Bisnis.com, JAKARTA — Pengembangan sumber daya manusia (SDM) mulai menjadi agenda krusial industri kripto nasional, seiring beralihnya pengawasan aset kripto dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta meningkatnya tuntutan tata kelola, kepatuhan, dan perlindungan konsumen.
Dalam konteks tersebut, Triv melalui Triv Foundation bersama MEXC Foundation meluncurkan Program Beasiswa F.I.R.E (Future Innovators in Rising Economy) untuk menyiapkan talenta blockchain dan Web3 yang dinilai masih langka di dalam negeri.
CEO & Founder Triv Gabriel Rey mengatakan tingginya minat mahasiswa mencerminkan adanya kebutuhan yang belum terjawab oleh sistem pendidikan maupun industri.
“Minat mahasiswa jauh melebihi ekspektasi awal. Antusiasme ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kesiapan untuk terlibat lebih dalam di industri blockchain, tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai builder dan innovator,” ujarnya, dikutip Jumat (16/1/2026).
Selama ini, ekosistem kripto Indonesia masih didominasi aktivitas perdagangan ritel. Padahal, dengan berlakunya kerangka regulasi baru di bawah OJK, industri dituntut memiliki kemampuan internal di bidang manajemen risiko, kepatuhan (compliance), tata kelola, hingga pengembangan produk berbasis teknologi.
Beasiswa itu telah menarik ratusan pendaftar dari berbagai perguruan tinggi nasional. Pada tahap awal, delapan mahasiswa terpilih berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan latar belakang teknik, data, hingga ekonomi dan bisnis.
“Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem blockchain semakin diminati lintas disiplin,” kata Gabriel Rey.
Dari sisi industri, kurikulum dirancang dengan pendekatan industry-driven, mencakup fundamental blockchain, use case sektor riil, serta pemahaman aspek regulasi dan best practices yang menjadi prasyarat utama dalam rezim pengawasan baru OJK.
“Sebagai pelaku industri, kami ingin menjembatani akademik dan kebutuhan nyata industri, termasuk pemahaman regulasi, compliance, dan standar profesional,” ujar Gabriel Rey.
Indonesia Country Manager MEXC Foundation Excelsior menilai Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat talenta blockchain di kawasan, tetapi perlu diarahkan agar selaras dengan kebijakan nasional.
“Indonesia memiliki populasi muda yang besar dan adopsi digital yang cepat. Namun, tanpa talenta yang memahami standar global dan regulasi, potensi itu sulit dikonversi menjadi nilai ekonomi,” ujarnya.
Menurut Excelsior, program seperti beasiswa dapat mendukung agenda nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar kripto, tetapi juga produsen teknologi dan SDM yang kompetitif secara global.
“Kami melihat program ini sebagai inisiatif jangka panjang. Jika berhasil, cakupannya bisa diperluas untuk mendukung ekosistem yang lebih matang dan berkelanjutan,” tutupnya.
Ke depan, penguatan SDM dinilai akan menjadi faktor penentu keberhasilan industri kripto nasional, terutama dalam menghadapi fase baru pengawasan OJK, pengetatan standar operasional, serta dorongan pemerintah agar aset kripto berkontribusi nyata pada ekonomi nasional, bukan sekadar instrumen spekulatif.