Bisnis.com, JAKARTA – PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) memasuki 2026 dengan strategi ekspansi agresif. Emiten eksportir sarang burung walet ini menyiapkan enam pasar ekspor yang akan digarap tahun depan, seiring peningkatan utilitas pabrik dan tambahan modal kerja dari hasil penawaran umum perdana saham (IPO).
Direktur Keuangan Abadi Lestari Indonesia Dwiadi Prastian Hadi menerangkan bahwa keyakinan tersebut didorong oleh ekspektasi peningkatan utilitas pabrik setelah perseroan memperoleh dana segar dari aksi penawaran umum perdana saham.
“Kalau utilisasi saat ini memang belum sampai 50%. Diharapkan nanti dengan adanya penambahan dana IPO ini kami bisa meningkatkan produksi di atas 60%,” katanya, Senin (8/12/2025).
Memasuki tahun Kuda Api 2026, RLCO cukup percaya diri membukukan pertumbuhan pendapatan hingga double digit. Perseroan bahkan menargetkan omzet mencapai Rp600 miliar pada tahun mendatang.
Ekspektasi pertumbuhan juga masih diincar pada tahun ini. RLCO berharap dapat membukukan laba bersih sekitar Rp35 miliar per akhir 2025, atau berpotensi meningkat 49,06% YoY dari posisi Rp23,48 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Optimisme RLCO turut ditopang oleh rencana ekspansi ke sejumlah pasar baru di luar negeri. Pada 2026, perseroan akan mengeksplor empat negara tambahan: Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, dan Filipina. Ekspor ke Thailand direncanakan pada kuartal II/2026 dan ke AS pada kuartal IV/2026, sementara pasar Vietnam telah mulai dieksplor sejak kuartal IV/2025.
Kontribusi pasar ekspor diharapkan mencapai 80% terhadap pendapatan perseroan tahun depan. Dengan demikian, RLCO akan menggarap total enam pasar ekspor pada 2026 melalui lini produk olahan.
Mengacu prospektus, seluruh dana yang dihimpun dari IPO akan digunakan untuk pembelian sarang burung walet sebagai modal kerja. Sebesar 56,33% dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja RLCO, sementara 43,67% lainnya disalurkan kepada PT Realfood Winta Asia (RWA) sebagai penyertaan modal. Saat ini RLCO menggenggam 93,75% saham RWA.
Perusahaan berbasis di Bojonegoro, Jawa Timur, ini berdiri sejak 2014 dan sejak awal fokus pada kegiatan ekspor sarang burung walet. Produk RLCO kini telah menembus pasar China, Hong Kong, dan Amerika Serikat.
Dari sisi operasional, RLCO memiliki kapasitas produksi sarang burung walet mencapai 32 ton per Mei 2025. Selain itu, melalui anak usaha, RLCO juga memiliki kapasitas produksi 5,40 juta unit consumer goods jar, 2,52 juta unit jelly, dan 1,29 juta unit powder.
Portofolio produk perseroan mencakup minuman sarang burung walet, kaldu ayam, suplemen kolagen, hingga nutrisi berbasis protein.
“Perseroan tumbuh dari eksportir sarang burung walet menjadi salah satu pemimpin kesehatan konsumen di Indonesia. Menyelaraskan diri dengan perubahan preferensi konsumen dan kebutuhan kesehatan, perseroan bertransformasi dari ekspor bahan mentah menjadi produsen untuk produk Superfood melalui anak usaha,” kata manajemen dalam prospektusnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.