya) terkejut melihat indeks yang bergerak begitu liar. Sesuatu yang sebenarnya sudah diprediksi selama beberapa waktu oleh berbagai pengamat.
Betapa tidak, hari itu, 28 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,35%. Bahkan sempat turun dalam hingga minus 8%, yang memicu penghentian perdagangan selama setengah jam. Kali ini, pemicunya adalah pembekuan indeks oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Tidak berhenti di situ, hari berikutnya indeks kembali sempat turun drastis lebih dari 8% lagi, sehingga perdagangan dihentikan kembali sebelum memantul, dan berhenti di minus 1,06%.
Kepanikan melanda investor ritel. Ada dana asing keluar dalam jumlah besar dari pasar saham Indonesia. Pembekuan indeks itu terkait dengan transparansi informasi besaran free float saham yang dimiliki oleh pihak institusi nonterafiliasi.
Pada dasarnya, pihak MSCI menduga kemungkinan pergerakan harga saham akibat keterlibatan institusi terafiliasi, dan bukan murni dari investor non-institusi atau ritel.
Sejak awal 2025, IHSG bergerak dalam tren positif. Walaupun sempat mengalami pelemahan cukup dalam pada April hingga 5.967, indeks meningkat dari awal tahun dari 7.163 menjadi 8.646 pada akhir 2025. Pada 20 Januari 2026, indeks menyentuh level tertingginya di 9.174. Nilai perdagangan meningkat hampir setengahnya dari Rp12,8 triliun menjadi Rp18,1 triliun per hari.
Apa yang terjadi di pasar modal pada saat kejatuhan harga saham beberapa waktu lalu tidak menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. Kejatuhan itu disebabkan oleh kepanikan pasar akibat pembekuan indeks MSCI. Selain itu, terdapat risiko penurunan peringkat pasar saham kita dari pasar emerging ke pasar frontier apabila tidak dilakukan pembenahan transparansi sesuai dengan standar MSCI.
Kondisi ekonomi Indonesia secara umum sedang dalam kondisi yang baik. Pertumbuhan uang beredar hampir 8% pada 2025, dibandingkan dengan hanya sekitar 4% pada tahun sebelumnya. Inflasi dijaga pada tingkat yang rendah stabil, yaitu 2,92% dalam sasaran 1,5% hingga 3,5%.
Nilai ekspor terus mengalami peningkatan walaupun di tengah pengenaan tarif Trump. Posisi cadangan devisa US$156,5 miliar atau senilai 6,4 bulan impor, jauh di atas batas 3 bulan impor. Sementara itu, ekonomi Indonesia diestimasi tumbuh sedikit lebih dari 5%, jauh lebih baik daripada kebanyakan negara di Asia.
Persoalan muncul ketika ada emiten yang berkapitalisasi besar, tetapi free floating-nya rendah. Jumlah kepemilikan saham publik yang relatif kecil hanya lebih sedikit dari ambang batas 7,5% ditengarai sangat rentan bagi investor, karena risiko pergerakan harga saham yang tidak wajar.
Perlu dipahami bahwa makin besar kapitalisasi saham dan volume yang diperdagangkan, maka kontribusi saham tersebut juga makin besar terhadap pergerakan indeks keseluruhan. Dalam jangka menengah dan panjang, pergerakan indeks menjadi indikator bagi prospek perkembangan ekonomi. Indeks yang stagnan mengindikasikan prospek ekonomi yang kurang berkembang.
Apa yang terjadi dengan IHSG justru jauh berbeda. Dalam 10 tahun IHSG telah tumbuh 88,3% atau sekitar 6,5% per tahun (BEI Statistic 2025). Bahkan dalam 5 tahun terakhir, IHSG mengalami akselerasi, baik dari kenaikan indeks maupun nilai dan volume perdagangan. Pada 2025, indeks tumbuh lebih dari 22%, dengan nilai dan volume perdagangan tumbuh hampir 50%. Sesuatu yang menakjubkan bagi negara seperti Indonesia.
Sebagai masyarakat umum, koreksi indeks menjadi peluang mulai berinvestasi secara benar. Dua indikator sederhana, yaitu PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price Book Value) yang menunjukkan perbandingan harga dengan pendapatan dan nilai bukunya mengungkapkan hal tersebut.
Dengan tingkat PER dan PBV dari bank-bank besar yang berada minimal 30% di bawah rata-rata 5 tahunnya, maka terbuka peluang untuk naik minimal setengahnya. Ditambah dengan kemungkinan terjadinya “overshooting” ketika harga saham naik, maka kenaikannya dalam jangka menengah bisa mencapai dua kali lipatnya.
Dilihat dari sudut manapun, prospek ekonomi Indonesia ke depan sangat cerah. Di tengah tensi geopolitik yang memanas, kebijakan proteksionisme yang meningkat dan kemungkinan pecahnya perang di beberapa belahan dunia, maka kebijakan perdagangan luar negeri yang hati-hati justru dapat mendatangkan keuntungan besar bagi Indonesia.
Jumlah penduduk yang besar dengan persentase golongan menengah yang makin besar akan menjadi penahan konsumsi yang kuat dan pendorong produksi yang besar. Artinya akan mendorong performa kerja emiten-emiten di Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Mekanisme perdagangan di Bursa memang harus disempurnakan. Kepemilikan asing yang cukup besar di saham-saham utama (bluechips) menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Jika tidak berhati-hati, penurunan peringkat ke frontier market akan memicu arus keluar investasi asing lebih besar lagi di portofolio saham. Artinya, dampak ke penurunan IHSG dapat lebih dalam.
Dengan mekanisme perdagangan dan transparansi yang baik, muncul keyakinan lebih besar bahwa pergerakan harga saham, terutama yang berkapitalisasi besar merupakan gambaran dari performa dan prospek bisnis yang membaik. Itu artinya arus investasi portofolio masuk ke pasar modal akan makin besar. Dalam jangka menengah, itu dapat memberikan amunisi lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.