Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) Kash Patel melakukan kunjungan ke China pada pekan lalu untuk membahas isu perdagangan fentanyl dan kerja sama penegakan hukum.
Kunjungan ini dilakukan setelah pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, di mana keduanya mengklaim telah mencapai konsensus terkait isu fentanyl dan penegakan hukum.
Menurut sumber yang mengetahui perjalanan tersebut, Patel tiba di Beijing pada Jumat (7/11/2025) dan menetap sekitar satu hari. Pada Sabtu (8/11/2025), dia melakukan pembicaraan langsung dengan pejabat China terkait upaya pengawasan dan penindakan terhadap perdagangan ilegal fentanyl.
Kunjungan Patel ini tidak diumumkan secara resmi oleh pihak Amerika Serikat maupun China, dan laporan ini merupakan publikasi pertama yang diungkap oleh Reuters.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan pada Senin (10/11/2025) bahwa pihaknya belum mengetahui kunjungan tersebut. Sementara itu, Kementerian Keamanan Publik China dan Kedutaan Besar AS di Beijing tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Pada hari yang sama, Kementerian Perdagangan China mengumumkan akan melakukan penyesuaian terhadap daftar bahan kimia prekursor narkotika serta menerapkan izin ekspor untuk sejumlah bahan kimia tertentu yang dikirim ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Langkah ini menjadi bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Trump dan Xi bulan lalu. Setelah pertemuan tersebut, Trump mengumumkan pemangkasan tarif barang impor asal China menjadi 10%, atau setengah dari tarif hukuman sebelumnya yang diberlakukan karena maraknya aliran fentanyl ke AS.
Trump mengatakan bahwa Xi berjanji akan bekerja keras menghentikan aliran fentanyl, zat opioid sintetis yang menjadi penyebab utama kematian akibat overdosis di AS.
Pembentukan Kelompok Kerja Baru AS–China
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuturkan bahwa rincian kesepakatan baru itu akan dibahas lebih lanjut melalui kelompok kerja bilateral. Namun, belum diketahui apakah Patel juga membahas mekanisme kerja sama tersebut selama kunjungannya di Beijing.
Kesepakatan ini menandai perubahan sikap pemerintahan Trump, yang sebelumnya menegaskan bahwa sanksi terhadap China akan tetap diberlakukan sampai Beijing benar-benar menindak rantai pasokan fentanyl.
Pejabat China sendiri selama ini membantah tudingan AS, dengan menyatakan telah mengambil berbagai langkah ketat untuk mengatur bahan kimia prekursor fentanyl, dan menuduh Washington menggunakan isu tersebut sebagai bentuk 'pemerasan politik'.
Selain isu fentanyl, kesepakatan Xi–Trump juga mencakup pembelian kembali kedelai asal Amerika Serikat oleh China. Sebagai gantinya, Beijing menyetujui penundaan pembatasan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) yang sebelumnya diumumkan pada Oktober 2025 lalu.
Mineral tanah jarang tersebut merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik hingga perangkat elektronik canggih, dan menjadi salah satu poin strategis dalam hubungan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.