Bisnis.com, JAKARTA – Penikmat karya-karya sastra Indonesia siap semringah. Pasalnya, penulis Eka Kurniawan bakal meluncurkan novel terbarunya, Coreng Hitam. Karya fiksi ini rencananya diterbitkan tahun ini setelah momen Idulfitri.
Coreng Hitam merupakan karya terbaru Eka setelah menelurkan Anjing Mengeong Kucing Menggonggong (AMKM) pada 2024. Novel setebal lebih dari 500 halaman ini sudah dipersiapkan Eka sejak satu dekade silam.
Eka menuturkan karya terbarunya terinspirasi dari pengalaman sehari-hari dan lingkungan sosial anak-anak di Indonesia. “Saya ingin mengeksplorasi bagaimana anak-anak berpikir dan bertindak ketika mereka tidak sepenuhnya diawasi orang tua,” kata Eka.
Proses penulisan Coreng Hitam awalnya bersifat longgar. Eka membandingkan pendekatan ini dengan AMKM, yang juga mengikuti pengalaman anak-anak. “Dengan begitu banyak karakter, saya merasa lebih mudah menyimpan mereka di satu tempat,” ujarnya.
Draft awal Coreng Hitam, paparnya, sudah mulai dibuat sejak 2016. Selama bertahun-tahun, Eka terus menulis sambung-menyambung, kadang lompat-lompat, bahkan berkembang menjadi karya lain, hingga akhirnya mengerucut menjadi naskah yang konsisten.
“Prosesnya memang panjang, kadang dua proyek berjalan bersamaan. Tapi itulah yang membuat naskah ini matang,” kata Eka. Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi tema yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.
Eka menjelaskan, premis novel berangkat dari pertanyaan “what if”. “Bagaimana jika anak-anak memiliki pikiran sendiri yang bisa mempengaruhi sebuah komunitas?” ujarnya. Pertanyaan ini menjadi fondasi cerita sekaligus refleksi sosial.
Dalam Coreng Hitam, karakter anak-anak digambarkan memiliki keingintahuan tinggi dan sifat yang unpredictable. “Mereka tidak terikat oleh aturan orang dewasa, tapi tetap berinteraksi di dunia yang keras dan kompleks,” kata Eka.
Proses kreatif Eka juga melibatkan penyesuaian dengan format visual. Dia mengaku, menulis novel berbeda dengan menulis skrip film. “Kalau nulis film, sejak awal saya sudah membayangkan bagaimana cerita itu ditonton secara visual,” jelasnya.
Meski demikian, Eka menekankan bahwa menulis novel memberinya kebebasan penuh. “Kesulitannya adalah harus menyelesaikan semuanya sendiri, tanpa campur tangan orang lain,” tambahnya. Kebebasan ini memberi ruang bagi kreativitas dan improvisasi cerita.
Novel ini juga disiapkan dengan strategi rilis yang matang. Pre-order dan bonus khusus untuk pembaca sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Eka berharap karya ini dibaca banyak orang dan bisa diterima di pasar sastra modern.